Kalender Jawa 1960 Be Resmi Terbit, Karaton Surakarta Tetapkan 1 Sura Jatuh 17 Juni 2026 dan Kirab Pusaka Digelar Semalam Suntuk

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:47 WIB
Prosesi Kirab Malam 1 Suro 2026
Prosesi Kirab Malam 1 Suro 2026 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

SOLO, RIWARA.id – Karaton Surakarta Hadiningrat resmi menerbitkan Kalender Jawa Tahun 1960 Be yang menjadi pedoman pelaksanaan berbagai upacara adat, tradisi, hingga penanggalan budaya sepanjang tahun. Dalam kalender tersebut ditetapkan bahwa 1 Sura Tahun Jawa 1960 Be jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026, sementara Kirab Pusaka Malam 1 Sura dilaksanakan pada malam Selasa Kliwon, 16 Juni 2026, menuju Rabu, 17 Juni 2026.

Penetapan tersebut menjadi perhatian masyarakat luas karena Malam 1 Sura merupakan salah satu momentum budaya paling sakral dalam tradisi Jawa, khususnya di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat. Setiap tahunnya, ribuan masyarakat dari berbagai daerah datang ke Kota Solo untuk menyaksikan prosesi kirab pusaka yang sarat nilai spiritual, historis, dan filosofi kehidupan.

Kalender yang diterbitkan Karaton Surakarta tersebut memuat penanggalan lengkap dari bulan Sura hingga Besar tahun 1960 Be, termasuk berbagai agenda adat, haul para raja Kasunanan Surakarta, Garebeg, Sekaten, Mahesa Lawung, hingga peringatan hari-hari besar keagamaan dan nasional.

Tahun Baru Jawa yang Sarat Makna

Bagi masyarakat Jawa, pergantian tahun bukan sekadar perubahan angka dalam kalender. Malam 1 Sura diyakini sebagai momentum introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan, serta memperkuat hubungan manusia dengan alam semesta.

Dalam tradisi Karaton Surakarta, bulan Sura memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Bulan ini menjadi awal perjalanan spiritual sekaligus simbol penyucian batin untuk memasuki tahun yang baru.

Karena itu, rangkaian kegiatan Malam 1 Sura selalu diselenggarakan dengan penuh khidmat. Mulai dari doa bersama, tirakatan, wilujengan, hingga Kirab Pusaka yang menjadi puncak acara.

Tidak sedikit masyarakat yang meyakini bahwa Malam 1 Sura merupakan waktu yang tepat untuk melakukan refleksi kehidupan, memperbanyak doa, serta memohon keselamatan bagi diri, keluarga, bangsa, dan negara.

Kirab Pusaka Jadi Puncak Perayaan

Berdasarkan kalender resmi Karaton Surakarta, Kirab Pusaka dilaksanakan pada malam pergantian tahun Jawa atau malam 1 Sura. Prosesi tersebut merupakan tradisi yang telah berlangsung turun-temurun dan menjadi identitas budaya yang melekat kuat dengan Karaton Surakarta.

Kirab Pusaka bukan sekadar arak-arakan benda bersejarah. Dalam pandangan budaya Jawa, pusaka melambangkan nilai luhur, keteladanan, tanggung jawab, serta kesinambungan sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada prosesi ini, berbagai pusaka Karaton diarak mengelilingi kawasan tertentu dengan tata cara yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Tradisi tersebut selalu menarik perhatian masyarakat karena menghadirkan perpaduan antara aspek budaya, sejarah, spiritualitas, dan wisata heritage yang jarang ditemukan di tempat lain.

Ribuan warga biasanya memadati kawasan Baluwarti, Alun-Alun Utara, Gladag, hingga berbagai ruas jalan yang dilalui rombongan kirab.

Bagi sebagian masyarakat, menyaksikan Kirab Pusaka menjadi pengalaman spiritual sekaligus kebanggaan karena dapat menyaksikan secara langsung salah satu warisan budaya adiluhung Jawa yang masih lestari hingga saat ini.

Adeging Nagari Surakarta Hadiningrat Diperingati 17 Sura

Selain Kirab Pusaka, kalender Tahun Jawa 1960 Be juga mencatat sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Kasunanan Surakarta.

Salah satunya adalah peringatan Adeging Nagari Surakarta Hadiningrat yang jatuh pada 17 Sura. Peringatan ini menjadi momentum mengenang berdirinya Keraton Surakarta sebagai pusat pemerintahan, kebudayaan, dan peradaban Jawa yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Nusantara.

