Festival Bedhayan VI Hadirkan 16 Kelompok Tari, Tradisi Bedhaya dan Karaton Surakarta Bertemu di Jakarta

Minggu, 09 Agustus 2026 | 01:03 WIB
GKR Wandansari Koes Moertiyah dan GKR Ayu Koes Indriyah bersama keluarga Paku Buwono XII hadir dalam Festival Bedhayan VI di Gedung Kesenian Jakarta Sabtu 8 Agustus 2026 yang menghadirkan 16 kelompok tari dari berbagai daerah Indonesia
GKR Wandansari Koes Moertiyah dan GKR Ayu Koes Indriyah bersama keluarga Paku Buwono XII hadir dalam Festival Bedhayan VI di Gedung Kesenian Jakarta Sabtu 8 Agustus 2026 yang menghadirkan 16 kelompok tari dari berbagai daerah Indonesia (Foto: GKR Ayu Koes Indriyah)

 

JAKARTA, RIWARA.id – Seni tradisi Nusantara kembali mendapat ruang di tengah kehidupan modern. Sebanyak 16 kelompok tari dari berbagai daerah di Indonesia tampil dalam Festival Bedhayan VI yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).

Memasuki tahun keenam penyelenggaraannya, Festival Bedhayan VI mengangkat tema “Memayu Hayuning Bawana”. Tema tersebut membawa pesan tentang harmoni, keseimbangan, dan upaya menjaga kehidupan agar tetap selaras.

Festival ini diselenggarakan oleh Laskar Indonesia Pusaka, Jaya Suprana School of Performing Arts, dan Yayasan Swargaloka.

Tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan, Festival Bedhayan VI dirancang sebagai ruang untuk memperkenalkan sekaligus menjaga keberlanjutan seni tari tradisi Indonesia, khususnya Bedhaya, kepada masyarakat luas dan generasi muda.

Ketua Umum Festival Bedhayan, Kanjeng Raden Ayu Aylawati Sarwono, mengatakan Bedhaya tida k hanya mengandalkan keindahan gerakan.

Setiap gerakan, menurut Aylawati, harus dilakukan dengan keselarasan antara musik, napas, konsentrasi, dan penghayatan penari.

“Pesan yang ingin kita sampaikan bahwa tari Bedhaya ini merupakan sebuah tarian yang sangat-sangat dapat memberikan ketenangan batin, baik dari musiknya maupun gerakannya. Mulai dari tarikan napasnya, semuanya itu harus selaras,” ujar Aylawati.

Bedhaya sebagai Ruang Menemukan Ketenangan

Aylawati menilai nilai yang terkandung dalam Bedhaya semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat yang bergerak semakin cepat.

Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang dipenuhi berbagai aktivitas dan arus informasi. Karena itu, seni tradisi dapat menjadi salah satu ruang untuk kembali membangun keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan jiwa.

Ia bahkan membandingkan nilai tersebut dengan sejumlah praktik tradisional dari negara lain yang selama ini dikenal sebagai sarana untuk mencapai ketenangan.

“Tidak kalah indah dan bisa memberikan keseimbangan mind, body and soul. Tidak kalah dengan yoga dari India atau taiji dari China, karena kita punya Bedhaya dari Indonesia,” tuturnya.

Menurut Aylawati, belajar Bedhaya juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan seperti kelembutan, kesabaran, keseimbangan, dan kepasrahan.

Karena itu, ia mengajak generasi muda yang merasa jenuh dengan kehidupan modern untuk tidak selalu mencari ketenangan dengan bepergian jauh.

“Kalau mau healing, karena kalian sudah jenuh dengan riuh rendah dunia ini, enggak usah pergi jauh-jauh ke m ana-mana. Cari sanggar-sanggar tari di sekitar tempat tinggal kalian,” katanya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari seni tradisi secara langsung.

“Belajarlah tari Bedhaya yang sangat lembut dan sangat mengajarkan kita untuk pasrah, mengajarkan kita untuk seimbang, mengajarkan kita untuk sabar,” ujar Aylawati.

16 Kelompok Tari Tampil dalam Dua Sesi

Festival Bedhayan VI menghadirkan 16 kelompok tari dari berbagai daerah dalam dua sesi pertunjukan.

