Ketika Raja Thailand Bersujud pada Pesona Jawa: Kisah Persahabatan Siam dan Keraton

Jumat, 10 Juli 2026 | 04:06 WIB
Raja Chulalongkorn dan  Pakubuwono X
Raja Chulalongkorn dan Pakubuwono X (Foto: Tropenmuseum)

 

RIWARA.id - Hubungan antara Thailand dan Jawa telah terjalin jauh sebelum kedua negara modern berdiri. Pada masa Hindia Belanda, ketika kerajaan-kerajaan di Jawa tidak lagi memiliki kebebasan menjalin hubungan luar negeri secara resmi, ikatan antarmonarki tetap hidup melalui kunjungan persahabatan dan pertukaran budaya. Kisah inilah yang terukir dalam lawatan Raja Chulalongkorn (Rama V) dan putranya, Raja Prajadhipok (Rama VII), ke tanah Jawa.

Pada tahun 1896, Raja Chulalongkorn melakukan perjalanan panjang ke Jawa. Setelah singgah di Batavia dan wilayah Jawa Barat, beliau tiba di Yogyakarta.

Sultan Hamengkubuwono VII dan Paku Alam V menyambutnya dengan penuh kehormatan. Sang raja disuguhi tari Bedhaya dan Langendriyan, dua mahakarya seni istana yang membuatnya terpukau.

Tidak hanya menikmati kesenian, Raja Chulalongkorn juga mempelajari kemajuan teknis yang ditemuinya. Sistem irigasi pertanian di Yogyakarta menarik perhatiannya. Dengan penuh minat, beliau mencatat berbagai inovasi yang kelak menginspirasi pembangunan di Siam.

Dari Yogyakarta, perjalanan berlanjut ke Surakarta. Pada 5 Juli 1896, Susuhunan Pakubuwono X menyambut tamunya dengan upacara kehormatan yang megah. Raja Siam diajak berkeliling keraton, menyaksikan tari Bedhaya, serta parade prajurit Kasunanan yang tertib dan gagah.

Persahabatan antara kedua raja segera terjalin erat. Pakubuwono X dan Raja Chulalongkorn kerap berbincang mengenai pemerintahan, budaya, dan perkembangan dunia.

 Kedekatan itu semakin terasa ketika keduanya saling bertukar hadiah. Pakubuwono X menghadiahkan pusaka Keris Kiai Mangkurat, sementara Raja Siam kemudian mengirim berbagai cendera mata dari Bangkok.

Lawatan Raja Chulalongkorn juga membawanya ke Pura Mangkunegaran. Di sana, Mangkunegara V memperkenalkan kemajuan yang telah dicapai kadipaten, mulai dari pendidikan rakyat hingga industri gula modern. Sang raja Thailand mengagumi semangat pembaruan yang tumbuh di tanah Jawa.

Kesan mendalam membuat Raja Chulalongkorn kembali berkunjung pada tahun 1901. Kali ini beliau tinggal lebih lama di Surakarta dan semakin akrab dengan Pakubuwono X. Persahabatan kedua penguasa tersebut menjadi simbol hubungan budaya yang melampaui batas politik kolonial.

Lebih dari dua puluh tahun kemudian, putra beliau, Raja Prajadhipok, meneruskan jejak sang ayah. Pada tahun 1929, bersama Permaisuri Rambai Barni, beliau melakukan perjalanan ke Jawa dan Bali.

Selain mengunjungi Borobudur, Prambanan, dan berbagai situs kuno, Raja Prajadhipok juga melawat ke Yogyakarta dan Surakarta.

Di Keraton Surakarta, penyambutan berlangsung istimewa. Untuk menghormati tamu agung dari Siam, para pujangga dan nayaga keraton menciptakan Gending Ladrang Siem, sebuah komposisi yang memadukan rasa musikal Jawa dengan nuansa lagu kebesaran Thailand. Karya ini menjadi lambang persahabatan dua budaya besar Asia Tenggara.

Pakubuwono X dan Raja Chulalongkorn di Surakarta
Pakubuwono X dan Raja Chulalongkorn di Surakarta (Foto: Tropenmuseum)

 

Raja Prajadhipok juga mengunjungi Mangkunegaran dan Pabrik Gula Colomadu, serta menikmati jamuan di Pesanggrahan Pracimaharja di lereng Merapi. Seperti ayahnya, beliau sangat terkesan oleh kekayaan budaya Jawa dan kemegahan tradisi keraton.

Kunjungan para raja Thailand ke Jawa membuktikan bahwa budaya mampu menjadi jembatan persahabatan yang kokoh.

Seni, ilmu pengetahuan, dan sikap saling menghormati telah menyatukan dua bangsa yang berbeda. Hingga kini, kisah tersebut tetap hidup dalam arsip sejarah, gending keraton, dan kenangan akan eratnya persaudaraan antara Thailand dan Jawa.*

 

Lawatan Raja Chulalongkorn dan Raja Prajadhipok ke Jawa pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 menjadi tonggak persahabatan antara Thailand dan keraton-keraton Jawa, sekaligus melahirkan pertukaran budaya yang abadi.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories