Ribuan Warga Padati Kirab Budaya Ulang Tahun ke-80 Sri Sultan HB X, Jogja Tampil Anggun dan Meriah

  • Inung R Sulistyo
  • Kamis, 02 April 2026 | 15:25 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo

 

YOGYAKARTA , RIWARA.ID – Kota Yogyakarta dipenuhi semarak budaya pada Kamis (2/4/2026) pagi. Ribuan masyarakat, baik dari dalam maupun luar kota, berkumpul sejak pukul 07.00 WIB untuk menyaksikan kirab budaya Mangayubagya Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-80. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat kepada pemimpin daerah yang dikenal dekat dengan warganya.

Kirab dimulai dari kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, kemudian bergerak menyusuri Jalan Pangurakan, melintasi sisi timur Alun-Alun Utara, dan berakhir di Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta.

 Rute yang dilalui sarat dengan simbol-simbol budaya, memberikan pengalaman visual yang mengesankan bagi ribuan penonton.

Acara ini diikuti oleh mantri pamong praja, lurah, serta unsur Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) se-Kota Yogyakarta, menampilkan busana adat yang anggun dan sarat nilai budaya.

Para peserta putra mengenakan baju peranakan berwarna biru dengan wiru engkol tanpa keris, sementara peserta putri tampil elegan dengan kebaya hitam model Kartini lengkap sanggul tekuk.

Penampilan ini tidak hanya menambah kekhidmatan prosesi, tetapi juga memperlihatkan kecintaan masyarakat dan perangkat daerah terhadap tradisi lokal.

Sebagaimana dilansir riwara.id dari laman resmi Pemerintah Kota Yogyakarta pada hari ini, 2 April 2026, kirab ini menjadi simbol kuat pelestarian budaya di tengah modernisasi kota.

Kota Yogyakarta mendapatkan kehormatan sebagai bregada urutan pertama dalam kirab, disusul oleh Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, hingga Gunungkidul.

Setiap bregada membawa hasil bumi maupun produk unggulan dari wilayah masing-masing sebagai simbol kemakmuran dan keberagaman kekayaan daerah.

Dari bakpia khas Pakuncen hingga lemper dan ayam goreng Kampung Jagalan, ragam kuliner tradisional ini menambah warna pada prosesi budaya.

Adika Wisnu, peserta kirab dari Kelurahan Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. “Banyak masyarakat luar Jogja yang sangat antusias dengan acara ini, beginilah wujud Jogja istimewa,” ujarnya.

Kelurahan Pakuncen membawa bakpia dan ketupat dengan rombongan sebanyak 28 orang. Wisnu turut mendoakan agar Sri Sultan selalu diberikan kesehatan dan umur panjang, serta tetap menjadi pelindung bagi masyarakat.

Sementara itu, Andi Astono dari Kelurahan Purwokinanti, Kemantren Pakualaman, menilai bahwa kirab ini sarat makna budaya dan simbol gotong royong. Kelurahan Purwokinanti membawa lemper dan ayam goreng khas Kampung Jagalan dengan rombongan 15 orang.

“Kemeriahan ini dibalut dengan kebudayaan yang mencerminkan Jogja. Ini juga menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya,” jelas Andi.

Persiapan yang matang, mulai dari busana adat hingga koordinasi internal, menjadi kunci suksesnya partisipasi setiap kelurahan.

Bayu Wijayanto dari Kemantren Mergangsan menambahkan, kirab ini juga menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi antar wilayah.

Kemantren Mergangsan membawa sayuran segar hasil panen warga serta wajik, produk unggulan Kelurahan Wirogunan. “Acara ini sangat menarik karena dihadiri masyarakat dan perangkat wilayah se-DIY, sehingga mempererat silaturahmi,” katanya.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari kehadiran warga dari berbagai daerah. Salah satunya Umi Rokiyah, warga Sayegan, yang sengaja datang untuk menyaksikan prosesi budaya tersebut secara langsung.

 “Saya datang khusus ingin melihat kemeriahan acara ini secara langsung,” tuturnya.

Kehadiran warga dari berbagai kalangan ini menunjukkan bahwa kirab Mangayubagya Yuswa Dalem tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun Sri Sultan HB X, tetapi juga menjadi ajang pelestarian budaya serta penguatan kebersamaan masyarakat.

Kemeriahan kirab juga diperkuat dengan adanya bregada dari Kabupaten Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul, yang masing-masing menampilkan potensi unggulan wilayahnya.

Dari hasil bumi hingga kerajinan lokal, setiap bregada menunjukkan identitas dan kekayaan budaya masing-masing daerah. Hal ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memahami dan mengapresiasi keberagaman tradisi yang ada di DIY.

Selain aspek budaya, kirab juga menjadi media edukasi bagi generasi muda. Banyak anak-anak dan remaja yang ikut menyaksikan prosesi, belajar mengenal busana adat, serta memahami makna di balik setiap simbol yang dibawa peserta. Momentum ini menjadi salah satu cara efektif untuk menanamkan rasa cinta terhadap bu daya lokal sejak dini.

Semangat gotong royong juga tampak begitu kental, terlihat dari persiapan yang dilakukan bersama-sama oleh perangkat wilayah, abdi dalem, serta masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Jogja tidak hanya hidup di keraton, tetapi juga tumbuh kuat di tengah masyarakat.

Acara kirab Mangayubagya Yuswa Dalem Sri Sultan HB X ke-80 menjadi simbol keistimewaan Yogyakarta, di mana nilai budaya, kebersamaan, dan rasa hormat terhadap pemimpin daerah berjalan beriringan. Kirab ini tidak hanya menjadi tontonan meriah, tetapi juga wahana bagi masyarakat untuk mengekspresikan identitas budaya mereka dengan cara yang elegan dan penuh makna.

“Semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya lokal tampak begitu kental, menjadikan peringatan ini sebagai simbol keistimewaan Yogyakarta yang tetap terjaga hingga kini,” ujar salah satu warga yang hadir.

Dengan hadirnya ribuan warga dan partisipasi aktif perangkat daerah, kirab budaya ini membuktikan bahwa tradisi Yogyakarta tetap hidup, relevan, dan terus menjadi kebanggaan masyarakat, seiring dengan usia Sri Sultan HB X yang kini memasuki 80 tahun.*

Ribuan warga Yogyakarta menyaksikan kirab budaya Mangayubagya Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X ke-80. Acara sarat budaya ini mempererat silaturahmi dan menegaskan keistimewaan Jogja, dilansir riwara.id dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta, 2 April 2026.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News