RIWARA.ID, SURABAYA - Malam 28 Oktober 1928, sebuah biola berbunyi tegas di sebuah gedung di Batavia. Tidak ada koor besar. Tidak ada panggung megah. Hanya seorang pemuda berkacamata yang berdiri dengan keyakinan penuh. Namun dari ruang itulah, arah sejarah Indonesia berubah.
Pemuda itu adalah Wage Rudolf Supratman.
Di forum Kongres Pemuda II, ia memperdengarkan lagu ciptaannya: “Indonesia Raya”. Lagu itu tidak dinyanyikan terbuka. Liriknya terlalu menggugah untuk rezim kolonial Hindia Belanda. Maka ia memilih biola sebagai alat musik yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan ledakan gagasan kebangsaan.
Malam itu, para pemuda berdiri. Sebagian menahan napas. Sebagian lain merasakan getaran yang sulit dijelaskan. Mereka belum merdeka, tetapi untuk pertama kalinya memiliki lagu yang menyebut nama tanah air dengan lantang: Indonesia.
Baca juga: Di Tengah Polarisasi Politik 2026, Partai NasDem Angkat Pemikiran Muhammad Yamin tentang Merah Putih
Di Antara Pena dan Senar
Sejarah kerap mereduksi Supratman sebagai “pencipta lagu kebangsaan”. Padahal, sebelum namanya abadi lewat nada, ia lebih dulu bergerak lewat tulisan.
Lahir di Purworejo, 9 Maret 1903, Supratman tumbuh dalam lingkungan terdidik. Ia bekerja sebagai guru, lalu terjun ke dunia jurnalistik—profesi yang pada masa kolonial sarat risiko. Ia menulis untuk surat kabar pergerakan, menyuarakan gagasan tentang persatuan dan harga diri bangsa yang kala itu dianggap berbahaya.
Pers berada di bawah bayang-bayang sensor. Tulisan bisa berujung pembredelan atau penjara. Namun bagi Supratman, pena dan biola bukan dua dunia berbeda. Keduanya adalah instrumen perjuangan.
Ia memahami bahwa kebangkitan bangsa membutuhkan lebih dari sekadar retorika politik. Diperlukan simbol yang menyatukan. Diperlukan lagu yang melampaui batas suku dan daerah.
Lagu yang Menggetarkan Kolonial
Tak lama setelah Kongres Pemuda II, pemerintah kolonial mulai mengawasi “Indonesia Raya”. Piringan hitamnya diawasi ketat. Liriknya dipersoalkan. Lagu itu dianggap memantik semangat perlawanan.
Kolonial Belanda mungkin benar dalam satu hal: lagu itu memang mengguncang. Bukan karena senjata, melainkan karena visinya. Ia membayangkan Indonesia sebagai satu kesatuan—di saat Hindia Belanda masih terpecah dalam identitas kedaerahan.
Di tengah tekanan itu, Supratman tetap berkarya. Namun kondisi kesehatan yang melemah dan tekanan politik yang terus membayangi mempersempit langkahnya.
Wafat, Gagasan Tetap Hidup
Supratman meninggal pada 17 Agustus 1938 di Surabaya, tujuh tahun sebelum proklamasi kemerdekaan. Ia wafat dalam usia 35 tahun—usia produktif seorang intelektual.
Ia tak sempat menyaksikan 17 Agustus 1945. Namun lagu ciptaannya justru menjadi pembuka setiap upacara kenegaraan republik yang lahir itu. Dari sekolah hingga istana negara, dari desa hingga forum internasional, “Indonesia Raya” dikumandangkan sebagai identitas bangsa.
Negara menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan di berbagai ruang publik. Tetapi warisan terbesarnya bukan sekadar nama jalan atau patung peringatan.
Lebih dari Sekadar Lagu
Di era digital hari ini, “Indonesia Raya” mungkin terdengar rutin dinyanyikan setiap upacara atau pertandingan olahraga. Namun di balik pengulangan itu, tersimpan keberanian intelektual.
Supratman menulis ketika kata “Indonesia” belum menjadi negara. Ia menggubah lagu ketika kemerdekaan masih dianggap angan-angan. Ia berani memproyeksikan masa depan yang belum lahir dan justru karena itulah ia menjadi monumental.
Warisan Supratman bukan hanya komposisi musik. Ia adalah simbol keberanian seorang wartawan visioner yang perc aya bahwa bangsa dibangun lewat ide, imajinasi, dan tekad kolektif.
Di sebuah gedung di Batavia, hampir seabad lalu, seorang pemuda memilih biola sebagai medium perlawanan. Dari gesekan tegas itu, lahirlah suara yang kemudian menjadi jiwa sebuah bangsa.
Dan setiap kali “Indonesia Raya” berkumandang, gema itu adalah gema dari keberanian Wage Rudolf Supratman.*
Di Kongres Pemuda II 1928, Wage Rudolf Supratman memperdengarkan “Indonesia Raya” yang membuat pemerintah kolonial Belanda waspada.