SOLO, RIWARA.id – Selama puluhan tahun, pertanyaan mengenai siapa yang akan menggantikan Susuhunan Pakubuwono X menjadi salah satu isu paling hangat di lingkungan Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pergulatan politik di balik suksesi takhta melibatkan keluarga kerajaan, para bangsawan, tokoh-tokoh pergerakan nasional, hingga pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Penantian panjang itu akhirnya berakhir pada 26 April 1939, ketika Pangeran Hangabehi resmi dinobatkan sebagai Susuhunan Pakubuwono XI dalam prosesi Jumenengan Dalem yang berlangsung megah di Keraton Surakarta Hadiningrat.
Peristiwa tersebut bukan sekadar pergantian seorang raja. Penobatan Pakubuwono XI menjadi titik penting yang menandai berakhirnya dinamika panjang perebutan takhta Kasunanan Surakarta sekaligus membuka babak baru menjelang masa-masa paling menentukan dalam sejarah Indonesia.
Lahir dari Keluarga Raja Besar
Pangeran Hangabehi lahir pada 1 Februari 1886 dengan nama Bandara Raden Mas Ontoseno. Ia merupakan putra Susuhunan Pakubuwono X dengan Kanjeng Raden Ayu Mandoyo Retno.
Sejak usia muda, Hangabehi memperoleh pendidikan modern. Ia belajar di Europesche Lagere School (ELS) di Surakarta sebelum melanjutkan pendidikan ke Belanda. Pengalaman tersebut menjadikannya salah satu bangsawan Kasunanan yang memiliki wawasan luas mengenai pemerintahan modern sekaligus tetap memahami tradisi keraton.
Dipercaya Memimpin Dewan Kerajaan
Kepercayaan Pakubuwono X kepada putranya semakin besar ketika pada tahun 1911, Hangabehi diangkat sebagai Pangageng Wedana Tengen.
Ia juga dipercaya memimpin Ratnagari, dewan kerajaan yang memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pemerintahan Kasunanan Surakarta.
Meski demikian, pada masa itu Hangabehi belum dianggap sebagai calon terkuat penerus takhta.
Persaingan dengan Pangeran Kusumoyudo
Di lingkungan keraton, nama Pangeran Kusumoyudo justru lebih banyak disebut sebagai sosok yang layak menjadi penerus Pakubuwono X.
Kusumoyudo dikenal memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, pengalaman birokrasi yang luas, dan mendapat dukungan dari sejumlah kalangan bangsawan.
Namun perkembangan politik di lingkungan Kasunanan Surakarta berubah.
Hangabehi mulai memperoleh dukungan dari kelompok bangsawan yang dekat dengan gagasan kebangsaan serta tokoh-tokoh nasionalis di Surakarta.
Dalam berbagai catatan sejarah, Hangabehi juga dikaitkan dengan lingkungan pergerakan yang berkembang di Solo pada awal abad ke-20. Kedekatannya dengan sejumlah tokoh nasionalis membuat posisinya semakin kuat di mata berbagai kelompok yang menginginkan perubahan.
Akhir Penantian Setelah Wafatnya Pakubuwono X
Wafatnya Susuhunan Pakubuwono X pada awal tahun 1939 membuat perhatian masyarakat tertuju kepada proses suksesi.
Sebagai kerajaan swapraja di bawah pemerintahan Hindia Belanda, pengangkatan seorang Susuhunan tidak hanya menjadi urusan internal keraton, tetapi juga harus melalui mekanisme politik yang melibatkan pemerintah kolonial.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, pilihan akhirnya jatuh kepada Pangeran Hangabehi.
Keputusan tersebut sekaligus mengakhiri berbagai spekulasi mengenai siapa yang akan menduduki takhta Kasunanan Surakarta.
Prosesi Jumenengan yang Berlangsung Megah
Pada 26 April 1939, ribuan masyarakat memadati kawasan Keraton Surakarta.
Prosesi penobatan berlangsung sejak pagi dan dihadiri para tamu kehormatan dari berbagai kerajaan di Nusantara.
Turut hadir Adipati Mangkunegara VII, utusan dari Kasultanan Yogyakarta, perwakilan Kadipaten Pakualaman, para bangsawan dari berbagai daerah, serta pejabat tinggi pemerintah Hindia Belanda.
Kepadatan masyarakat bahkan membuat sejumlah ruas jalan di sekitar keraton dipenuhi warga yang ingin menyaksikan secara langsung penobatan raja baru.
Dilantik Sebagai Putra Mahkota
Sebelum resmi dinobatkan sebagai Susuhunan, Hangabehi terlebih dahulu dilantik sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram.
Dalam prosesi tersebut, pejabat pemerintah kolonial membacakan kontrak politik antara Kasunanan Surakarta dengan Pemerintah Hindia Belanda.
Setelah menyatakan kesediaannya menerima ketentuan yang berlaku, Hangabehi menandatangani dokumen resmi.
