
RIWARA.ID, Jakarta — Apakah Merah Putih lahir semata-mata dari momentum Proklamasi 17 Agustus 1945? Ataukah ia telah hidup jauh sebelum republik ini berdiri?
Pertanyaan itu dijawab secara ambisius oleh Muhammad Yamin dalam bukunya 6000 Tahun Sang Merah Putih yang terbit pada 1951. Setebal 236 halaman, buku ini tidak sekadar mengisahkan sejarah bendera nasional, tetapi membangun narasi besar: bahwa Merah Putih telah dimuliakan sejak ribuan tahun lalu di Nusantara.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang disahkan 18 Agustus 1945 ditegaskan, “Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.” Namun bagi Yamin, pengesahan konstitusional itu hanyalah puncak dari perjalanan sejarah panjang simbol kebangsaan.
Baca juga: Jaringan Jual Beli Bayi di Media Sosial Terbongkar, Bareskrim Polri Tetapkan 12 Tersangka
Dari Praehistoria ke Kepulauan Austronesia
Yamin membawa pembaca mundur hingga ±6000 tahun lalu, ke masa praehistoria. Ia menyebut manusia purba Indonesia yang bermigrasi dari Asia Tenggara melalui jalur Sumatera dan Filipina–Sulawesi telah menghormati dua warna kosmis:
Menurut Yamin, penghormatan itu berkembang menjadi simbol kehidupan: darah (merah) sebagai zat hidup manusia dan getah (putih) sebagai zat hidup tumbuhan. Simbolisme ini, tulisnya, menyebar luas di kepulauan Austronesia, dari Nusantara hingga Madagaskar.
Ia bahkan mengutip temuan arkeologis di kaki Gunung Dempo, Sumatera Selatan, berupa batu berlukiskan merah putih serta manik-manik dwiwarna dalam kuburan purbaka la.
Baca juga: Perjanjian RI–AS Dinilai Lemahkan Pers, Komite Protes Ketentuan Platform Digital
Jejak Kerajaan dan Panji Dwaja
Memasuki masa protohistoria, Yamin merujuk epos Ramayana karya pujangga Walmiki, yang menyinggung wilayah “Nusa Emas dan Perak.” Ia menafsirkan frasa itu sebagai simbol Kepulauan Merah Putih.
Pada abad ke-5, Maharaja Purnawarman dari Tarumanegara disebut memiliki panji atau dwaja (bahasa Sanskerta untuk bendera). Kata inilah yang menurut Yamin menjadi salah satu bukti awal penggunaan konsep bendera di Indonesia.
Penghormatan warna merah putih kemudian ia telusuri pada masa Sriwijaya, Sailendra, Singasari, hingga Majapahit. Relief Hanuman Api di Candi Prambanan dan pahatan di Candi Borobudur disebutnya sebagai bagian dari simbolisme panjang itu.
Baca juga: Gunakan Tenaga Kerja Asing Ilegal, 12 Perusahaan Didenda Rp 4,48 Miliar
Simbol Perlawanan Kolonial
Yamin juga mengaitkan Merah Putih dengan masa perlawanan terhadap kolonialisme. Pada era Sultan Agung Mataram hingga Perang Jawa yang dipimpin Prince Diponegoro, simbol warna merah putih disebut hadir sebagai panji perjuangan.
Di Sumatera Barat, perjuangan Tuanku Imam Bonjol juga dilihat dalam semangat simbolik yang sama.
Memasuki abad ke-20, Merah Putih tampil semakin tegas sebagai warna kebangsaan:
Perhimpunan Indonesia di Belanda mengibarkan Merah Putih Kepala Kerbau.
Partai Nasional Indonesia memakai Merah Putih dengan simbol banteng.
Sebelum menjadi bendera negara, ia telah menjadi lambang cita-cita kemerdekaan.
Merah Putih dalam Budaya Rakyat
Menariknya, Yamin juga menelusuri simbol Merah Putih dalam kebudayaan sehari-hari. Di Jawa terdapat jenang abang putih. Di Papua, pepeda memadukan sagu putih dengan buah merah. Bahkan dalam kisah Jawa Kuno dikenal bawang merah dan bawang putih.
Bagi Yamin, warna ini bukan kebetulan, melainkan simbol kosmologis yang hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat.
Keberanian atas Kesucian
Kata “Sang” dalam “Sang Merah Putih” dipahami sebagai bentuk pemuliaan. Yamin merumuskan makna filosofisnya secara sederhana:
Sehingga Merah Putih berarti “Keberanian atas Kesucian.”
Sebagai warna kebangsaan, ia adalah lambang cita-cita merdeka. Sebagai bendera negara, ia menjadi simbol kedaulatan penuh—baik ke dalam (internal independence) maupun ke luar (external independence).
Antara Sejarah dan Narasi Kebangsaan
Buku ini lahir pada awal masa kemerdekaan, ketika Indonesia membutuhk an fondasi historis yang kokoh bagi identitas nasionalnya. Sejumlah sejarawan modern memang mempertanyakan sebagian klaim Yamin yang dianggap memadukan mitologi, simbolisme, dan tafsir bebas.
Namun tak dapat disangkal, karya ini menjadi salah satu referensi penting dalam membangun narasi kebangsaan Indonesia.
Semangat yang Terus Berkibar
Sejak dikibarkan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta, Merah Putih tidak lagi sekadar simbol kosmis atau warna budaya. Ia menjadi lambang resmi negara dan kedaulatan Republik Indonesia.
Lebih dari tujuh dekade setelah kemerdekaan, tafsir Yamin dalam 6000 Tahun Sang Merah Putih tetap relevan untuk diperdebatkan dan direnungkan. Apakah benar usianya mencapai 6000 tahun, ataukah itu bagian dari konstruksi nation-building?
Yang pasti, Merah Putih hari ini bukan hanya selembar kain. Ia adalah simbol sejarah, perjuangan, dan identitas bangsa Indonesia yang terus berkibar di setiap zaman.*
Jejak panjang Merah Putih ditelusuri sejak 6000 tahun lalu dalam buku karya Muhammad Yamin. Dari praehistoria, kerajaan Nusantara, hingga Proklamasi 1945, simbol ini dimaknai sebagai keberanian atas kesucian dan lambang kedaulatan Republik Indonesia.