SOLO, Riwara.id — Pertimbangan dalam memilih seorang pemimpin Karaton Surakarta tidak hanya didasarkan pada faktor keturunan atau nasab semata. Kemampuan mengayomi keluarga besar karaton, memahami adat, dan menjalankan tanggung jawab juga menjadi aspek penting yang diperhatikan.
Hal tersebut disampaikan narasumber Karaton Surakarta, KRMH Saptono Djati, saat menjelaskan proses penetapan Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi sebagai penerus takhta Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Menurutnya, keluarga besar Karaton Surakarta melakukan berbagai pertimbangan sebelum akhirnya memberikan kepercayaan kepada KGPH Hangabehi yang kemudian dinobatkan sebagai Sinuhun Paku Buwono XIV Hangabehi.
"Pemilihan beliau bukan keputusan yang diambil secara tergesa-gesa. Banyak pertimbangan yang menjadi dasar keluarga besar Karaton Surakarta dan trah Mataram Islam Surakarta dalam memberikan kepercayaan kepada beliau," ujar Saptono Djati kepada Riwara.id, Senin 1 Juni 2025.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Karaton Surakarta, seorang pemimpin tidak hanya dipandang sebagai simbol adat, tetapi juga sebagai figur yang mampu menjadi pengayom bagi keluarga besar karaton dan abdi dalem.
Sosok Pemimpin yang Mengayomi
Menurut Saptono Djati, KGPH Hangabehi dikenal sebagai pribadi yang santun, memahami tata adat, serta aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan karaton.
Selain itu, kemampuan berkomunikasi dan menjaga hubungan baik dengan berbagai unsur keluarga besar karaton juga menjadi salah satu pertimbangan penting.
"Beliau dikenal santun, bertanggung jawab, memahami tata adat, serta memiliki kemampuan mengayomi keluarga besar karaton, sentana dalem, maupun abdi dalem," katanya.
Menurutnya, karakter kepemimpinan semacam itu menjadi kebutuhan penting bagi Karaton Surakarta yang memiliki sejarah panjang dan melibatkan banyak unsur keluarga besar.
Menjaga Warisan Leluhur
Saptono Djati mengatakan, tantangan seorang pemimpin karaton saat ini tidak hanya berkaitan dengan urusan internal keluarga, tetapi juga menjaga keberlangsungan adat, budaya, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur.
Karena itu, keluarga besar Karaton Surakarta disebut mempertimbangkan sosok yang dinilai memiliki komitmen terhadap pelestarian budaya.
"Karaton membutuhkan figur yang mampu menjadi pengayom, pemersatu, dan teladan. Seorang pemimpin harus hadir untuk menjalankan tanggung jawabnya terhadap keluarga besar karaton, adat istiadat, serta warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur," ujarnya.
Dukungan dalam Kegiatan Adat
Pandangan serupa juga disampaikan BRM Nugroho Imam Santoso, putra almarhum GPH Notopuro sekaligus cucu Paku Buwono XI.
Ia mengaku melihat langsung kebersamaan para sentana dalam pelaksanaan Kirab Grebeg Besar Karaton Surakarta pada 28 Mei 2026.
Menurutnya, kehadiran berbagai unsur keluarga besar karaton dalam kegiatan adat tersebut menunjukkan semangat menjaga persatuan dan kelestarian budaya.
"Hal ini menunjukkan semangat kebersamaan dan persatuan di lingkungan Kasunanan Surakarta. Semoga ke depan dukungan yang semakin kuat ini dapat semakin memantapkan posisi Sinuhun dalam memimpin dan mengayomi Kasunanan Surakarta demi kelestarian adat, budaya, dan nilai-nilai luhur warisan leluhur," ujarnya.
Saptono Djati menambahkan bahwa keberlangsungan Karaton Surakarta pada akhirnya tidak hanya bergantung pada figur pemimpinnya, tetapi juga dukungan seluruh keluarga besar, sentana, dan abdi dalem dalam menjaga warisan budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun.*
KRMH Saptono Djati menjelaskan alasan keluarga besar Karaton Surakarta memilih pemimpin yang mampu mengayomi, memahami adat, dan menjaga warisan budaya.