Sejumlah karya yang ditampilkan antara lain Bedhayan Arum Dalu oleh Jaya Suprana School of Performing Arts, Bedhaya Brama Astra oleh Satria Buwana, Bedhayan Ura-Ura oleh Cunduk Andum, Bedhayan Dewi Sri oleh Wulangreh Omah Budaya, serta Bedhaya Nawagraha oleh Paguyuban Adi Yuswa Abaksa.

Festival ini juga menghadirkan kelompok penari profesional dari Solo sebagai pertunjukan penutup.

Aylawati menyebut kehadiran para penari tersebut menjadi salah satu keistimewaan Festival Bedhayan VI.

“Festival Bedhayan yang ke-6 kali ini kita mendapat kehormatan ada tamu, para maestra dari Solo. Mereka laki-laki semua, satu grup, dan akan tampil sebagai penutupan nanti,” ujar Aylawati.

Kehadiran seniman profesional dari Solo sekaligus menunjukkan bahwa seni tari tradisi memiliki ruang untuk terus berkembang dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Gusti Moeng Hadir sebagai Pengamat

Salah satu perhatian dalam Festival Bedhayan VI adalah keterlibatan sejumlah tokoh dan maestro seni tari Indonesia sebagai pengamat.

Mereka antara lain Theodora Retno Maruti, GKR Wandansari Koes Moertiyah, KP Sulistyo S. Tirtokusumo, Wahyu Santoso Prabowo, dan Dr. Sal Murgiyanto.

Khusus GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, kehadirannya memiliki arti tersendiri bagi kesinambungan tradisi tari yang bersumber dari lingkungan Karaton Surakarta.

Gusti Moeng merupakan Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam pelestarian seni budaya serta tradisi tari yang berkembang di lingkungan Karaton Surakarta.

Keterlibatan Gusti Moeng sebagai pengamat mempertemukan pengetahuan tradisi keraton dengan perkembangan seni tari yang dipentaskan dalam Festival Bedhayan VI.

Hal tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pengetahuan, terutama agar seni tradisi tidak hanya dipertahankan bentuk luarnya, tetapi juga dipahami nilai, filosofi, pakem, dan konteks budayanya.

 

Baca juga: Tahukah Kamu? Ternyata Minyak Sawit Merah Mengandung Vitamin A Jauh Lebih Tinggi Dibanding Wortel, Ini Manfaatnya untuk Ibu Hamil

 

 

GKR Ayu Koes Indriyah dan Keluarga PB XII Turut Hadir

Nuansa Karaton Surakarta semakin terasa dengan kehadiran GKR Ayu Koes Indriyah, putri Paku Buwono XII, bersama sejumlah cucu Paku Buwono XII.

Kehadiran keluarga Paku Buwono XII dalam Festival Bedhayan VI memperlihatkan perhatian keluarga keraton terhadap keberlangsungan seni tradisi yang menjadi bagian penting dari kebudayaan Jawa.

Pertemuan antara para seniman, maestro tari, budayawan, serta keluarga keraton dalam satu ruang pertunjukan juga menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya membutuhkan kesinambungan lintas generasi.

Tradisi tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu. Tradisi perlu terus dipelajari, dipentaskan, didiskusikan, dan diwariskan agar tetap hidup.

Dari Festival yang Sepi hingga Semakin Mendapat Dukungan

Aylawati juga mengenang perjalanan Festival Bedhayan sejak pertama kali diselenggarakan.

Ia mengatakan, pada awal penyelenggaraan, festival tersebut belum mendapatkan perhatian dan dukungan sebesar sekarang.

“Saya sangat bersyukur sejak Festival Bedhayan pertama yang saya laksanakan, yang dulunya sangat sunyi senyap, saya seperti berjalan sendiri di jalan yang sunyi,” kisahnya.

Namun, situasi tersebut perlahan berubah.

“Sekarang sudah mulai hiruk-pikuk, banyak yang ikut, banyak yang support, banyak yang peduli. Itu membuat saya bahagia,” ujarnya.

Menurut Aylawati, perkembangan tersebut menjadi tanda bahwa kepedulian terhadap seni tradisi Indonesia semakin tum bu h.

Festival Bedhayan pun diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi ruang pembelajaran dan regenerasi seniman.

