Selat Hormuz Memanas, Jalur 20 Persen Minyak Dunia Terancam

  • Inung R Sulistyo
  • Senin, 09 Maret 2026 | 11:36 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Ilusrasi Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Ketegangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Ilusrasi Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Ketegangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. (Foto: Riwara.id)

RIWARA.id - Ketegangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai berdampak langsung pada jalur energi paling vital di dunia, yakni Selat Hormuz.

Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut merupakan salah satu rute pengiriman energi paling penting di dunia.

Sekitar 20 persen perdagangan minyak global setiap hari melewati jalur ini, menjadikannya titik kunci bagi stabilitas pasokan energi internasional.

 

 

Jalur Energi Paling Vital

Selat Hormuz berada di antara wilayah Iran di utara dan Oman serta Uni Emirat Arab di selatan.

Jalur ini menjadi pintu keluar utama bagi ekspor minyak dari negara-negara produsen besar di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.

Setiap hari, sekitar 17 hingga 20 juta barel minyak dikirim melalui se lat tersebut menuju pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika.

Selain minyak mentah, jalur ini juga menjadi rute utama bagi pengiriman gas alam cair (LNG) dari Qatar, salah satu eksportir LNG terbesar di dunia.

Ketegangan Militer Meningkat

Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz meningkat tajam.

Iran dilaporkan memperkuat kehadiran kapal perang dan sistem pertahanan pesisirnya di kawasan tersebut.

Sementara itu, kapal perang Amerika Serikat juga meningkatkan patroli guna mengamankan jalur pelayaran internasional.

Ketegangan ini memicu kekhawatiran bahwa Iran dapat menutup atau mengganggu jalur tersebut sebagai bagian dari strategi militernya.

Dampak Global Jika Tertutup

Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dampaknya terhadap ekonomi global diperkirakan akan sangat besar.

Gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk dapat menyebabkan lonjakan harga energi secara drastis di pasar internasional.

Negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan akan menjadi yang paling terdampak.

Selain itu, krisis energi juga berpotensi memicu lonjakan inflasi global serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Jalur Alternatif Terbatas

Meski beberapa negara memiliki jalur pipa alternatif untuk menyalurkan minyak tanpa melewati Selat Hormuz, kapasitasnya sangat terbatas.

Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk tetap bergantung pada jalur laut tersebut.

Karena itu, stabilitas Selat Hormuz menjadi faktor krusial bagi keamanan energi global.

Risiko Konflik Regional

Situasi yang semakin memanas juga meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah.

Jika jalur pelayaran internasional terganggu, negara-negara besar kemungkinan akan meningkatkan kehadiran militernya untuk menjaga keamanan pengiriman energi.

Langkah tersebut berpotensi memperbesar risiko konfrontasi langsung antara kekuatan militer di kawasan.

Para analis menilai perkembangan situasi di Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan akan menjadi salah satu faktor penentu arah pasar energi global.*

Konflik Iran dengan AS dan Israel membuat situasi di Selat Hormuz memanas. Jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia kini menghadapi ancaman gangguan serius.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News