RIWARA.id – Prosesi kirab pusaka 1 Sura menyongsong tahun Be 1960 di Keraton Surakarta Selasa (16/6/2026) malam berlangsung lancar, dengan peserta yang melimpah ruah.
Sebanyak 14 pusaka Keraton, dan sekawanan kerbau pusaka keturunan Kiai Slamet dikirab menyusuri jalanan Kota Solo. Barisan pusaka itu diiringi oleh belasan ribu kerabat dan abdi dalem berbusana serba hitam, menjadikan prosesi kirab terasa agung.
Sejak senja, para abdi dalem dari berbagai tempat itu sudah berkumpul di pelataran Sasana Sewaka di dalam Keraton yang penuh sesak. Karena terbatasnya tempat duduk, mereka rela bersila di tanah berpasir menunggu dimulainya prosesi kirab.
Won Poerwono, wartawan senior yang sudah puluhan tahun meliput di Keraton Surakarta menyebutkan komentar, sudah lama sekali tidak ada prosesi 1 Sura dengan peserta sebanyak ini.
“Ini pantas kita syukuri, karena tahun ini memang istimewa. Kemarin tahun Dal, sekarang masuk tahun Be dalam kalender Jawa. Angkanya 1960 yang kalau diurai dalam candrasengkala berbunyi Luhuring Rasa Anggatra Budaya,” imbuh Kanjeng Pangeran Budayaningrat.
Dwija sanggar pawiyatan pambiwara dan pawiyatan tata busana paes penganten Keraton Surakarta itu memaparkan, candrasengkala itu bagai menumbuhkan harapan baik tentang lestarinya budaya Jawa.
“Luhuring rasa, saat kita meninggikan rasa, maka sudah menjadi tugas kita untuk melestarikan budaya Jawa, apa pun situasi dan kondisi di sekeliling kita,” tandasnya.
Dualisme Tahta Paku Buwono
Kirab 1 Sura tahun ini, masih dalam suasana dualisme Paku Buwono yang terjadi sejak wafatnya SISKS Paku Buwono XIII November 2025. Dua putra Sinuhun, KGPH Purboyo dan BRM Hangabehi sama-sama dinobatkan sebagai SISKS Paku Buwono XIV.
Sejak saat itu, kedua kubu sering menggelar prosesi adat secara terpisah, termasuk kirab 1 Sura.
Sehari sebelum pelaksanaan kirab, penanggung jawab Keraton yang ditunjuk pemerintah, KGPH Panembahan Tedjowulan berupaya menyatukan kedua pihak bersama Wali Kota Solo dan pejabat keamanan, namun [ertemuan di Balai Kota Solo itu tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.
Meski demikian, setidaknya kirab tetap berjalan lancar tanpa gangguan. Menjelang prosesi dimulai, kubu Purboyo justru menggelar pengajian haul untuk Paku Buwono X.
Saat itu, Purboyo duduk di depan pintu Gedhong Pusaka, di mana pusaka-pusaka yang akan dikirab tersimpan. Namun, setelah pengajian selesai, dia pun berlalu sehingga prosesi kirab berlanjut tanpa gangguan.
Sekitar pukul 23.45, Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta GKR Koes Moertiyah Wandansari sudah berdiri di ambang pintu utama Keraton, Kori Kamandhungan, menyerahkan pusaka cemeti kepada pawang kerbau Kiai Slamet yang menandai kirab bisa segera dimulai.
Kepada wartawan, Gusti Moeng –demikian publik Solo biasa menyebut namanya, memaparkan tahun ini ada 14 pusaka yang dikirab. Ini sebagai tanda bahwa yang bertahta sekarang adalah SISKS Paku Buwono XIV.
“Seperti biasa, kirab menempuh rute dari dalam keraton ke Gladag, sampai gedung Telkom berbelok ke kanan Jalan Mayor Kusmanto, belok kanan lagi ke Jalan Kapten Mulyadi sampai perempatan Baturono belok ke kanan Jalan Veteran, belok kanan lagi Jalan Yos Sudarso dan kembali ke Keraton melalui Jalan Slamet Riyadi,” paparnya.
Moeng menambahkan, tradisi kirab 1 Sura dimulai sejak Sinuhun PB X, namun saat itu hanya berlangsung dengan mengarak pusaka-pusata di lingkup tembok Baluwarti.
“Keluar Keraton itu baru mulai era ayah saya, PB XII atas saran dari Presiden Soeharto dan berlangsung sampai sekarang,” urainya.
Seperti biasa, ribuan warga masyarakat menyemut di sepanjang rute kirab. Di masa lalu, orang percaya jika mendapat secuil kotoran kerbau bule Kiai Slamet bisa untuk menyuburkan tanah pertanian.
Entah saat ini, namun tradisi ngalap berkah belum seluruhnya habis. Di depan Kori Kamandhungan, terlihat warga berebut janur yang semula digunakan sebagai dekorasi, untuk dibawa pulang. (*)
Kirab Pusaka 1 Sura Keraton Surakarta berlangsung lancar dengan 14 pusaka dan ribuan abdi dalem di tengah situasi dualisme takhta Paku Buwono XIV.