JAKARTA, RIWARA.ID — Di tengah dinamika politik 2026 yang kian terfragmentasi dan sarat polarisasi, Partai NasDem memilih kembali ke sumber ideologis bangsa. Mengutip laman resmi partai, diskusi bertajuk Memaknai Pemikiran Muhammad Yamin melalui bedah buku 6000 Tahun Sang Merah Putih digelar di Panglima Itam Library of NasDem, Jumat,2 Februari 2026.
Agenda ini bukan sekadar forum literasi sejarah. Ia dibingkai sebagai upaya menegaskan kembali fondasi ideologis republik—bahwa Merah Putih bukan simbol kosong, melainkan konstruksi historis yang berakar dalam peradaban Nusantara.
Diskusi menghadirkan Yos Fitradi sebagai pengamat pemikiran Yamin dan Taufik Basari selaku Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR RI. Roy Rahajasa Yamin, cucu Muhammad Yamin, turut memberi testimoni keluarga. Forum dipandu Lisda Hendrajoni, Anggota DPR RI Fraksi NasDem, dengan pengantar disampaikan Willy Aditya, Ketua Komisi XIII DPR RI.
Merah Putih: Simbol atau Proyek Ideologis?
Dalam pemaparannya, Willy Aditya menegaskan bahwa buku 6000 Tahun Sang Merah Putih menelusuri akar historis warna merah dan putih jauh sebelum Indonesia merdeka.
Yamin, menurut Willy, melihat Merah Putih bukan sekadar produk kompromi politik 1945, melainkan simbol yang telah hidup dalam panji-panji perang, ritual adat, hingga struktur kepercayaan masyarakat Nusantara termasuk pada masa Majapahit dan periode pra-Hindu.
“Kalau selama ini kita hanya menerimanya begitu saja, Yamin justru meletakkan basis-basis itu. Republik, Indonesia, Merah Putih semua tidak hadir sebagai sesuatu yang given,” ujar Willy sebagaimana dikutip dari laman resmi NasDem.
Narasi ini secara implisit menggarisbawahi satu pesan: republik dibangun dari pergulatan ide, bukan sekadar kesepakatan administratif.
Membaca Ulang Founding Parents di Era Post-Ideologi
Willy menyebut diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian pembacaan ulang karya para Founding Parents. Sebelumnya, NasDem membedah Naar de Republiek Indonesia karya Tan Malaka, Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta, serta Perjuangan Kita karya Sutan Sjahrir.
Di tengah kecenderungan politik yang pragmatis dan transaksional, langkah ini bisa dibaca sebagai upaya reposisi ideologis.
“NasDem adalah penjaga garis republikan isme dan kita belajar banyak, tidak hanya sebagai romantisme, tetapi sebagai guidance untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang tetap dalam garis republikanisme,” kata Willy.
Pernyataan itu relevan di tengah perdebatan publik tentang arah demokrasi, nasionalisme, dan identitas kebangsaan.
Yamin: Ideolog di Balik Frontman Republik

Willy juga membuat analogi menarik. Jika Soekarno dikenal sebagai frontman Republik, maka Yamin disebutnya sebagai sosok yang mempersiapkan piranti konseptual, pilar, dan milestone republik.
Pernyataan ini tentu mengundang tafsir. Sejarah mencatat, peran Yamin dalam berbagai momentum kebangsaan kerap berada di wilayah perdebatan akademik. Namun bagi NasDem, Yamin diposisikan sebagai ideolog yang mampu menjembatani mitologi dan konstruksi teknokratik negara.
“Sebagai ideolog, Yamin mampu menyederhanakan mitos sekaligus mengkonstruksikan pokok-pokok pikiran secara teknokratik. Di situlah hebatnya Yamin,” tutup Willy.
Simbol yang Terus Diperebutkan
Dalam konteks 2026, Merah Put ih tidak lagi hanya berdiri di tiang bendera. Ia hadir dalam wacana politik, dalam debat identitas, dan dalam perebutan tafsir kebangsaan.
Dengan mengangkat kembali pemikiran Muhammad Yamin, NasDem tampak ingin menegaskan satu garis: bahwa republikanisme bukan slogan kampanye, melainkan warisan intelektual yang harus terus dirawat.
Diskusi itu mungkin berangkat dari buku sejarah. Tetapi pesannya jelas ditujukan untuk hari ini.
Di tengah dinamika politik 2026, Partai NasDem membedah pemikiran Muhammad Yamin melalui buku 6000 Tahun Sang Merah Putih dan menegaskan kembali akar ideologis republik.