Memayu Hayuning Bawana

Festival Bedhayan VI 2026 menampilkan tari tradisi dan para seniman budaya di Gedung Kesenian Jakarta
Festival Bedhayan VI 2026 menampilkan tari tradisi dan para seniman budaya di Gedung Kesenian Jakarta (Foto: Tangkap layar instaram @laskarindonesiapusaka, GKR Ayu Koes Indriyah)

 

Tema “Memayu Hayuning Bawana” menjadi ruh Festival Bedhayan VI.

Dalam konteks festival, tema tersebut membawa pesan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan dan hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya.

Nilai tersebut memiliki keterkaitan dengan karakter tari Bedhaya yang menuntut pengendalian gerak, konsentrasi, pengaturan napas, serta keselarasan dengan iringan musik.

Karena itu, Bedhaya tidak semata-mata dapat dilihat sebagai rangkaian gerakan tari. Di dalamnya terdapat proses penghayatan yang membutuhkan ketekunan da n k edis iplinan.

Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika seni tradisi berhadapan dengan perubahan zaman yang berlangsung cepat.

Festival Bedhayan VI berusaha menunjukkan bahwa seni tradisi bukan sesuatu yang harus ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu.

Sebaliknya, tradisi dapat terus berkembang selama generasi baru diberi kesempatan untuk mengenal dan mempelajarinya.

Fadli Zon: Warisan Budaya Harus Dijaga

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut penyelenggaraan Festival Bedhayan sebagai salah satu perhelatan yang memiliki nilai penting bagi pelestarian kebudayaan nasional.

Menurut Fadli, Festival Bedhayan bukan hanya pertunjukan rutin, tetapi juga perayaan terhadap warisan seni budaya Nusantara.

“Festival Bedhayan merupakan perhelatan rutin sekaligus perayaan luhur warisan seni budaya Nusantara yang mengandung makna mendalam, nilai-nilai spiritual, serta filosofi kehidupan yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ujar Fadli.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya regenerasi dalam pelestarian kebudayaan.

Seni tradisi akan terus hidup apabila terdapat generasi yang bersedia mengenal, mempelajari, dan mengembangkan warisan tersebut.

Seni Tari, UMKM dan Wastra

Festival Bedhayan VI juga tidak hanya menghadirkan pertunjukan tari.

Pengunjung dapat menikmati kehadiran pasar UMKM yang menghadirkan berbagai produk kuliner dan wastra.

Sejumlah pelaku usaha dan produk budaya turut hadir, antara lain Karisae by Mie Ayam Gondangdia, Pawon Omah Wulangreh, Altamagi, Batik Nitik Wundri, Cinta Batik Indonesia, dan Klambine Bu Broto.

Kehadiran UMKM dan wastra memperluas ruang interaksi budaya dalam festival. Seni pertunjukan bertemu dengan produk kreatif, kuliner, dan industri budaya yang tumbuh di tengah masyarakat.

Dengan demikian, Festival Bedhayan VI juga menjadi bagian dari ekosistem kebudayaan yang lebih luas.

Menjaga Tradisi agar Tetap Hidup

Festival Bedhayan VI pada akhirnya membawa pesan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tentang mempertahankan sesuatu yang berasal dari masa lalu.

Pelestarian juga berarti memastikan pengetahuan tersebut tetap memiliki ruang untuk hidup pada masa kini dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kehadiran 16 kelompok tari, para maestro sebagai pengamat, seniman profesional dari Solo, serta GKR Ayu Koes Indriyah bersama keluarga Paku Buwono XII menunjukkan adanya pertemuan berbagai generasi dan latar belakang dalam satu ruang kebudayaan.

Di tengah perubahan zaman, pertemuan tersebut menjadi penting untuk menjaga kesinambungan seni tradisi Indonesia.

Aylawati berharap semakin banyak anak muda yang berani mendekati seni tradisi dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Saya yakin kalian akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan dalam belajar tarian ini,” pungkasnya.

Melalui tema “Memayu Hayuning Bawana”, Festival Bedhayan VI tidak hanya membawa tari tradisi ke atas panggung Gedung Kesenian Jakarta, tetapi juga mengh idupkan kembali pesan tentang harmoni, kesabaran, keseimbangan, dan pentingnya merawat warisan budaya Indonesia.*

 

 

Festival Bedhayan VI digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu 8 Agustus 2026, menghadirkan 16 kelompok tari. GKR Wandansari Koes Moertiyah dan GKR Ayu Koes Indriyah turut hadir dalam festival bertema Memayu Hayuning Bawana.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories