Perang Iran – AS– Israel Memanas Hari ke-10, Harga Minyak Dunia Tembus US$111

  • Inung R Sulistyo
  • Senin, 09 Maret 2026 | 10:52 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Pemimpin Iran Ali Khamenei dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ditampilkan dalam ilustrasi komposit dengan latar ledakan akibat konflik Iran–AS–Israel yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$111 per barel.
Pemimpin Iran Ali Khamenei dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ditampilkan dalam ilustrasi komposit dengan latar ledakan akibat konflik Iran–AS–Israel yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$111 per barel. (Foto: Riwara.id)

 

RIWARA.ID - Eskalasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memasuki hari ke-10 tanpa tanda-tanda mereda. Konflik yang semakin meluas ini tidak hanya mengguncang stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah, tetapi juga memicu gejolak besar di pasar energi global.

Di tengah situasi yang semakin tegang, Iran secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.

Kantor berita Fars melaporkan pada Minggu bahwa Mojtaba Khamenei (56) terpilih melalui pemungutan suara oleh Majelis Ahli Iran. Tak lama setelah pengumuman tersebut, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) langsung menyatakan sumpah setia kepada pemimpin baru tersebut.

Dukungan dari IRGC, yang merupakan kekuatan militer paling berpengaruh di Iran, dipandang sebagai langkah penting untuk menjaga stabilitas kepemimpinan negara di tengah konflik yang sedang berlangsung.

 Trump: Lonjakan Harga Minyak “Harga Kecil”

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai lonjakan harga minyak dunia sebagai konsekuensi yang dapat diterima dalam upaya menghadapi Iran.

Melalui unggahan di media sosialnya, Trump menyatakan bahwa dampak ekonomi jangka pendek tersebut merupakan harga yang pantas dibayar demi keamanan global.

“Harga minyak jangka pendek akan segera turun drastis setelah ancaman nuklir Iran dihancurkan. Ini adalah harga yang sangat murah bagi AS dan dunia demi keselamatan serta perdamaian,” tulis Trump.

Pernyataan tersebut muncul di tengah gejolak besar yang melanda pasar energi global.

Harga Minyak Melonjak Tajam

Pasar minyak dunia langsung bereaksi terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 20 persen hingga mencapai US$111,04 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak sekitar 22 persen, menembus level US$111 per barel.

Lonjakan harga ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa konflik militer dapat mengganggu pasokan energi global, terutama dari kawasan Teluk Persia yang merupakan salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia.

Selat Hormuz Terganggu

Krisis energi global semakin diperparah setelah aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terganggu.

Selat tersebut merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Gangguan pada jalur ini membuat kapal tanker minyak kesulitan melintas.

Akibatnya, beberapa negara produsen minyak di kawasan Teluk mulai memangkas produksi.

Kuwait dan Uni Emirat Arab dilaporkan mengurangi produksi karena tangki penyimpanan mereka penuh akibat kapal tanker yang tidak dapat berlayar.

Sementara itu, Irak sebelumnya juga telah menghentikan sebagian produksinya pada pekan lalu.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dapat berkembang menjadi krisis energi global.

Serangan Rudal dan Drone

Di medan perang, konflik juga semakin intens dengan serangan rudal dan drone yang terjadi hampir setiap hari.

Iran meluncurkan sejumlah serangan ke wilayah Israel dan beberapa negara Teluk. Sebagai balasan, Israel melakukan serangan udara besar-besaran ke berbagai target strategis di Iran.

Jet tempur Israel dilaporkan menyerang depot bahan bakar di kawasan Kuhak dan Shahran di Teheran serta kota Karaj yang berada di dekat ibu kota Iran.

Ledakan besar terdengar di berbagai wilayah ibu kota, sementara otoritas setempat mengimbau warga untuk mengenakan masker dan tetap berada di dalam rumah akibat polusi udara dari puing-puing ledakan.

Militer Israel juga menyatakan t elah menyerang sekitar 400 target militer di wilayah barat dan tengah Iran dalam 24 jam terakhir.

Menteri Energi Israel, Eli Cohen, mengatakan bahwa kilang minyak dan pembangkit listrik termasuk dalam daftar target potensial.

Negara Teluk Ikut Terdampak

Konflik juga mulai merembet ke negara-negara Teluk Persia.

Sistem pertahanan udara Kuwait dilaporkan berhasil mencegat tiga rudal balistik serta menghancurkan dua drone yang diluncurkan dari wilayah Iran.

Dua drone lainnya dilaporkan menargetkan area dekat bandara internasional Kuwait dan menyebabkan ledakan di depot bahan bakar.

Sementara itu, sebuah fasilitas desalinasi air di Bahrain mengalami kerusakan material akibat serangan drone Iran. Meski demikian, pemerintah setempat menyatakan pasokan air bersih bagi masyarakat tetap aman.

Serangan terhadap fasilitas desalinasi memicu kekhawatiran baru, mengingat negara-negara Teluk sangat bergantung pada fasilitas tersebut untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Iran Klaim Siap Perang Berbulan-bulan

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintahnya telah menginstruksikan militer untuk tidak menyerang negara mana pun yang tidak menyerang Iran.

Ia juga m enyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak konflik.

Namun demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap akan merespons setiap agresi yang datang dari pihak lain.

Teheran bahkan mengklaim memiliki kapasitas untuk mempertahankan perang dengan intensitas tinggi setidaknya selama enam bulan dengan tempo konflik saat ini.

Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa militer akan mulai menggunakan rudal jarak jauh yang lebih canggih dalam beberapa hari ke depan.

Risiko Ekonomi Global

Eskalasi konflik ini memicu kekhawatiran serius terhadap dampaknya bagi ekonomi global.

Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara serta mengganggu rantai pasokan energi internasional.

Sejumlah analis menilai pasar keuangan global saat ini tampak terlalu tenang menghadapi konflik yang berkembang pesat, padahal gangguan pasokan energi yang terjadi berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah modern.

Di Amerika Serikat, harga bensin bahkan telah naik ke level tertinggi sejak 2024.

Selain itu, meningkatnya korban militer AS dalam konflik ini juga berpotensi memengaruhi dinamika politik domestik menjelang pemilu sela di negara tersebut.

Ketidakpastian Masih Tinggi

Dengan konflik yang terus meluas, pasar global kini menghada pi ketidakpastian yang semakin besar.

Ketegangan geopolitik, gangguan pasokan energi, serta meningkatnya risiko militer membuat dunia memasuki fase krisis yang berpotensi berlangsung dalam waktu lama.

Para analis menilai perkembangan situasi dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan apakah konflik ini dapat mereda melalui jalur diplomasi atau justru berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.*

Perang Iran melawan AS dan Israel memasuki hari ke-10. Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru, sementara harga minyak dunia melonjak hingga US$111 per barel.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News