JAKARTA, RIWARA.id — Hotel Des Indes pernah menjadi salah satu hotel paling bergengsi di Batavia. Bermula dari Hotel de Provence pada 1829, bangunan di kawasan Gajah Mada ini melewati zaman kolonial, pendudukan Jepang, kemerdekaan Indonesia, hingga menjadi lokasi Perundingan Roem-Royen pada 1949. Setelah diruntuhkan pada 1971, jejaknya berganti menjadi Duta Merlin. Kini, Duta Merlin pun telah memasuki babak terakhir seiring perubahan besar kawasan Harmoni.
Jauh sebelum kawasan Harmoni dikenal sebagai salah satu simpul transportasi Jakarta, Jalan Gajah Mada pernah menjadi lokasi sebuah hotel yang namanya begitu dikenal di Batavia: Hotel Des Indes.
Bangunan itu kini sudah tidak ada.
Namun sejarahnya membentang hampir satu setengah abad, bahkan jika dihitung sejak bangunan yang kemudian menjadi Hotel Des Indes pertama kali difungsikan sebagai hotel pada 1829.
Hotel tersebut bukan hanya dikenal karena kemewahan dan fasilitasnya. Dalam perjalanan sejarahnya, Hotel Des Indes bersinggungan dengan sejumlah peristiwa penting Indonesia.
Sejumlah anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tercatat menginap di hotel tersebut menjelang Proklamasi Kemerdekaan pada Agustus 1945. Hotel Des Indes juga menjadi tempat berlangsungnya Perundingan Roem-Royen pada 1949.
Namun, bangunan yang melewati masa kolonial, pendudukan Jepang, dan awal Republik Indonesia itu akhirnya diruntuhkan pada 1971.
Beberapa tahun kemudian, di kawasan bekas lahannya berdiri Duta Merlin, pusat perbelanjaan yang ikut menjadi bagian dari perkembangan budaya ritel Jakarta.
Kini, setelah Duta Merlin juga memasuki fase pembongkaran dalam perubahan besar kawasan Harmoni, cerita tentang lokasi tersebut kembali menarik perhatian.
Satu lahan ternyata telah menjadi saksi beberapa wajah Jakarta: kota kolonial, ibu kota republik, kota konsumsi, hingga kota transportasi massal.
Hotel de Provence, awal perjalanan pada 1829
Sejarah Hotel Des Indes bermula pada 1829.
Saat itu, Antoine Surleon Chaulan membeli sebuah properti yang sebelumnya digunakan sebagai sekolah khusus putri. Properti tersebut kemudian diubah menjadi hotel dengan nama Hotel de Provence, mengambil nama daerah asal Chaulan di Prancis.
Dari sinilah perjalanan panjang bangunan tersebut dimulai.
Pada 1845, hotel berpindah tangan kepada saudara Antoine, Etienne Chaulan, melalui lelang dengan harga 25.000 gulden Belanda.
Pada masa berikutnya, hotel mulai dikenal sebagai salah satu tempat penginapan penting di Batavia.
Perubahan nama kembali terjadi pada 1851. Setelah dibeli Cornelis Denninghoff, hotel tersebut berganti nama menjadi Hotel Rotterdam.
Nama itu tidak bertahan lama.
Pada 1852, hotel kemudian berpindah kepada pengusaha asal Swiss, François Auguste Émile Wijss.
Empat tahun kemudian, lahirlah nama yang kemudian menjadi identitas paling terkenal dari bangunan tersebut.
Hotel Des Indes.
Menurut sejarah yang dipublikasikan Hotel Des Indes, nama tersebut mulai digunakan pada 1856, antara lain atas dorongan Eduard Douwes Dekker, atau Multatuli, yang dikenal sebagai sahabat sekaligus tamu hotel.
Sejak saat itu, Hotel Des Indes berkembang menjadi salah satu hotel bergengsi di Batavia.
Ketika es batu menjadi kemewahan
Ada satu cerita menarik dari masa awal Hotel Des Indes yang menunjukkan betapa berbeda kehidupan Batavia pada abad ke-19 dibandingkan Jakarta sekarang.
