RIWARA.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dibuka melemah tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026), mengikuti tekanan besar dari pasar global akibat lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pada awal sesi perdagangan, IHSG turun 211,38 poin atau 2,79 persen ke level 7.374,31. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga terkoreksi 22,31 poin atau 2,87 persen ke posisi 753,74.
Tekanan terhadap pasar saham domestik mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap stabilitas ekonomi dunia di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Sentimen Global Tekan Pasar Saham
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan pasar saham saat ini berada dalam fase ketidakpastian tinggi yang berpotensi memicu volatilitas tajam dalam jangka pendek.
Menurutnya, IHSG masih berpotensi melanjutkan fase konsolidasi dalam beberapa ha ri ke depan.
“Volatilitas masih akan tinggi sepekan ini, dengan risiko konsolidasi lanjutan ke arah 7.335. Investor sebaiknya memperbanyak sikap wait and see sambil mencermati perkembangan sentimen global,” ujar Liza dalam kajian pasar yang dirilis di Jakarta, Senin.
Situasi global yang tidak menentu membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk dolar Amerika Serikat dan obligasi pemerintah.
Fenomena ini memperkuat tekanan jual di pasar saham global, termasuk di Indonesia.
Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi
Faktor utama yang memicu gejolak pasar adalah melonjaknya harga minyak dunia setelah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat melonjak 20,81 persen ke level 109,82 dolar AS per barel, sementara Brent Oil naik 18,17 persen ke posisi 109,53 dolar AS per barel pada pukul 07.50 WIB.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh kekhawatiran terganggunya distribusi minyak global, khususnya melalui jalur strategis Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu rute pengiriman energi paling vital di dunia.
Gangguan pada jalur tersebut berpotensi memicu kelangkaan pasokan energi global serta meningkatkan biaya produksi berbagai sektor industri.
Menurut Liza, kenaikan harga energi dapat memicu tekanan inflasi yang lebih luas di tingkat global.
“Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi global serta dapat menekan pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan harga bahan bakar dan biaya produksi,” jelasnya.
Sejumlah produsen energi di Timur Tengah bahkan mulai mengurangi produksi akibat gangguan rantai pasokan dan meningkatnya risiko keamanan.
Pergantian Pemimpin Iran Perbesar Risiko Geopolitik
Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Supreme Leader baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
Mojtaba dikenal sebagai figur yang memiliki kedekatan dengan kelompok garis keras di Iran. Penunjukan ini memunculkan persepsi bahwa Iran kemungkinan tidak akan melunak dalam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.
Situasi tersebut memperbesar potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi pusat produksi energi global.
Ketidakpastian geopolitik ini menjadi salah satu faktor yang memperburuk sentimen investor di pasar keuangan dunia.
Hubungan Dagang AS–China Masih Rentan
Selain konflik geopolitik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan hubungan ekonomi antara Donald Trump dan Xi Jinping menjelang rencana pertemuan kedua pemimpin tersebut pada akhir Maret 2026.
Pertemuan tersebut diperkirakan lebih berfokus pada menjaga stabilitas hubungan perdagangan ketimbang melakukan perubahan besar dalam kerja sama ekonomi kedua negara.
Ame rika Serikat ingin memastikan China tetap memenuhi komitmennya dalam kesepakatan perdagangan yang telah disepakati sebelumnya.
Komitmen tersebut antara lain mencakup pembelian produk pertanian AS, pesawat produksi Boeing, serta pasokan mineral strategis seperti rare earth.
Salah satu opsi kesepakatan yang tengah dibahas adalah potensi pembelian sekitar 500 pesawat narrow-body Boeing oleh China.
Jika kesepakatan tersebut terealisasi, langkah itu dipandang dapat membantu menjaga stabilitas hubungan ekonomi kedua negara di tengah rivalitas geopolitik yang masih berlangsung.
Pasar Menunggu Data Inflasi AS
Selain perkembangan geopolitik, perhatian pelaku pasar pada pekan ini juga tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk Februari 2026.
Data inflasi tersebut dinilai penting karena dapat memberikan sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga oleh bank sentral AS.
Jika inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, maka peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve berpotensi semakin tertunda.
Saat ini, probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni 2026 diperkirakan berada di kisaran 45 persen.
Kebijakan suku bunga AS memiliki pengaruh besar terhadap arus modal global, termasuk aliran investasi ke negara berkembang seperti Indonesia.
Dampak Lonjakan Harga Minyak ke APBN
Di dalam negeri, pemerintah mulai mengkaji dampak kenaikan harga minyak terhadap kondisi fiskal nasional.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah tengah menyusun simulasi terkait dampak lonjakan harga energi terhadap anggaran negara .
Menurutnya, apabila harga minyak rata-rata mencapai 92 dolar AS per barel, maka defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi melebar.
Defisit fiskal bahkan dapat mencapai 3,6 hingga 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) jika tidak diikuti dengan kebijakan penyesuaian.
Meski demikian, pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit anggaran berada di bawah batas 3 persen dari PDB, sesuai dengan kerangka disiplin fiskal nasional.
Sikap Indonesia terhadap Dinamika Geopolitik
Di tengah dinamika geopolitik global, Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan sikap Indonesia terkait inisiatif Board of Peace yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump.
Prabowo menyatakan Indonesia berpotensi menarik diri dari inisiatif tersebut apabila tidak memberikan manfaat nyata bagi Palestina maupun kepentingan nasional Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga menunda pembahasan lebih lanjut mengenai rencana pembentukan pasukan stabilisasi Gaza yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa hingga situasi keamanan di kawasan membaik.
Bursa Global Kompak Melemah
Tekanan terhadap pasar saham tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai bursa global.
Pada perdagangan Jumat (6/3), bursa saham Eropa tercatat bergerak negatif:
Euro Stoxx 50 turun 1,09 persen
FTSE 100 Inggris melemah 1,24 persen
DAX Jerman turun 0,94 persen
CAC Prancis terkoreksi 0,65 persen
Di Amerika Serikat, indeks utama Wall Street juga ditutup di zona merah:
Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke 47.501,55
S&P 500 melemah 1,33 persen ke 6.740,02
Nasdaq Composite turun 1,59 persen ke 22.387,68
Sementara itu, bursa Asia pada perdagangan Senin pagi juga mengalami tekanan signifikan.
Indeks Nikkei anjlok lebih dari 7 persen, sementara indeks Shanghai, Hang Seng, dan Straits Times juga mencatatkan pelemahan tajam.
Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya sikap risk-off di kalangan investor global yang memilih mengurangi investasi pada aset berisiko.
Pasar Masih Diliputi Ketidakpastian
Dengan kombinasi ketegangan geopolitik, lonjakan harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter global, pasar keuangan diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.
Investor kini menunggu perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah serta rilis data inflasi Amerika Serikat yang dapat menjadi penentu arah pasar selanjutnya.
Selama ketidakpastian global masih tinggi, pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.*
Inung R Sulistyo






IHSG anjlok 2,79% ke level 7.374 pada awal perdagangan Senin. Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah dan ketegangan global menekan pasar saham Asia dan Wall Street.