Inung R Sulistyo
RIWARA.ID - Kontrak berjangka indeks saham AS dibuka lebih rendah pada awal perdagangan Asia, mencerminkan kepanikan investor atas eskalasi konflik di Timur Tengah.
Futures untuk S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing turun hampir 1%. Bursa Australia ikut tertekan, dengan S&P/ASX 200 melemah 0,4%.
Investor berbondong-bondong meninggalkan aset berisiko dan memburu instrumen safe-haven.
Baca juga: Starmer Izinkan AS Gunakan Pangkalan Inggris untuk Hancurkan Gudang Rudal Iran, Dunia dalam Siaga
Minyak Meledak 13%, Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Harga minyak melonjak hingga 13% setelah konflik AS-Israel dan Iran memicu kekhawatiran serius atas pasokan global.
Minyak mentah West Texas Intermediate tercatat naik 7,3% menjadi US$71,94 per barel dalam perdagangan awal.
Fokus utama pasar tertuju pada Selat Hormuz yang merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% aliran minyak dunia. Bloomberg Economics memperkirakan jika jalur ini benar-benar ditutup, harga minyak bisa melonjak hingga US$108 per barel.
Data pelacakan digital menunjukkan lalu lintas kapal tanker hampir terhenti, dan tiga kapal dilaporkan diserang di dekat Teluk Persia. Meski Iran menyatakan tidak berniat menutup jalur tersebut, risiko tetap tinggi.
Baca juga: 3 Tentara AS Tewas, Operasi Serangan ke Iran Terus Berlanjut
Emas & Dolar Menguat, Mata Uang Risiko Tertekan
Lonjakan ketegangan mendorong permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Harga emas spot naik 1,5% hingga 1,6%.
Dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang utama, sementara franc Swiss juga terapresiasi tipis. Sebaliknya, dolar Australia memimpin pelemahan mata uang berbasis risiko.
Euro turun 0,3% ke US$1,1781, yen Jepang melemah 0,2% ke 156,35 per dolar, dan yuan offshore turun 0,2% ke 6,8771 per dolar.
Baca juga: Trump Tegaskan Serangan ke Iran Terus Berlanjut, Akui Korban Jiwa dan Peringatkan Eskalasi
Investor Sudah Rentan Sebelum Konflik Meletus
Pasar saham AS sebelumnya telah berada di bawah tekanan akibat kekhawatiran terhadap valuasi tinggi, potensi retaknya kredit, serta ketidakpastian seputar kecerdasan buatan.
Kini, eskalasi militer di Iran memperparah sentimen.
Adam Hetts dari Janus Henderson menilai pasar saat ini masih memperkirakan konflik terbatas.
“Implikasi investasi masih dapat dikelola kecuali eskalasi berkepanjangan. Diversifikasi dan perspektif jangka panjang sangat penting saat ketidakpastian memuncak,” tulisnya.
Sementara itu, Dec Mullarkey dari SLC Management memperingatkan bahwa pasar ekuitas AS sangat sensitif terhadap lonjakan harga komoditas yang berpotensi memicu tekanan inflasi baru.
Baca juga: CENTCOM Tegaskan USS Abraham Lincoln Tak Tersentuh Rudal Iran, Tetap Beroperasi di Laut Arab
Risiko Inflasi Global Menguat
Dilin Wu dari Pepperstone menambahkan bahwa bahkan tanpa penutupan resmi Selat Hormuz, perubahan rute kapal dan lonjakan premi asuransi sudah cukup memperketat pasokan global.
Efeknya?
Tekanan inflasi baru bisa muncul di saat ekonomi global masih rapuh.
Pergerakan Utama Pasar
Saham
S&P 500 -0,8% (08.13 Tokyo)
S&P/ASX 200 -0,4%
Mata Uang
Euro -0,3% ke US$1,1781
Yen -0,2% ke 156,35 per dolar
Yuan offshore -0,2% ke 6,8771
Kripto
Bitcoin +0,2% ke US$65.831
Ether +0,4% ke US$1.937
Obligasi
Yield obligasi Australia 10 tahun turun 4 bps ke 4,61%
Komoditas
WTI +7,3% ke US$71,94
Emas spot +1,5%
Dunia Finansial Masuk Fase Genting
Kombinasi perang, ancaman pasokan energi, dan tekanan inflasi menciptakan badai sempurna bagi pasar global.
Jika konflik meluas atau Selat Hormuz benar-benar ditutup, gejolak ini bisa menjadi awal dari volatilitas besar berikutnya di pasar keuangan dunia.*
Perang AS-Israel vs Iran picu gejolak pasar global. Minyak naik 13%, emas reli, saham AS dan Asia kompak melemah.