Es batu.
Hari ini es batu dapat ditemukan hampir di setiap rumah, restoran, minimarket, atau kedai minuman.
Namun pada pertengahan abad ke-19, es merupakan barang mewah di wilayah tropis.
Menurut sejarah Hotel Des Indes, pada 1846 sebuah kapal Amerika membawa kiriman es ke Indonesia. Pada Malam Natal tahun tersebut, Hotel Des Indes disebut menjadi hotel pertama di Indonesia yang menyajikan es batu dan minuman dingin kepada para tamunya.
Es kemudian menjadi bagian dari pengalaman mewah yang ditawarkan hotel.
Hotel Des Indes juga dikenal dengan sajian kuliner dan gaya pelayanan yang mencerminkan kehidupan elite Batavia.
Salah satu tradisi yang melekat dengan hotel-hotel mewah kolonial adalah rijsttafel, jamuan makan yang menghadirkan beragam hidangan dengan pelayanan yang dilakukan secara teratur oleh banyak pelayan.
Ruang makan Hotel Des Indes yang terekam dalam foto-foto lama memperlihatkan suasana tersebut.
Meja-meja ditata dengan rapi, pelayan bergerak di antara tamu, sementara ruang makan dirancang untuk memberikan pengalaman sosial sekaligus kuliner.
Bagi masyarakat masa kini, foto tersebut mungkin terlihat seperti dokumentasi interior biasa.
Namun bagi sejarah Jakarta, gambar itu memperlihatkan bagaimana gaya hidup elite Batavia pernah berlangsung di sebuah bangunan yang kini telah hilang.
Dari hotel kolonial menuju hari-hari menjelang Proklamasi
Perjalanan Hotel Des Indes tidak berhenti pada masa kolonial Belanda.
Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda, hotel tersebut berganti nama menjadi Miyako Hotel.
Situasi berubah drastis.
Perang membuat kehidupan di Batavia berubah, sementara hotel-hotel yang sebelumnya menjadi tempat penginapan dan pergaulan elite ikut terseret ke dalam dinamika politik dan militer.
Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945, Hotel Des Indes kembali muncul dalam rangkaian peristiwa penting.
Sejumlah anggota PPKI diketahui menginap di hotel tersebut.
Namun terdapat satu hal yang penting diluruskan.
Hotel Des Indes bukan tempat perumusan naskah Proklamasi.
Dalam berbagai cerita populer, lokasi-lokasi yang berkaitan dengan persiapan Proklamasi terkadang tercampur.
Catatan mengenai perumusan naskah Proklamasi menunjukkan bahwa rencana pertemuan di Hotel Des Indes tidak dapat dilaksanakan karena adanya aturan jam malam yang diberlakukan pemerintah militer Jepang.
Pertemuan kemudian berpindah ke rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol.
Di rumah tersebut, Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Soebardjo, dan sejumlah tokoh lainnya kemudian merumuskan naskah Proklamasi.
Karena itu, posisi Hotel Des Indes dalam sejarah Proklamasi harus ditempatkan secara tepat.
Hotel tersebut merupakan bagian dari rangkaian peristiwa menjelang Proklamasi, tetapi bukan tempat lahirnya teks Proklamasi.
Justru detail tersebut membuat sejarahnya menarik.
Hotel yang dibangun pada masa kolonial itu ternyata menjadi salah satu tempat persinggahan para tokoh yang berada di tengah situasi genting menjelang lahirnya Republik Indonesia.
1949, Hotel Des Indes menjadi tempat diplomasi
Empat tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hotel Des Indes kembali memasuki halaman penting sejarah nasional.
Kali ini bukan sebagai tempat menginap.
Melainkan sebagai tempat berlangsungnya diplomasi.
Pada 1949, Perundingan Roem-Royen berlangsung di Hotel Des Indes.
Delegasi Indonesia dipimpin Mohammad Roem, sementara delegasi Belanda dipimpin Herman van Roijen.
Perundingan berlangsung dalam situasi politik yang sangat penting bagi Republik Indonesia.
Belanda masih berusaha mempertahankan kepentingannya di Indonesia, sementara Republik Indonesia berjuang mendapatkan pengakuan dan mengembalikan posisi pemerintahan Republik setelah agresi militer Belanda.
Dokumentasi yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) memperlihatkan proses perundingan tersebut berlangsung di Hotel Des Indes. Arsip foto IPPHOS juga menyimpan gambar Mohammad Roem, H. Merle Cochran dari Amerika Serikat, dan van Royen dalam salah satu sesi perundingan.
Perundingan tersebut kemudian menghasilkan Perjanjian Roem-Royen pada 7 Mei 1949.
Dengan demikian, Hotel Des Indes bukan hanya menjadi bagian dari sejarah kehidupan sosial Batavia.
Hotel tersebut juga pernah menjadi salah satu ruang diplomasi yang berhubungan langsung dengan masa depan Republik Indonesia.
Nama Des Indes akhirnya berubah
Setelah Indonesia merdeka, perubahan politik ikut memengaruhi identitas hotel.
Nama Hotel Des Indes akhirnya ditinggalkan dan hotel kemudian dikenal sebagai Hotel Duta Indonesia.
Pergantian nama tersebut terjadi dalam konteks Indonesia yang sedang membangun identitas nasional baru setelah berakhirnya pemerintahan kolonial.
Namun Jakarta juga mengalami perubahan yang semakin cepat.
Pada 1962, pemerintah Indonesia membuka Hotel Indonesia.
Hotel baru tersebut membawa standar fasilitas dan pelayanan yang lebih modern.
Hotel-hotel lama menghadapi tantangan untuk mempertahankan daya saing.
Hotel Duta Indonesia, yang merupakan penerus Hotel Des Indes, perlahan mulai kehilangan posisi sebagai simbol utama kemewahan Jakarta.
Foto tahun 1967 memperlihatkan bangunan hotel tersebut masih berdiri megah di Jalan Gajah Mada.
Pohon-pohon palem berada di depan bangunan.
Mobil melintas di jalan.
Papan nama Hotel Duta Indonesia masih terlihat.
Di bagian depan juga terdapat tanda Bar Restaurant Duta.
Tetapi di balik foto itu, sebuah era sebenarnya sedang menuju akhir.
1971: Hotel Des Indes akhirnya dibongkar
Pada 1971, bangunan Hotel Duta Indonesia diruntuhkan.
Dengan pembongkaran tersebut, berakhir pula perjalanan fisik Hotel Des Indes yang telah berlangsung lebih dari satu abad.
Bangunan yang pernah menjadi Hotel de Provence, Hotel Rotterdam, Hotel Des Indes, dan kemudian Hotel Duta Indonesia tidak lagi menjadi bagian dari lanskap Jakarta.
Menurut catatan sejarah perkotaan yang dihimpun Setiap Gedung Punya Cerita, setelah pembongkaran Hotel Des Indes, kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi kompleks Duta Merlin.
Rencana pembangunan hotel baru sempat muncul, tetapi tidak terwujud.
Jakarta justru memasuki era baru.
Pusat perbelanjaan mulai menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kota.
Duta Merlin menggantikan hotel legendaris
Duta Merlin mulai dibangun pada pertengahan 1970-an dan kemudian hadir sebagai pusat perbelanjaan di kawasan tersebut.
Menurut catatan Setiap Gedung Punya Cerita, pembangunan kompleks Duta Merlin dimulai pada 1974 dan selesai sekitar 1976. Kompleks tersebut dirancang sebagai pusat pertokoan bertingkat dan menempati area bekas Hotel Des Indes.
Perubahan tersebut memperlihatkan transformasi besar Jakarta.
Jika Hotel Des Indes merupakan bagian dari budaya perhotelan dan pergaulan elite, Duta Merlin menjadi bagian dari budaya ritel.
Orang datang untuk berbelanja.
Toko-toko menjadi daya tarik.
Pusat perdagangan menjadi ruang baru bagi masyarakat urban.
Nama Carrefour kemudian juga menjadi salah satu memori yang melekat pada Duta Merlin bagi generasi Jakarta.
