RIWARA.id - Harga emas dunia kembali melemah di tengah meningkatnya tekanan inflasi global yang dipicu lonjakan harga minyak mentah. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang terus memanas juga memperkuat sentimen pasar dan mendorong investor mengambil posisi lebih hati-hati.
Pada perdagangan awal pekan, harga emas batangan turun ke kisaran US$5.150 per ons, setelah mencatat penurunan mingguan pertama dalam lebih dari satu bulan terakhir.
Lonjakan harga energi diperkirakan menjadi faktor utama yang menekan pasar logam mulia. Harga minyak global bahkan disebut berpotensi menembus US$110 per barel seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Konflik yang telah memasuki pekan kedua tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, yang selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Pasar
Situasi geopolitik di kawasan tersebut semakin me manas setelah Teheran memilih pemimpin tertinggi baru di tengah meningkatnya eskalasi konflik. Pemerintah Iran juga dilaporkan terus melakukan serangan di kawasan Teluk Persia.
Di sisi lain, militer Israel disebut telah melakukan serangan terhadap depot bahan bakar di ibu kota Iran. Bahkan, pemerintah Israel juga mengancam akan menargetkan jaringan listrik milik Republik Islam Iran.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi energi global, khususnya minyak mentah yang menjadi komoditas vital bagi ekonomi dunia.
Beberapa produsen minyak utama dilaporkan mulai mengurangi produksi sebagai langkah mitigasi risiko keamanan di wilayah konflik.
Langkah tersebut semakin memperkuat tekanan terhadap harga energi global dan berpotensi memicu inflasi baru di berbagai negara.
Pergerakan Harga Logam Mulia
Berdasarkan data pasar, harga emas spot turun 0,4 persen menjadi US$5.152,54 per ons pada pukul 06.34 pagi waktu Singapura.
Penurunan tidak hanya terjadi pada emas. Beberapa logam mulia lainnya juga ikut melemah.
Harga Perak tercatat turun 1,5 persen menjadi US$83,32 per ons.
Sementara itu, Platinum dan Palladium juga mengalami penurunan harga di pasar global.
Di saat yang sama, nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat sekitar 0,4 persen setelah sebelumnya naik tajam sepanjang pekan lalu. Penguatan dolar biasanya membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan terhadap logam mulia tersebut.
Investor Tunggu Arah Konflik dan Inflasi
Para analis pasar menilai arah harga emas dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik serta dinamika inflasi global.
Jika konflik di Timur Tengah terus meluas dan mengganggu pasokan energi, harga minyak yang melonjak berpotensi memicu inflasi baru di berbagai negara.
Dalam situasi seperti itu, emas biasanya kembali dilirik sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun dalam jangka pendek, penguatan dolar AS dan tekanan inflasi justru membuat harga emas mengalami volatilitas.
Pasar kini menanti perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah serta arah kebijakan ekonomi global yang akan menentukan pergerakan harga komoditas dalam beberapa pekan ke depan.*
Inung R Sulistyo






Harga emas dunia kembali melemah setelah tertekan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak yang diperkirakan menembus US$110 per barel. Kondisi ini diperparah oleh konflik di Timur Tengah yang memasuki pekan kedua, memicu ketidakpastian di pasar global.