RIWARA.ID, JAKARTA - Sejarah sering terasa rapi. Tiga kalimat Sumpah Pemuda 1928 kita hafal di luar kepala, seolah lahir begitu saja dari semangat kolektif generasi muda. Tetapi sejarah yang terlalu rapi biasanya menyembunyikan sesuatu.
Di balik teks itu, nama Muhammad Yamin berdiri dalam perdebatan panjang: apakah ia sekadar bagian dari arus besar 1928, atau justru salah satu arsitek gagasan yang membentuk imajinasi Indonesia?
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar selesai.
Ia bukan ketua kongres. Ia bukan pembaca teks akhir. Tetapi sejumlah catatan menunjukkan, Yamin termasuk yang paling awal mendorong konsep “bahasa persatuan” sebagai fondasi kebangsaan.
Di forum yang masih dipenuhi sentimen kedaerahan Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Ambon gagasan menyatukan identitas dalam satu bahasa adalah langkah radikal.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah pernyataan politik.
Bahasa sebagai Strategi, Bukan Simbol
Di sinilah Yamin berbeda. Ia memahami bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengusir kolonialisme Belanda. Kemerdekaan adalah soal membangun imajinasi kolektif bernama Indonesia.
Pilihan pada Bahasa Indonesia yang berakar pada Melayu adalah strategi. Ia netral, tidak terlalu lekat pada dominasi etnis tertentu. Dan Yamin termasuk yang paling konsisten mendorongnya dalam forum pemuda.
Beberapa sejarawan menyebut, konsep bahasa persatuan sudah ia suarakan jauh sebelum 1928, termasuk dalam forum kepemudaan dan tulisan-tulisannya. Artinya, Sumpah Pemuda bukan peristiwa dadakan. Ia adalah kulminasi gagasan yang telah lama dirawat.
Kontroversi yang Tak Pernah Sepenuhnya Padam
Namun sejarah tak pernah steril.
Peran Yamin kerap diperdebatkan. Ada yang menilai kontribusinya terlalu dibesar-besarkan. Ada pula yang menyebut ia sekadar bagian dari kolektif besar generasi 1928.
Tetapi satu hal tak terbantahkan: ia adalah bagian dari lingkar inti pemikir pergerakan. Kelak, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Yamin kembali tampil dengan gagasan tentang dasar negara dan wilayah Indonesia yang melampaui batas administratif Hindia Belanda.
Ia selalu berpikir dalam skala besar.
Baca juga: Gunakan Tenaga Kerja Asing Ilegal, 12 Perusahaan Didenda Rp 4,48 Miliar
Dari Pemuda ke Perumus Negara
Perjalanan Yamin tidak berhenti di 1928. Ia hadir dalam fase-fase krusial republik: dari perumusan konstitusi, perdebatan dasar negara, hingga diplomasi kebudayaan.
Bagi sebagian kalangan, Yamin adalah intelektual ambisius. Bagi yang lain, ia visioner yang kerap melampaui zamannya.
Namun membaca kembali 28 Oktober 1928 tanpa menyebut namanya adalah kekeliruan sejarah.
Karena di balik tiga kalimat yang kita hafal sejak sekolah dasar, ada gagasan panjang tentang bangsa, bahasa, dan batas wilayah. Ada pemuda yang membaca Indonesia sebelum republik itu benar-benar lahir.
Dan sejarah, seperti biasa, hanya memberi ruang besar bagi sebagian nama.*
Apakah sejarah telah mengecilkan peran Muhammad Yamin dalam Sumpah Pemuda 1928? Di balik teks singkat itu, tersimpan tarik-menarik gagasan yang membentuk arah Indonesia.