Bagi generasi yang lahir jauh setelah Hotel Des Indes dibongkar, Duta Merlin mungkin jauh lebih dikenal.
Mereka tidak mengenal hotel legendaris yang pernah berdiri di tempat yang sama.
Mereka mengenal pusat perbelanjaan.
Di sinilah sejarah perkotaan memperlihatkan satu hal menarik:
sebuah tempat dapat berubah total, sementara lokasi geografisnya tetap sama.
Ketika Duta Merlin juga memasuki babak terakhir
Seperti Hotel Des Indes, Duta Merlin juga akhirnya berhadapan dengan perubahan zaman.
Kawasan Harmoni menjadi bagian dari pembangunan MRT Jakarta Fase 2A.
Pembangunan tersebut membawa perubahan besar terhadap ruang kota di sepanjang koridor Bundaran HI hingga Kota.
Pada tahap pekerjaan CP202, kawasan Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar menjadi bagian dari proyek pembangunan.
MRT Jakarta juga mengumumkan pekerjaan pembongkaran Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Harmoni yang berada di depan Duta Merlin sebagai bagian dari persiapan konstruksi.
Duta Merlin kemudian memasuki fase pembongkaran pada 2023.
Dengan demikian, bangunan yang selama puluhan tahun menggantikan posisi Hotel Des Indes pun akhirnya ikut menghilang dari lanskap Jakarta.
Dari Hotel Des Indes ke Duta Merlin, lalu MRT
Jika perjalanan lokasi tersebut disusun dalam satu garis waktu, perubahan itu terasa luar biasa.
Pada 1829, sebuah hotel bernama Hotel de Provence lahir di Batavia.
Pada 1856, nama Hotel Des Indes mulai digunakan.
Pada masa kolonial, hotel menjadi simbol kemewahan.
Pada 1945, hotel menjadi salah satu tempat persinggahan anggota PPKI dalam rangkaian peristiwa menjelang Proklamasi.
Pada 1949, hotel menjadi tempat berlangsungnya Perundingan Roem-Royen.
Setelah Indonesia merdeka, hotel berubah menjadi Hotel Duta Indonesia.
Pada 1971, bangunannya diruntuhkan.
Beberapa tahun kemudian, Duta Merlin hadir.
Dan setelah puluhan tahun menjadi pusat perdagangan, kawasan tersebut kembali berubah mengikuti kebutuhan Jakarta terhadap transportasi massal.
Dari hotel, menjadi pusat belanja, kemudian menjadi bagian dari kota yang bergerak.
Bukan hanya bangunan yang hilang
Hilangnya Hotel Des Indes dan kemudian Duta Merlin memperlihatkan persoalan yang lebih besar dalam sejarah kota.
Bangunan dapat dibongkar.
Fungsi lahan dapat berubah.
Tetapi lapisan sejarah sebuah kota tidak serta-merta ikut hilang.
Hotel Des Indes meninggalkan foto.
Ia meninggalkan arsip.
Ia meninggalkan catatan perjalanan nama dari Hotel de Provence hingga Hotel Duta Indonesia.
Ia meninggalkan cerita tentang es batu dan rijsttafel.
Ia meninggalkan catatan tentang anggota PPKI yang pernah menginap di sana.
Dan ia meninggalkan dokumentasi Perundingan Roem-Royen.
Bahkan ketika bangunannya sudah tidak ada, arsip tetap memungkinkan generasi sekarang melihat kembali bagaimana kehidupan di tempat tersebut.
Hal serupa berlaku bagi Duta Merlin.
Generasi yang pernah berbelanja di sana memiliki memori sendiri.
Bagi mereka, Duta Merlin bukan Hotel Des Indes.
Tetapi bagi sejarah Jakarta, keduanya tidak dapat dipisahkan.
Satu lahan, hampir dua abad perubahan Jakarta
Kisah Hotel Des Indes dan Duta Merlin sebenarnya bukan sekadar kisah dua bangunan.
Ia adalah kisah tentang perubahan kebutuhan sebuah kota.
Ketika Batavia membutuhkan tempat penginapan bagi para pelancong dan kalangan elite, lahirlah Hotel de Provence.
