KARANGANYAR, RIWARA.id - Sebuah sumur tua di tengah hutan sakral mendadak menjadi sorotan saat Menteri Kebudayaan turun langsung menimba air, menghadirkan kembali jejak tradisi dan spiritualitas Jawa yang jarang tersentuh.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menarik perhatian saat menimba air dari sumur tua di kawasan Alas Krendowahono, Jumat, 27 Maret 2026.
Momen tersebut terjadi dalam rangkaian kunjungan kerja ke situs budaya yang berada di Desa Krendowahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Dalam dokumentasi yang diunggah akun resmi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli tampak mencoba menimba air secara langsung dari sumur yang berada di kawasan petilasan tersebut.
“Saya masih ngalami menimba seperti ini,” ujar Fadli dalam unggahan terseb ut.
Aksi sederhana itu menjadi simbol kedekatan dengan tradisi sekaligus refleksi atas jejak sejarah yang masih hidup di tengah masyarakat.
Kawasan Alas Krendowahono dikenal memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat dalam tradisi Jawa.
Secara kultural, kawasan ini dipahami sebagai salah satu ruang sakral yang berkaitan dengan sistem kosmologi Jawa, termasuk konsep “Kiblat Sekawan” yang menghubungkan empat penjuru spiritual.
Dalam tradisi lokal, Alas Krendowahono juga kerap disebut sebagai bagian dari lanskap budaya yang memiliki keterkaitan dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, khususnya sebagai wilayah simbolik di sisi utara.
Selain itu, kawasan ini dalam kepercayaan masyarakat setempat disakralkan dan sering menjadi lokasi pelaksanaan ritual tradisi, termasuk upacara Mahesa Lawung yang berkaitan dengan permohonan keselamatan.
Meski demikian, pendekatan pengembangan kawasan tetap diarahkan pada pelestarian nilai budaya ya ng dapat dipahami secara edukatif dan terbuka bagi publik.
Kunjungan Fadli ke lokasi tersebut juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai spiritual dan pengembangan situs budaya sebagai ruang edukasi.
Dalam kesempatan terpisah, Fadli menyatakan bahwa situs budaya seperti Alas Krendowahono tidak hanya menyimpan nilai sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan memori kolektif masyarakat.
Pengelolaannya, kata dia, perlu dilakukan secara hati-hati dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat lokal dan unsur budaya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri GKR Koes Moertiyah Wandansari, KPH Eddy Wirabhumi, serta jajaran Kementerian Kebudayaan.
Pemerintah berharap, penguatan situs budaya seperti Alas Krendowahono dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran sejarah sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa di tengah perubahan zaman.*
Inung R Sulistyo






Momen Fadli Zon menimba air di sumur tua Alas Krendowahono soroti nilai sejarah dan spiritual kawasan sakral di Karanganyar.