KARANGANYAR, RIWARA.id - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengunjungi situs Watu Gilang yang berada di kawasan Alas Krendowahono, Jumat, 27 Maret 2026.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peninjauan situs budaya di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, yang dinilai memiliki nilai sejarah dan spiritual penting dalam tradisi Jawa.
Watu Gilang dikenal sebagai salah satu titik penting di kawasan tersebut. Secara lokal, batu besar yang berada dalam cungkup ini dikaitkan dengan aktivitas pertapaan Sunan Pakubuwono VI.
Dalam narasi yang berkembang di masyarakat, lokasi ini juga kerap dihubungkan dengan pertemuan antara Pangeran Diponegoro dan Sunan Pakubuwono VI dalam rangka menyusun strategi perlawanan terhadap kolonialisme pada awal abad ke-19.
Kendati demikian, keterkaitan historis tersebut lebih banyak hidup dalam tradisi lisan dan keyakinan lokal, sehingga tetap memerlukan kajian akademik lebih lanjut.
Alas Krendowahono sendiri dikenal sebagai kawasan budaya yang memiliki lapisan sejarah dan spiritual yang kuat. Dalam perspektif budaya Jawa, kawasan ini kerap dikaitkan dengan sistem kosmologi dan ruang-ruang sakral yang memiliki fungsi simbolik.
Menurut keterangan juru kunci setempat, Ki Darsono, nama Krendowahono memiliki beragam makna. Salah satunya berasal dari kata “keranda” dan “wahana” yang merujuk pada fungsi masa lalu sebagai tempat pembuangan narapidana. Di sisi lain, nama tersebut juga dimaknai sebagai tempat atau sarana untuk memohon kepada Yang Maha Esa.
Selain nilai sejarah, kawasan ini juga dikenal dalam tradisi spiritual masyarakat sebagai ruang yang disakralkan. Dalam kepercayaan lokal, Alas Krendowahono dikaitkan dengan sosok Bathari Kalayuwati yang diyakini sebagai pelindung simbolik kawasan utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Sejumlah tradisi budaya masih dilestarikan di kawasan ini, salah satunya ritual Mahesa Lawung yang telah berlangsung sejak era Mataram. Ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keseimbangan, dengan melibatkan berbagai unsur sesaji.
Meski memiliki nilai spiritual yang kuat, pengembangan kawasan tetap diarahkan pada pendekatan pelestarian yang edukatif dan inklusif bagi publik.
Kunjungan Fadli Zon ke Watu Gilang menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong pemetaan dan penguatan situs budaya berbasis sejarah lokal.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan nilai budaya sekaligus membuka peluang pengembangan sebagai destinasi wisata sejarah yang tetap menghormati kearifan lokal.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Pengangen Sasana Wilapa dan Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Koes Moertiyah Wandansari, KPH Eddy Wirabhumi, serta jajaran Kementerian Kebudayaan.
Pengembangan situs seperti Watu Gilang diharapkan tidak hanya menjaga jejak sejarah, tetapi juga memperkuat identitas budaya dan memori kolektif masyarakat di tengah perubahan zaman.*
Inung R Sulistyo






Fadli Zon mengunjungi Watu Gilang di Alas Krendowahono, Karanganyar, situs yang dikaitkan dengan jejak Diponegoro dan sejarah perlawanan Jawa.