Ketika kehidupan sosial dan ekonomi berkembang, hotel berubah menjadi Hotel Des Indes dan menjadi salah satu pusat kehidupan elite.
Ketika Indonesia merdeka, identitasnya berubah menjadi Hotel Duta Indonesia.
Ketika Jakarta memasuki era konsumsi modern, Duta Merlin hadir sebagai pusat perbelanjaan.
Dan ketika Jakarta menghadapi persoalan mobilitas, kawasan tersebut kembali berubah mengikuti kebutuhan transportasi massal.
Setiap zaman meninggalkan bangunannya sendiri.
Tetapi setiap bangunan juga meninggalkan cerita.
Jejak yang tersisa dalam arsip
Kini tidak banyak yang dapat dilihat dari Hotel Des Indes secara langsung.
Bangunan utamanya telah lama hilang.
Namun foto-foto lama memperlihatkan wajah hotel tersebut dalam berbagai periode.
Ada foto Hotel Des Indes pada awal abad ke-20.
Ada foto ruang makan yang memperlihatkan suasana jamuan.
Ada foto Hotel Duta Indonesia pada 1967.
Ada pula dokumentasi perundingan politik 1949.
Arsip-arsip tersebut membuat sebuah bangunan yang telah hilang dapat kembali “dihidupkan” secara visual.
Karena itu, ketika foto Hotel Des Indes berwarna kembali beredar di tengah masyarakat, yang muncul bukan hanya nostalgia.
Ada upaya untuk membayangkan kembali Jakarta yang sudah tidak ada.
Warna membuat foto lama terasa lebih dekat.
Namun konteks sejarah tetap menjadi hal yang paling penting.
Sebab di balik bangunan yang indah itu terdapat perjalanan panjang tentang kekuasaan, perdagangan, perubahan sosial, kemerdekaan, diplomasi, dan pembangunan kota.
Jakarta terus berubah, tetapi sejarahnya tetap berlapis
Hari ini, kawasan Gajah Mada dan Harmoni merupakan bagian dari Jakarta yang bergerak cepat.
Kendaraan melintas.
Pembangunan berlangsung.
Transportasi massal berkembang.
Gedung-gedung baru bermunculan.
Tetapi jika sejarah ditarik ke belakang, kawasan itu pernah memiliki wajah yang sangat berbeda.
Ada hotel yang menyajikan es batu ketika es merupakan kemewahan.
Ada ruang makan tempat rijsttafel menjadi bagian dari gaya hidup.
Ada anggota PPKI yang menginap menjelang hari-hari penentuan kemerdekaan.
Ada diplomat Indonesia dan Belanda yang duduk berunding pada 1949.
Kemudian ada pusat perbelanjaan yang menjadi bagian dari memori generasi berikutnya.
Kini, semua itu sebagian besar hanya dapat ditemukan dalam foto, arsip dan cerita.
Namun justru di situlah nilai sejarahnya.
Bangunan boleh hilang, tetapi jejaknya tidak harus ikut lenyap.
Hotel Des Indes mungkin sudah tidak berdiri.
Duta Merlin pun memasuki sejarah.
Tetapi lahan yang sama terus menyimpan lapisan perjalanan Jakarta.
Dari Hotel de Provence pada 1829, menjadi Hotel Des Indes, kemudian Hotel Duta Indonesia, lalu Duta Merlin, hingga memasuki era MRT Jakarta.
Hampir dua abad sejarah kota tersimpan di satu kawasan.
Dan mungkin, ketika Jakarta kembali berubah beberapa tahun dari sekarang, generasi berikutnya akan kembali bertanya:
Apa yang pernah berdiri di tempat ini?
Jawabannya akan selalu membawa kita kembali kepada sebuah hotel tua di Batavia.
Namanya Hotel Des Indes.*
Hotel Des Indes bermula sebagai Hotel de Provence pada 1829. Pernah menjadi hotel elite Batavia, bagian dari rangkaian menjelang Proklamasi dan lokasi Perundingan Roem-Royen sebelum diruntuhkan pada 1971.