Tahapan itu menjadi bagian penting sebelum penobatan dilaksanakan sesuai tata upacara Keraton Surakarta.
Resmi Menjadi Pakubuwono XI
Usai seluruh prosesi selesai, Hangabehi resmi menyandang gelar:
Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XI Senapati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Jumeneng Kaping XI Ing Nagari Surakarta Hadiningrat.
Pembacaan surat penobatan disambut tepuk tangan para tamu undangan, sementara ribuan masyarakat yang berada di luar kompleks keraton menyambut kabar tersebut dengan penuh antusias.
Menuju Manguntur Tangkil
Setelah berganti mengenakan Ageman Keprabon, Pakubuwono XI menuju Manguntur Tangkil di Sitinggil Lor.
Di tempat inilah beliau menyampaikan pidato pertamanya sebagai Susuhunan Kasunanan Surakarta.
Dalam pidato tersebut, Pakubuwono XI mengucapkan terima kasih kepada keluarga kerajaan dan pemerintah kolonial atas kepercayaan yang diberikan.
Ia juga menyampaikan harapan agar pemerintahannya mampu membawa kemajuan bagi masyarakat, termasuk melalui pembangunan jalan, jembatan, serta peningkatan kesejahteraan rakyat.
Permaisuri Ikut Dinobatkan
Rangkaian upacara kemudian dilanjutkan dengan pelantikan permaisuri.
Kanjeng Raden Ayu Kus Safariah resmi menyandang gelar Gusti Kanjeng Ratu Pakubuwono sebagai Garwa Prameswari Kasunanan Surakarta.
Prosesi tersebut menjadi simbol lengkap berdirinya pemerintahan baru di lingkungan Keraton Surakarta.
Kirab Agung yang Menjadi Pusat Perhatian
Puncak acara berlangsung saat Kirab Agung dimulai.
Pakubuwono XI menaiki Kereta Kencana Kyai Garuda Kencana yang ditarik delapan ekor kuda dan dikawal ratusan prajurit keraton.
Sepanjang rute kirab, ribuan masyarakat telah memadati jalan-jalan utama Kota Surakarta.
Suasana berubah menjadi pesta rakyat.
Tabuhan gamelan, iring-iringan prajurit, kereta kencana, serta penghormatan masyarakat menciptakan salah satu prosesi kerajaan paling megah yang pernah diselenggarakan Kasunanan Surakarta pada masa kolonial.
Kota Solo Berpesta
Perayaan jumenengan tidak berhenti pada hari penobatan.
Kasunanan Surakarta menggelar pasar malam, pameran, pertunjukan seni tradisional, hingga berbagai perlombaan di kawasan Alun-alun Lor.
Selama beberapa hari, masyarakat menikmati berbagai hiburan yang menjadi bagian dari perayaan naik takhtanya Pakubuwono XI.
Momentum tersebut semakin memperlihatkan eratnya hubungan antara keraton dan masyarakat Surakarta.
Menjadi Jembatan Menuju Era Kemerdekaan
Masa pemerintahan Pakubuwono XI memang tidak berlangsung lama jika dibandingkan para pendahulunya.
Namun kepemimpinannya berada pada masa yang sangat menentukan.
Beliau memimpin ketika dunia memasuki Perang Dunia II, masa berakhirnya pemerintahan Hindia Belanda, datangnya pendudukan Jepang, hingga periode awal menjelang lahirnya Republik Indonesia.
Di tengah perubahan politik yang begitu besar, Kasunanan Surakarta tetap menjadi salah satu pusat budaya dan kekuatan sosial yang memiliki kedekatan dengan berbagai tokoh pergerakan nasional.
Sejarah yang Masih Dikenang
Lebih dari delapan dekade berlalu, jumenengan Pakubuwono XI tetap dikenang sebagai salah satu prosesi penobatan paling monumental dalam sejarah Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Peristiwa tersebut bukan hanya mengakhiri perdebatan panjang mengenai suksesi takhta, tetapi juga menjadi penanda transisi penting ketika kerajaan memasuki babak baru di tengah perubahan politik nasional yang akhirnya mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.
Bagi masyarakat Surakarta, kisah naik takhtanya Pakubuwono XI bukan sekadar catatan pergantian seorang raja. Ia merupakan bagian dari mozaik sejarah bangsa yang memperlihatkan bagaimana tradisi, politik, dan semangat kebangsaan bertemu dalam satu momentum bersejarah di jantung Kota Solo.*
Jumenengan Susuhunan Pakubuwono XI pada 26 April 1939 menjadi salah satu prosesi penobatan paling megah dalam sejarah Kasunanan Surakarta. Di baliknya tersimpan kisah panjang perebutan takhta, campur tangan pemerintah Hindia Belanda, hingga awal peran Keraton Solo menjelang kemerdekaan Indonesia.