RIWARA.id – Situasi keamanan di Arab Saudi yang memanas dalam beberapa waktu terakhir sempat menganggu perjalanan para jamaah umrah asal Indonesia. Kondisi ini juga menjadi perhatian bagi pemerintah dalam mempersiapkan pelaksanaan ibadah Haji 2027.
Seperti yang diberitakan, pada 14 September 2026 terjadi serangan rudal dan drone di wilayah selatan Arab Saudi. Lalu, pada 15 September 2026 sempat diterbitkan peringatan potensi bahaya untuk Jeddah, Makkah, dan Taif.
Pada 16 September 2026 Koalisi Saudi menyatakan telah mencegat drone di selatan Makkah, sementara Houthi membantah menargetkan kota suci tersebut. Kemudian, pada 10 Oktober hingga 11 Oktober 2026 terjadi serangan di kawasan Bandara Riyadh yang diikuti dengan gangguan penerbangan.
Dari kejadian tersebut, sekitar 1.500 penerbangan di 3 bandara Arab Saudi yaitu Riyadh, Jeddah, dan Dammam dilaporkan dibatalkan berdasarkan data Flightradar24 pada 12 Oktober 2026. Kondisi tersebut berdampak pada keberangkatan calon jemaah umrah Indonesia.
Salah satu laporan menyebutkan jika ada 53 jemaah umrah asal Makassar yang keberangkatannya tertunda, saat ada pembatalan penerbangan lanjutan dari Kuala Lumpur menuju Madinah.
Dari kondisi tersebut, situasi regional harus dipantau agar persiapan pelaksanaan ibadah Haji 2027 dapat menyesuaikan perkembangan keamanan di Arab Saudi. Dilansir Riwara.id dari akun Instagram @dpr_ri, Senin 19 Oktober 2026, berikut ini beberapa langkah yang perlu diperhatikan pemerintah:
- Pemerintah harus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi dan perwakilan Indonesia di Tanah Suci.
- Informasi terkait keamanan dan penerbangan harus diperbarui secara berkala.
- PIHK atau penyelenggara perjalanan ibadah umrah tidak hanya mengejar jumlah keberangkatan, tetapi juga memastikan pelayanan dan keselamatan jemaah.
- Jemaah memperoleh arahan yang jelas apabila terjadi perubahan jadwal atau rute perjalanan.
Terkait hal itu, DPR RI mendorong upaya deskalasi konflik dan koordinasi intensif agar perjalanan ibadah umrah tetap memperhatikan keselamatan jemaah, serta persiapan pelaksanaan ibadah Haji 2027 dapat berjalan dengan baik.
“Kita berharap berbagai pihak yang terlibat bisa meredakan suasana. Sehingga kita mampu menemukan titik yang saling menguntungkan semua pihak,” ujar Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang.
Syarat Kesehatan Jemaah Lebih Ketat
Di sisi lain, dalam persiapan pelaksanaan ibadah Haji 2027, Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan bahwa syarat kesehatan (istitaah kesehatan) bagi jemaah haji 2027 akan diberlakukan lebih ketat dibandingkan haji 2026.
Pengetatan ini diberlakukan sebagai langkah preventif pemerintah sebelum jemaah melakukan pelunasan biaya haji, sehingga mampu menekan jumlah kematian jemaah di Tanah Suci.
Di samping persiapan jemaah haji, Menhaj juga mengungkapkan informasi terkini tentang situasi penerbangan menuju Arab Saudi. Berdasarkan hasil koordinasi intensif dengan KBRI Riyadh, KJRI Jeddah, dan Kantor Urusan Haji di Jeddah, saat ini rute penerbangan langsung (direct flight) ke Arab Saudi relatif aman.
Meski ada keterlambatan (delay) sekitar satu hingga dua jam pada rute langsung, penerbangan dipastikan tetap beroperasi dan tidak ada pembatalan. Sementara, potensi kendala dalam penerbangan transit, dilaporkan mengalami penundaan cukup lama.
"Saya mengimbau, kalau memilih jadwal penerbangan, lebih baik penerbangan direct (langsung) saja yang masih relatif aman," jelas Menhaj.
Terkait dinamika situasi di Riyadh dalam beberapa waktu terakhir, Menhaj memastikan jika WNI yang kini berada di Arab Saudi dalam kondisi sehat dan selamat. Pihaknya terus menjalin komunikasi dengan berbagai asosiasi biro perjalanan (travel) untuk mendapatkan perkembangan situasi terkini.
Memanasnya kondisi keamanan Arab Saudi menjadi pertimbangan khusus pemerintah dalam persiapan pelaksanaan ibadah Haji 2027. Salah satunya dalam hal penerbangan.