Perayaan Adeging Nagari umumnya diisi dengan berbagai kegiatan budaya, doa bersama, dan refleksi sejarah mengenai peran Surakarta dalam membentuk identitas bangsa Indonesia.

Kalender Memuat Agenda Haul Para Raja Kasunanan

Salah satu keistimewaan Kalender Jawa 1960 Be adalah pencantuman jadwal haul atau peringatan wafat para raja Kasunanan Surakarta.

Pada bulan Sura tercatat haul SISKS Pakubuwana X dan SISKS Pakubuwana II.

Sementara pada bulan-bulan berikutnya juga tercantum haul sejumlah raja Kasunanan lainnya, di antaranya:

SISKS Pakubuwana XII.
SISKS Pakubuwana XIII.
SISKS Pakubuwana VIII.
SISKS Pakubuwana VI.
SISKS Pakubuwana IX.
SISKS Pakubuwana VII.
SISKS Pakubuwana IV, III, dan V.

Pencantuman agenda haul tersebut menunjukkan bahwa Karaton Surakarta tidak hanya menjaga tradisi budaya, tetapi juga terus merawat memori sejarah para leluhur yang pernah memimpin Kasunanan Surakarta.

Sekaten dan Garebeg Tetap Menjadi Agenda Besar

Kalender Tahun Jawa 1960 Be juga mencatat pelaksanaan tradisi Sekaten dan Garebeg Mulud yang menjadi salah satu atraksi budaya terbesar di Surakarta.

Sekaten dijadwalkan berlangsung pada bulan Mulud, sedangkan Garebeg Mulud digelar pada tanggal 12 Mulud bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tradisi Sekaten sendiri merupakan warisan dakwah Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad di tanah Jawa. Melalui tradisi ini, nilai-nilai keislaman dipadukan dengan kearifan lokal sehingga melahirkan budaya yang khas dan tetap relevan hingga saat ini.

Selain Garebeg Mulud, kalender juga mencatat Garebeg Pasa pada bulan Syawal dan Garebeg Besar pada bulan Dzulhijjah.

Mahesa Lawung dan Tradisi Sakral Karaton

Agenda penting lain yang tercantum dalam kalender adalah Wilujengan Hajat Dalem Mahesa Lawung yang dilaksanakan pada bulan Bakdamulud atau Robingulakir.

Mahesa Lawung merupakan salah satu tradisi sakral Karaton Surakarta yang memiliki akar sejarah panjang sejak masa Kerajaan Mataram Islam.

Upacara ini mengandung filosofi harmonisasi hubungan manusia dengan alam, penghormatan kepada leluhur, serta doa keselamatan bagi masyarakat dan bangsa.

Karena nilai sejarah dan spiritualnya yang tinggi, Mahesa Lawung selalu menjadi perhatian budayawan, akademisi, maupun masyarakat umum yang ingin memahami lebih dalam warisan budaya Jawa.

Penanggalan Jawa Tetap Relevan di Era Modern

Meskipun masyarakat saat ini lebih banyak menggunakan kalender Masehi dalam aktivitas sehari-hari, keberadaan Kalender Jawa tetap memiliki posisi penting, terutama dalam kehidupan budaya masyarakat Jawa.

Kalender Jawa tidak hanya berfungsi sebagai alat penunjuk waktu, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan mengenai filosofi hidup, pranata mangsa, perhitungan hari baik, siklus budaya, serta tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Melalui penerbitan Kalender Jawa 1960 Be, Karaton Surakarta kembali menegaskan perannya sebagai pusat pelestarian budaya dan penjaga tradisi Jawa yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.

Dokumen tersebut sekaligus menjadi rujukan resmi bagi masyarakat, pemerhati budaya, akademisi, hingga para abdi dalem dalam menjalankan berbagai kegiatan adat sepanjang tahun.

Dengan ditetapkannya 1 Sura 1960 Be pada 17 Juni 2026, masyarakat kini memiliki pedoman resmi untuk mengikuti rangkaian peringatan Tahun Baru Jawa yang menjadi salah satu tradisi budaya terbesar di Indonesia. Puncaknya adalah Kirab Pusaka Malam 1 Sura yang kembali diperkirakan menyedot perhatian ribuan warga dari berbagai daerah dan menjadi momentum penting untuk merawat warisan budaya adiluhung Karaton Surakarta Hadiningrat.*

 

Karaton Surakarta Hadiningrat resmi menetapkan 1 Sura 1960 Be jatuh pada 17 Juni 2026. Kalender Jawa terbaru memuat jadwal Kirab Pusaka, Adeging Nagari Surakarta, Sekaten, Garebeg, Mahesa Lawung, dan haul para raja Kasunanan.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories