Benarkah Yamin Menyumbang Istilah ‘Sila’? Membaca Ulang 6.000 Tahun Sang Merah Putih

  • Inung R Sulistyo
  • Kamis, 26 Februari 2026 | 10:26 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Jejak dan Kontroversi Muhammad Yamin
Jejak dan Kontroversi Muhammad Yamin (Foto: Riwara.id)

RIWARA.ID - JAKARTA - Penulisan sejarah Indonesia tak bisa dilepaskan dari nama Muhammad Yamin—tokoh yang dipuji sebagai intelektual bangsa sekaligus dinilai kontroversial karena perannya dalam sejumlah momentum penting kebangsaan. Dalam buku 6000 Tahun Sang Merah Putih (1951), Yamin menghadirkan pembacaan panjang tentang bendera nasional, bukan sekadar simbol politik, melainkan juga sumber inspirasi seni, sastra, dan ideologi.

Di dalam buku tersebut, Yamin menegaskan bahwa merah dan putih telah hidup dalam kebudayaan Nusantara jauh sebelum abad ke-20. Ia menautkannya dengan seni arca, tradisi kesusastraan, hingga simbol-simbol perjuangan. Dalam pandangannya, Merah Putih bukan hasil kompromi politik sesaat, melainkan simpul sejarah ribuan tahun.

“Dalam perdjuangan kemerdekaan sebelum dan selama Revolusi Indonesia maka bendéra Sang Mérah-Putih tidak sadja dipertahankan dengan segala tenaga dan dengan sendjata, melainkan djuga dihormati dengan pudjaan sjair dan lagu,” tulis Yamin.

Pernyataan itu menegaskan pendekatan khasnya: sejarah bukan hanya arsip dan dokumen, tetapi juga puisi, lagu, dan imajinasi kolektif bangsa.

Baca juga: Perjanjian RI–AS Dinilai Lemahkan Pers, Komite Protes Ketentuan Platform Digital

Kontroversi Peran dalam Perumusan Dasar Negara

Nama Muhammad Yamin juga kerap disebut dalam perdebatan seputar perumusan dasar negara. Ia dikenal sebagai sosok yang dikaitkan dengan Tim Sembilan, yang dilantik menjelang sidang pertama Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei 1945.

Tugas Tim Sembilan terbilang berat: merumuskan dasar negara yang kelak dikenal sebagai Pancasila serta menyusun rumusan yang menjadi fondasi teks Proklamasi. Dalam berbagai catatan sejarah, dinamika perdebatan di antara para tokoh bangsa berlangsung intens dan penuh tarik-menarik gagasan.

Menurut Restu Gunawan, penulis biografi Muhammad Yamin, pada malam sebelum pidato 1 Juni 1945, Soekarno meminta saran kepada KH Wahid Hasyim, Kahar Muzakar, KH Masjkur, dan Yamin mengenai penamaan lima dasar negara yang akan ia paparkan. Restu mencatat, “Yamin yang menyumbangkan kata ‘sila.’ Sedangkan kata ‘panca’ berasal dari Soekarno.”

Peran ini menjadi bagian dari diskursus panjang mengenai kontribusi masing-masing tokoh dalam perumusan Pancasila. Sebagian kalangan menilai Yamin berupaya memperkuat klaim historisnya, sementara yang lain melihatnya sebagai bagian wajar dari proses kolektif para pendiri bangsa.

Menariknya, tiga belas tahun kemudian, pada 1958, Soekarno justru menulis pengantar untuk buku 6.000 Tahun Sang Merah Putih karya Yamin. Buku tersebut diterbitkan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober—momentum simbolik yang sejalan dengan semangat nasionalisme yang diusung Yamin.

Baca juga: Gunakan Tenaga Kerja Asing Ilegal, 12 Perusahaan Didenda Rp 4,48 Miliar

Puisi, Revolusi, dan Simbol Kebangsaan

Dalam salah satu bagian buku, Yamin mengutip puisi perjuangan yang menafsirkan merah sebagai darah da n keberanian, serta putih sebagai kesucian dan ketulusan hati. Tafsir itu menegaskan Merah Putih sebagai “lambang perwira dan suci hati”—sebuah sintesis antara heroisme dan moralitas.

Bagi Yamin, bendera adalah simbol yang hidup dalam denyut revolusi. Ia tidak hanya dikibarkan di medan tempur, tetapi juga diabadikan dalam syair dan lagu. Pendekatan ini membuat karya Yamin terasa estetik sekaligus ideologis.

Meski demikian, kritik terhadap kecenderungan dramatisasi dan spekulasi sejarah tetap menyertai namanya. Ia dipandang sebagai “pengisah besar” yang membangun narasi kebangsaan dengan gaya puitik—kadang memikat, kadang memancing perdebatan.

Baca juga: DIBUKA BESOK! Pendaftaran Mudik Gratis Lebaran 2026 dari Perum BULOG, Kuota 750 Orang, Ada 15 Rute Bus

Diskusi Pemikiran Muhammad Yamin

Pemikiran Yamin kembali diangkat dalam forum diskusi yang digelar oleh Partai NasDem melalui DPP Partai NasDem.

Dengan tajuk “Diskusi Memaknai Pemikiran Muhammad Yamin melalui Buku 6.000 Tahun Sang Merah Putih”, publik diajak merefleksikan kembali gagasan-gagasan Yamin tentang nasionalisme, sejarah, dan simbol negara.

Acara tersebut akan diselenggarakan pada:

Hari: Jumat, 27 Februari 2026
Waktu: Pukul 14.30–17.30 WIB
Tempat: Auditorium Perpustakaan Panglima Itam, NasDem Tower, Jalan RP Suroso, Menteng, Jakarta Pusat

Forum ini menjadi ruang dialog untuk membaca ulang warisan intelektual Muhammad Yamin—baik sebagai pujangga, politisi, maupun tokoh yang tak lepas dari kontroversi sejarah. Di tengah dinamika Indonesia modern, tafsir tentang Merah Putih tetap relevan: bukan sekadar warna pada selembar kain, melainkan simbol yang memuat d arah perjuangan, kesucian cita-cita, dan pergulatan gagasan para pendiri bangsa.*

Kontroversi dan warisan pemikiran Muhammad Yamin kembali dibahas melalui buku 6.000 Tahun Sang Merah Putih, mengulas perannya dalam perumusan dasar negara, tafsir Merah Putih, hingga diskusi publik yang digelar Partai NasDem di Jakarta.

Foto Default
Author : Inung R Sulistyo

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News