RIWARA.ID, JAKARTA - Di sebuah lembah tambang batu bara di Sawahlunto, 23 Agustus 1903, lahir seorang anak mantri kopi yang kelak ikut merumuskan arah Indonesia. Namanya: Muhammad Yamin.
Ia bukan jenderal. Bukan pula pemimpin partai besar pada masanya. Tetapi di ruang-ruang rapat pemuda, dalam diskusi panjang hingga larut malam di Kramat 106, Yamin membaca sesuatu yang belum terbaca banyak orang: Indonesia sebagai satu bahasa, satu bangsa, satu tanah air—bahkan sebelum negara itu ada.
Biografi resmi terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1981/1982) mencatat Yamin sebagai sosok berpendirian teguh sejak muda. Ia tidak menempuh pendidikan secara mulus. Berpindah dari Sekolah Melayu ke HIS, dari Bogor ke Surakarta, hingga akhirnya lulus Rechtshogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia tahun 1932. Tetapi justru jalan berliku itu membentuk wataknya: keras, reflektif, dan visioner.
Baca juga: Gunakan Tenaga Kerja Asing Ilegal, 12 Perusahaan Didenda Rp 4,48 Miliar
Bahasa sebagai Senjata Politik
Dalam Kongres Pemuda I tahun 1926, Yamin sudah menyampaikan satu tesis berani: bahasa Melayu yang kelak menjadi bahasa Indonesia memiliki potensi historis dan kultural sebagai bahasa persatuan.
Dua tahun kemudian, dalam momentum monumental 28 Oktober 1928, gagasan itu menemukan bentuk politiknya: Sumpah Pemuda.
Di tengah tekanan kolonial pasca pemberontakan 1926 dan gelombang penangkapan aktivis, pemuda-pemuda dari berbagai organisasi daerah meleburkan identitas sempit mereka. Yamin termasuk motor intelektual di balik rumusan persatuan itu.
Ia memahami satu hal mendasar: bangsa tidak lahir dari darah semata, tetapi dari kesepakatan. Dan kesepakatan butuh bahasa.
Sejarah mencatat, keputusan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bukan sekadar kompromi linguistik. Ia adalah keputusan geopolitik. Bahasa Jawa terlalu dominan. Bahasa daerah lain terlalu partikular. Bahasa Melayu lah yang telah menjadi lingua franca Nusantara serta memberi ruang inklusif.
Yamin membaca itu lebih cepat dari zamannya.
Baca juga: Perjanjian RI–AS Dinilai Lemahkan Pers, Komite Protes Ketentuan Platform Digital
Nasionalisme Tanpa Panggung
.jpg)
Di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106 yang kini dikenal sebagai Gedung Sumpah Pemuda Yamin terlibat dalam diskusi intens para pelajar dan mahasiswa. Mereka tidak sekadar berbicara soal organisasi. Mereka membedah kolonialisme, membicarakan depresi ekonomi global 1929, membaca situasi politik di Belanda, dan merumuskan masa depan.
Berbeda dengan tokoh-tokoh orator flamboyan, Yamin bekerja lewat argumen dan teks. Ia menulis sajak “Indonesia Tanah Tumpah Darah” jauh sebelum republik berdiri. Dalam puisinya, nasionalisme bukan slogan. Ia getaran batin.
Namun Yamin bukan tanpa kontroversi. Dalam sejarah perumusan dasar negara, namanya sering muncul dalam perdebatan tentang ko ntribusinya di BPUPKI. Sebagian menilai ia cenderung menegaskan peran pribadi dalam rumusan awal Pancasila. Sebagian lain melihatnya sebagai konseptor serius yang memang mengajukan lima asas jauh sebelum 1 Juni 1945.
Terlepas dari polemik itu, satu hal tak terbantahkan: Yamin adalah generasi perintis yang menggeser nasionalisme dari romantisme daerah menjadi kesadaran Indonesia Raya.
Penyair, Sejarawan, dan Politikus
Yamin bukan hanya aktivis pemuda. Ia sastrawan, sejarawan, ahli hukum, sekaligus menteri dalam kabinet republik setelah kemerdekaan. Ia menulis tentang sejarah Nusantara dengan perspektif kebangsaan, membaca Majapahit dan Sriwijaya sebagai embrio Indonesia.
Cara pandangnya jelas: Indonesia bukan produk 1945. Ia adalah kontinuitas sejarah panjang.
Ketika wafat pada 17 Oktober 1962, Yamin telah menjadi bagian dari arsitektur negara. Tahun 1973, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Pahlawan yang Sering Terlupakan
Di era algoritma dan polarisasi, nama Muhammad Yamin jarang menjadi trending topic. Padahal, ia adalah contoh bagaimana nasionalisme dirumuskan lewat bacaan, perdebatan, dan argumentasi—bukan sekadar retorika.
Ia percaya pada kekuatan ide. Bahwa sebelum ada republik, harus ada imajinasi tentang republik.
Dan imajinasi itu, pada 1928, diberi nama: Indonesia.*
Dari Sawahlunto ke Kongres Pemuda 1928, Muhammad Yamin bukan sekadar penyair. Ia perancang kesadaran kebangsaan yang melihat bahasa Indonesia sebagai takdir sejarah.