Terbesar Sejak Era PB XII, Kirab Malam 1 Suro PB XIV Diikuti Lebih dari 5.000 Peserta

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:34 WIB
Kirab Pusaka Malam Satu Suro
Kirab Pusaka Malam Satu Suro (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

SOLO, RIWARA.id – Ribuan warga tumpah ruah di kawasan Baluwarti hingga pusat Kota Solo pada Selasa malam (16/6/2026) hingga Rabu dini hari (17/6/2026). Dalam suasana hening yang hanya diterangi ratusan lampu petromaks dan obor tradisional, Sinuhun Paku Buwono XIV memimpin langsung Kirab Pusaka Malam 1 Suro Karaton Surakarta Hadiningrat yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Tidak hanya menjadi momen perdana Kirab Malam 1 Suro setelah penobatan Paku Buwono XIV sebagai raja Karaton Surakarta Hadiningrat pada 13 November 2025, prosesi tahun ini juga mencatat antusiasme luar biasa. Sebanyak 14 pusaka Karaton Surakarta, tiga ekor Kebo Bule keturunan Kiai Slamet, serta lebih dari 5.000 peserta kirab turut ambil bagian dalam prosesi sakral menyambut Tahun Baru Jawa 1960 Be.

Besarnya partisipasi masyarakat membuat sejumlah tokoh Karaton Surakarta menyebut kirab tahun ini sebagai salah satu yang paling ramai sejak era pemerintahan Sinuhun Paku Buwono XII. Sepanjang jalur kirab, warga dari berbagai daerah memadati sisi jalan demi menyaksikan secara langsung pusaka-pusaka keraton yang jarang ditampilkan kepada publik.

PB XIV Pimpin Langsung Kirab Perdana Sebagai Raja

PB XIV Pimpin Langsung Kirab Perdana Sebagai Raja
PB XIV Pimpin Langsung Kirab Perdana Sebagai Raja (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Kirab tahun ini memiliki makna khusus karena dipimpin langsung oleh Paku Buwono XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai BRM Mangkubumi dan kemudian menyandang gelar KGPH Hangabehi sejak tahun 2022, sebelum dinobatkan sebagai Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XIV pada 13 November 2025.

Dari Bangsal Maligi Karaton Surakarta Hadiningrat, PB XIV memimpin jalannya upacara adat yang menjadi salah satu tradisi paling sakral dalam kalender budaya Jawa.

Satu per satu pusaka milik Karaton Surakarta dikeluarkan dari dalam kedhaton untuk mengikuti prosesi kirab. Suasana malam yang syahdu semakin terasa ketika ratusan petromaks dan oncor menyala menerangi halaman karaton.

Masing-masing pusaka diiringi songsong atau payung kebesaran sebagai simbol kehormatan. Para pembawa pusaka merupakan sentana dalem atau keturunan keluarga Karaton Surakarta dari garis keturunan Paku Buwono II hingga Paku Buwono XIII.

Di belakang rombongan pusaka, para abdi dalem berjalan tertib diikuti anggota Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (PAKASA) yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Penyerahan Kanjeng Kiai Pecut Awali Prosesi

Penyerahan Kanjeng Kyai Pecut
Penyerahan Kanjeng Kyai Pecut (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Sebelum kirab dilangsungkan, Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari, menyerahkan Kanjeng Kiai Pecut dari Kori Kamandungan kepada Pengageng Karti Puro.

Penyerahan tersebut menjadi simbol dimulainya kirab sekaligus penugasan kepada pihak yang bertanggung jawab mengawal keturunan Kebo Bule Kiai Slamet selama prosesi berlangsung.

Saat ini jabatan Pengageng Karti Puro diemban oleh KPH Djoyo Adilogo, cucu Sinuhun Paku Buwono XII sekaligus putra almarhumah GKR Galuh Kencana.

Menurut Djoyo Adilogo, sebelumnya jabatan Pengageng Karti Puro pernah diemban oleh BRM Mangkubumi sebelum bergelar KGPH Hangabehi dan kemudian dinobatkan sebagai Paku Buwono XIV.

Pengageng Karti Puro KPH Djoyo Adilogo membawa Pusaka Kanjeng Kiai Pecut
Pengageng Karti Puro KPH Djoyo Adilogo membawa Pusaka Kanjeng Kiai Pecut (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Seiring penobatan tersebut, tugas dan tanggung jawab Pengageng Karti Puro dijalankan oleh dirinya untuk mengoordinasikan berbagai kebutuhan teknis kirab dan pengelolaan Kebo Bule Kiai Slamet.

Tiga Kebo Bule Keturunan Kiai Slamet Jadi Magnet Utama

Kerbau Bule Keturunan Kiai Slamet
Kerbau Bule Keturunan Kiai Slamet

 

Di antara seluruh rangkaian prosesi, keberadaan tiga ekor Kebo Bule keturunan Kiai Slamet kembali menjadi perhatian utama masyarakat.

Ribuan warga tampak antusias menyaksikan kemunculan hewan yang selama ini menjadi simbol khas Kirab Malam 1 Suro Karaton Surakarta Hadiningrat.

Dalam tradisi Karaton Surakarta, Kebo Bule Kiai Slamet dipercaya sebagai simbol kesetiaan, keteguhan, ketenteraman, dan pengingat hubungan harmonis antara manusia dengan alam serta Sang Pencipta.

Sebagai cucuk lampah atau pemimpin kirab, ketiga Kebo Bule tersebut berjalan paling depan mengawali rombongan pusaka yang bergerak perlahan meninggalkan lingkungan karaton.

Menempuh Jalur Bersejarah Kota Solo

Adapun rute kirab dimulai dari Kamandungan Karaton Surakarta menuju Alun-Alun Utara, Gapura Gladag, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi, dan kembali memasuki kawasan karaton melalui Jalan Pakoe Boewono.

Sepanjang perjalanan, suasana tapa bisu dijaga dengan penuh disiplin. Seluruh peserta berjalan tanpa berbicara sebagai simbol introspeksi diri, pengendalian hawa nafsu, dan doa menyambut datangnya Tahun Baru Jawa.

Meski diikuti ribuan peserta, prosesi berlangsung tertib dan khidmat hingga dini hari.

Semoga Keraton Semakin Tentrem

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari
Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Foto: Dok. RIWARA)

 

Usai kirab, Gusti Moeng menyampaikan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro 2026.

"Alhamdulillah, pusaka yang keempat belas sudah masuk. Walaupun sempat grogi, tetapi semuanya berjalan baik. Antusias masyarakat luar biasa untuk mengikuti kirab pusaka malam ini," ujarnya, Rabu (17/6/2026).

Menurut putri Sinuhun Paku Buwono XII tersebut, keberhasilan kirab tidak lepas dari dukungan masyarakat yang terus memberikan doa dan semangat kepada Karaton Surakarta Hadiningrat.

"Kami berharap dari doa masyarakat semuanya, Keraton bisa semakin tentrem. Kami sangat mencintai Keraton dan tidak ingin Keraton hanya menjadi tempat ambisi-ambisi kekuasaan. Terima kasih kepada masyarakat yang telah mendukung dan ikut mendoakan," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa persiapan Kirab Malam 1 Suro dilakukan hampir satu bulan penuh melalui rapat koordinasi bersama sentana dalem, abdi dalem, serta perangkat adat lainnya.

Selain itu, ritual jamasan pusaka juga telah dilakukan sejak pekan sebelumnya.

"Jamasan pusaka memakan waktu beberapa hari karena jumlahnya banyak. Kami juga melakukan berbagai ritual dan doa agar seluruh rangkaian kirab berjalan sukses tanpa halangan," jelasnya.

Luhuring Rasa Hanggatra Budaya

Kanjeng Pangeran Budayaningrat
Kanjeng Pangeran Budayaningrat (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Dwija Sanggar Pawiyatan Pambiwara Karaton Surakarta Hadiningrat, KRMH Budayaningrat, menjelaskan bahwa sengkalan atau tema Tahun Jawa 1960 Be adalah Luhuring Rasa Hanggatra Budaya.

Menurutnya, tema tersebut mengandung pesan agar masyarakat meningkatkan rasa kemanusiaan, memperhalus budi pekerti, serta menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

"Luhuring rasa berarti meninggikan rasa yang baik dalam diri manusia. Dari rasa yang luhur itulah akan lahir budaya yang luhur," jelasnya.

Ia berharap semangat tersebut dapat menjadi pedoman masyarakat dalam menjaga kelestarian budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.

14 Pusaka Sesuai Era Pemerintahan PB XIV

Kirab Pusaka di Keraton Surakarta untuk Perayaan Malam 1 Suro
Kirab Pusaka di Keraton Surakarta untuk Perayaan Malam 1 Suro (Foto: Dok. RIWARA)

 

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan jumlah pusaka yang dikirab tahun ini disesuaikan dengan era pemerintahan PB XIV.

"Pusaka dari kami ada 14 sesuai dengan era PB XIV. Peserta kirab kurang lebih mendekati 5.000 orang," ujarnya.

Menurutnya, tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa tradisi Karaton Surakarta masih memiliki daya tarik dan tempat tersendiri di hati masyarakat.

Terbesar Sejak Era PB XII

Mumlah peserta Kirab Malam 1 Suro mencapai lebih dari 5000 orang
Mumlah peserta Kirab Malam 1 Suro mencapai lebih dari 5000 orang (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Penilaian serupa disampaikan oleh KRMH Saptono Djati yang menyebut Kirab Malam 1 Suro tahun ini sebagai salah satu yang terbesar yang pernah ia saksikan selama puluhan tahun berada di lingkungan karaton.

"Upacara adat kali ini berjalan sangat baik, lancar, dan merupakan yang terbanyak sepanjang sejarah yang pernah saya alami sejak era Sinuhun Paku Buwono XII," ujarnya.

Menurutnya, jumlah peserta yang mencapai lebih dari 5.000 orang menjadi bukti kuat bahwa kecintaan masyarakat terhadap Karaton Surakarta Hadiningrat masih sangat besar.

"Kirab yang dipimpin langsung oleh Sinuhun Paku Buwono XIV malam ini berlangsung tertib, khidmat, dan penuh semangat kebersamaan. Ini menjadi momentum penting untuk menjaga kelestarian budaya Jawa,"

katanya.

Berakhir Dini Hari, Tinggalkan Harapan Baru

KGPH Panembahan Agung Tedjowulan
KGPH Panembahan Agung Tedjowulan (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Kirab Pusaka Malam 1 Suro berakhir sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Seluruh peserta, pusaka, dan rombongan Kebo Bule kembali memasuki lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat dengan tertib.

Pelaksana Pelestarian, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Surakarta, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan sesuai harapan.

"Sudah selesai semuanya. Aman dan berjalan baik. Kita doakan semuanya sesuai dengan harapan dan rencana bersama," katanya.

Saat pusaka terakhir kembali memasuki Kamandungan menjelang dini hari, ribuan warga masih bertahan di sepanjang Baluwarti. Bagi mereka, Kirab Malam 1 Suro bukan sekadar tontonan budaya, melainkan simbol harapan, doa, dan keberlanjutan warisan adiluhung Karaton Surakarta Hadiningrat yang tetap hidup, dicintai, dan dijaga oleh masyarakat di tengah perubahan zaman.*

 

Dipimpin langsung Paku Buwono XIV, Kirab Malam 1 Suro Karaton Surakarta 2026 berlangsung khidmat. Sebanyak 14 pusaka dan tiga Kebo Bule keturunan Kiai Slamet diarak dengan lebih dari 5.000 peserta mengikuti prosesi sakral Tahun Baru Jawa.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories