
RIWARA.Id — Perang Jawa selama ini diajarkan sebagai peristiwa yang telah selesai. Tahun 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda. Konflik berakhir. Sejarah pun dianggap tuntas.
Namun bagi sejarawan Inggris Peter Carey, justru di situlah persoalannya.
“Perang itu tidak pernah benar-benar selesai.”
Pernyataan itu bukan sekadar refleksi historis. Dalam wawancara yang dilansir Riwara.id hari ini, Carey menjelaskan bahwa dampak Perang Jawa masih hidup—dalam jaringan sosial, dalam tradisi pesantren, hingga dalam cara masyarakat Indonesia memaknai sejarahnya di era digital.
Lebih dari Sekadar Pemberontakan
Dilansir ulang oleh Riwara.id, 12 April 2026 dari Literatur karya Peter Carey tentang Perang Jawa dan Diponegoro, Perang Jawa (1825–1830) kerap dipahami sebagai pemberontakan seorang bangsawan terhadap kekuasaan kolonial. Namun Carey menilai narasi tersebut terlalu menyederhanakan.
Menurutnya, perang ini merupakan akumulasi dari berbagai krisis:
tekanan ekonomi akibat pajak kolonial
perubahan sosial di pedesaan
intervensi budaya oleh pemerintah kolonial
serta ketegangan spiritual dalam masyarakat Jawa
Lebih dari 200.000 orang diperkirakan meninggal dalam konflik ini. Desa-desa hancur, sistem sosial terguncang, dan struktur kekuasaan berubah drastis.
“Ini bukan sekadar konfl ik militer. Ini soal martabat,” ujar Carey.
Antara Keraton dan Pesantren
Berbeda dengan gambaran umum sebagai bangsawan keraton, Diponegoro memiliki latar kehidupan yang unik.
Ia dibesarkan di Tegalrejo—di luar pusat kekuasaan utama. Di sana, ia berinteraksi langsung dengan rakyat dan mendalami kehidupan keagamaan.
Ia:
belajar di lingkungan pesantren
bergaul dengan ulama
menjalani kehidupan yang relatif sederhana
Dalam pandangan Carey, posisi ini membuat Diponegoro menjadi figur yang menjembatani dua dunia:
aristokrasi Jawa
dan komunitas santri
“Dia bukan hanya pemimpin politik, tapi juga figur moral,” kata Carey.
Jaringan Santri
Salah satu temuan penting dalam penelitian Carey adalah peran jaringan santri dalam Perang Jawa.
Tokoh seperti Kiai Mojo menjadi bagian penting dalam mobilisasi dukungan terhadap Diponegoro.
Pesantren pada masa itu tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga:
pusat komunikasi
pusat konsolidasi sosial
serta ruang penyebaran gagasan perlawanan
Jaringan ini bersifat luas dan tidak terikat pada struktur formal, sehingga mampu bertahan dalam tekanan kolonial.
“Ini adalah infrastruktur sosial yang tidak terlihat, tetapi sangat kuat,” ujar Carey.
Perang Sabil dan Kompleksitas Sejarah
Perang Jawa kerap disebut sebagai perang sabil atau jihad. Carey mengakui adanya dimensi religius dalam konflik ini.
Namun, ia menekankan bahwa:
Perang Jawa tidak bisa direduksi hanya sebagai perang agama.
Ada faktor lain yang sama pentingnya:
ekonomi
sosial
politik
budaya
Agama, dalam konteks ini, menjadi sumber legitimasi moral dan semangat perlawanan.
Kekalahan yang Menyebar
Penangkapan Diponegoro pada 1830 menandai berakhirnya perang secara militer. Namun dampaknya justru meluas.
Terjadi perpindahan besar-besaran pengikut Diponegoro dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, termasuk ke wilayah:
Pacitan
Trenggalek
Blitar Selatan
Malang Selatan
Mereka membawa:
tradisi pesantren
nilai-nilai keagamaan
serta semangat perlawanan terhadap kolonialisme
Fenomena ini menciptakan basis sosial baru yang berkembang di luar pusat kekuasaan lama.
Jejak Sejarah Menuju Nahdlatul Ulama
Hampir satu abad setelah Perang Jawa berakhir, berdiri Nahdlatul Ulama pada 1926.
Carey melihat adanya kesinambungan historis antara jaringan santri pasca Perang Jawa dengan kemunculan NU.
Tokoh seperti Hasyim Asy'ari tumbuh dalam lingkungan pesantren yang telah berkembang sejak abad ke-19.
“Ini bukan hubungan langsung yang sederhana, tetapi ada kesinambungan sosial dan kultural,” jelas Carey.
Antara Fakta dan Klaim
Di era digital, sejarah tidak lagi hanya diproduksi oleh akademisi. Media sosial menjadi ruang baru bagi berbagai narasi.
Namun Carey mengingatkan adanya risiko:
penyederhanaan sejarah
klaim tanpa dasar riset
serta munculnya narasi identitas yang problematik
Fenomena ini, menurutnya, muncul karena adanya “ruang kosong” dalam penyampaian sejarah yang berbasis akademik kepada publik.
Inferiority Complex dan Tantangan Sejarah Indonesia
Carey juga menyoroti persoalan mentalitas pascakolonial.
Ia menyebut adanya kecenderungan meremehkan sejarah sendiri, atau yang ia sebut sebagai inferiority complex.
Padahal Indonesia memiliki:
manuskrip bersejarah
tradisi intelektual
serta warisan budaya yang kaya
Untuk itu, ia menekank an pentingnya:
penguatan riset sejarah
akses terhadap arsip
serta peningkatan kualitas pendidikan
Sejarah sebagai Cermin Bangsa
Perang Jawa, dalam perspektif Carey, bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah proses panjang yang masih memengaruhi:
identitas bangsa
cara berpikir masyarakat
serta dinamika sosial Indonesia
Diponegoro, dengan segala kompleksitasnya, menjadi simbol dari pergulatan tersebut.
Perang Jawa mungkin berakhir secara militer pada 1830. Namun secara sosial dan kultural, dampaknya terus berlangsung.
Dari jaringan santri hingga lahirnya organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama, jejak sejarah itu tetap terasa.
Seperti yang ditegaskan Peter Carey:
Sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus hidup dalam cara sebuah bangsa memahami dirinya sendiri.*
Inung R Sulistyo







Peter Carey yang mengungkap Perang Diponegoro belum selesai, serta kaitannya dengan jaringan santri dan sejarah Nahdlatul Ulama.