Riwara.id – Perang di Timur Tengah masih membara sampai sekarang ditambah penutupan selat Hormuz sampai 25 hari kedepan jelas akan menganggu stabilitas ekonomi global.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur strategis perdagangan global yang menjadi pintu keluar-masuk utama dari kawasan Teluk. Selat tersebut kini ditutup Iran setelah adanya serangan gabungan dari Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, mengatakan namun seberapa besar dampak yang ditimbulkan masih perlu kajian lebih lanjut.
"Berapa persen yang mungkin akan terganggu tentunya perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Namun sebagai gambaran, berikut ekspor dan impor Indonesia dari negara jalur Selat Hormuz, yaitu Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab selama 2025,” ujarnya seperti dikutip Riwara.id dari laman BPS, Selasa, 3 Maret 2026.
Aten g menjelaskan jika dilihat dari sisi impor nonmigas, Indonesia mencatat impor dari Iran sebesar 8,4 juta dollar AS terutama buah-buahan (HS 08) senilai 5,9 juta dollar AS, besi dan baja 0,8 juta dollar AS, serta mesin dan peralatan mekanis (HS 84) sebesar 0,7 juta dollar AS.
Sementara untuk impor dari Uni Emirat Arab (UEA) mencapai 1,4 miliar dollar AS, terdiri atas logam mulia dan perhiasan 511,1 juta dollar AS, aluminium dan barang daripadanya (HS 76) 181,6 juta dollar AS, serta garam, belerang, batu dan semen 24,3 juta dollar AS. Lalu dari sisi ekspor nonmigas,
Indonesia mengekspor ke Iran sebesar 249,1 juta dollar AS, terdiri dari buah-buahan 86,4 juta dollar AS, kendaraan dan bagiannya (HS 87) 34,1 juta dollar AS, serta lemak dan minyak hewan nabati 22 juta dollar AS.
Ekspor ke Oman mencapai 428,8 juta dollar AS, didominasi lemak dan minyak hewan nabati sebesar 227,7 juta dollar AS, kendaraan dan suku cadang 64,2 juta dollar AS, serta mineral (HS 27) 48,1 juta dollar AS.
Adapun ekspor nonmigas ke UEA tercatat paling besar, yakni 4 miliar dollar AS, dengan komoditas utama logam mulia dan perhiasan 183,6 juta dollar AS, lemak dan minyak hewan nabati 510,3 juta dollar AS, serta kendaraan dan suku cadang 363,5 juta dollar AS.
Sebelumnya, Perang antara Israel dan Iran yang pecah pada Sabtu 28 Februari 2026 tak hanya mengancam stabilitas kawasan, tetapi juga berdampak serius terhadap perdagangan energi global. K etegangan ini juga menyoroti peran strategis
Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak dan gas dunia. Secara geografis, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.
Jalur sempit dengan kedalaman kurang dari 60 meter ini dikelilingi sejumlah pulau yang dikuasai Iran, seperti Hormuz, Qeshm, dan Larak. Sejak 1971, Iran memegang kendali atas selat tersebut, meski beberapa pulau lain masih disengketakan dengan Uni Emirat Arab.
Posisi ini membuat Iran memiliki pengaruh besar terhadap lalu lintas energi global. Menurut US Energy Information Administration (EIA), Selat Hormuz merupakan titik perdagangan minyak terpenting di dunia.
Data konsultan energi Kpler mencatat sekitar 14 juta barrel minyak per hari setara sepertiga ekspor minyak mentah dunia melewati selat ini sepanjang 2025. Sekitar separuhnya dikirim ke China
20 persen ekspor gas alam cair (LNG) global, terutama dari Qatar, juga melintasi jalur tersebut. Tak hanya energi, nilai perdagangan non-migas yang melewati kawasan ini juga sangat besar.
Total perdagangan di kawasan Teluk Persia–Selat Hormuz mencapai 1,2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 19.440 triliun, mewakili 20 persen pengiriman kontainer global. ***






Penutupan selat Hormuz mempengaruhi stabilitas ekonomi dunia, ternyata segini jumlah impor migas Indonesia dari Iran