Dari Sultan Fattah, Pakubuwono XII hingga Pakubuwono XIV, Tradisi Sakral yang Menyatukan Agama, Budaya, dan Masyarakat Jawa
SOLO, Riwara.id – Di tengah derasnya arus modernisasi, perkembangan teknologi, dan perubahan gaya hidup masyarakat, masih ada sebuah tradisi yang mampu bertahan melintasi zaman. Tradisi itu adalah Grebeg Besar Karaton Surakarta Hadiningrat, sebuah warisan budaya Jawa-Islam yang telah hidup selama lebih dari lima abad.
Kamis (28/5/2026), ribuan masyarakat kembali memadati kawasan Karaton Surakarta Hadiningrat, Alun-alun Utara, hingga Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta untuk menyaksikan pelaksanaan Hajad Dalem Grebeg Besar Iduladha 2026.
Namun Grebeg Besar tahun ini memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar perayaan tahunan.
Untuk pertama kalinya sejak dinobatkan sebagai Raja Karaton Surakarta Hadiningrat pada 13 November 2025, Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi memimpin langsung Grebeg Besar sebagai Raja Kasunanan Surakarta.
Momentum tersebut menjadi penanda berlanjutnya sebuah tradisi yang telah melewati berbagai kerajaan, pergantian zaman, dan perubahan sosial selama ratusan tahun.
Tradisi yang Berusia Lebih dari 500 Tahun
Banyak masyarakat mengira Grebeg Besar lahir pada masa Kasunanan Surakarta. Padahal sejarahnya jauh lebih tua.
Tradisi Grebeg Besar pertama kali diselenggarakan pada tahun 1506 Masehi atau 1428 Tahun Saka pada masa Kesultanan Demak di bawah pemerintahan Sultan Fattah atau Raden Patah.
Saat itu, para Wali Songo menggunakan pendekatan budaya sebagai sarana dakwah Islam kepada masyarakat Jawa. Salah satu tokoh yang paling dikenal dalam pengembangan tradisi tersebut adalah Sunan Kalijaga.
Melalui Grebeg, ajaran Islam diperkenalkan tanpa menghilangkan akar budaya lokal yang telah hidup di tengah masyarakat.
Pendekatan inilah yang kemudian menjadikan Grebeg sebagai salah satu tradisi Islam Nusantara yang mampu bertahan lintas generasi.
Dari Kesultanan Demak, tradisi tersebut diwariskan ke Kesultanan Pajang, Kerajaan Mataram Islam, hingga akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Makna Grebeg yang Sesungguhnya
Kata Grebeg berasal dari istilah Jawa "grebe" atau "gerbeg" yang berarti suara angin yang bergerak bersama-sama.
Sementara dalam istilah Jawa dikenal kata "anggrebeg" yang berarti mengiringi atau menggiring raja, para pembesar kerajaan, maupun pengantin dalam sebuah prosesi besar.
Makna tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah upacara kerajaan yang melibatkan raja, abdi dalem, prajurit, dan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan yang penuh simbol.
Karena dilaksanakan pada bulan Besar atau Zulhijah untuk memperingati Hari Raya Iduladha, maka tradisi tersebut dikenal sebagai Grebeg Besar.
Dalam filosofi Jawa, Grebeg Besar bukan sekadar seremoni budaya, tetapi merupakan simbol hubungan antara manusia, alam, pemimpin, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Dari Pakubuwono XII Hingga Pakubuwono XIV
Di lingkungan Kasunanan Surakarta, pelaksanaan Grebeg Besar pada hari kedua setelah Iduladha merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak masa Pakubuwono XII.
Tradisi tersebut diterapkan agar sentana dalem dan abdi dalem dapat terlebih dahulu melaksanakan Iduladha bersama keluarga masing-masing pada hari pertama.
Setelah itu, seluruh keluarga besar Karaton berkumpul kembali untuk melaksanakan Hajad Dalem Grebeg Besar.
Tradisi yang diwariskan Pakubuwono XII tersebut terus dijaga hingga kini oleh Pakubuwono XIV Hangabehi.
Hal itu menjadi bukti bahwa Grebeg Besar bukan hanya warisan masa lalu, melainkan tradisi hidup yang terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Grebeg Perdana Pakubuwono XIV
Pelaksanaan Grebeg Besar 2026 menjadi perhatian besar masyarakat karena merupakan Grebeg pertama yang dipimpin langsung Pakubuwono XIV Hangabehi sejak dinobatkan sebagai Raja Karaton Surakarta.
Prosesi dimulai dari Bangsal Maligi Karaton Surakarta.
Dari tempat tersebut, Sinuhun memberikan dawuh dalem kepada para sentana dalem, abdi dalem, dan prajurit Karaton yang telah berbaris di pelataran kawasan dalam Karaton.
Suasana berlangsung khidmat.
Setelah menerima dawuh dalem, kirab gunungan bergerak keluar dari kawasan inti Karaton melewati Sitihinggil Lor, Pagelaran, Alun-alun Utara, hingga menuju Masjid Gede Surakarta yang kini lebih dikenal sebagai Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta.
Sepanjang jalur kirab, ribuan masyarakat berdiri menyaksikan prosesi budaya yang telah menjadi bagian dari identitas Kota Solo tersebut.
Gunungan, Simbol Kehidupan Masyarakat Jawa
Pusat perhatian dalam Grebeg Besar adalah Gunungan Jaler dan Gunungan Estri.
Kedua gunungan tersebut bukan sekadar susunan hasil bumi dan makanan tradisional.
Dalam filosofi Jawa, gunungan merupakan simbol kehidupan.
Gunungan Jaler melambangkan unsur laki-laki, kekuatan, kesuburan, dan sumber kehidupan.
Isinya berupa berbagai hasil bumi seperti cabai, kacang panjang, terong, dan sayuran lainnya.
Sementara Gunungan Estri melambangkan unsur perempuan, kesejahteraan, keharmonisan keluarga, dan kemakmuran.
Isi utamanya berupa rengginan serta berbagai olahan ketan yang telah matang.
Kedua gunungan dibungkus menggunakan kain guloklopo merah putih yang memiliki makna keseimbangan antara laki-laki dan perempuan.
Dalam pandangan Jawa, keseimbangan adalah dasar terciptanya kehidupan yang harmonis.
Mengapa Gunungan Diperebutkan?
Setelah didoakan di Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta, gunungan kemudian diparingkan kepada masyarakat.
Dalam hitungan menit, Gunungan Jaler dan Gunungan Estri habis diperebutkan warga.
Tradisi ini dikenal dengan istilah ngalap berkah.
Masyarakat percaya bahwa hasil bumi maupun rengginan yang berasal dari gunungan membawa keberkahan, keselamatan, kesehatan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Sebagian warga menyimpan hasil gunungan di rumah.
Sebagian lainnya menanam kembali hasil bumi tersebut di sawah dan kebun sebagai simbol harapan memperoleh panen yang melimpah.
Rengginan yang Menyimpan Warisan Leluhur
Salah satu bagian paling menarik dari Gunungan Estri adalah rengginan.
Tidak semua orang mampu membuat rengginan yang digunakan dalam gunungan Karaton Surakarta.
Pembuatan rengginan membutuhkan keterampilan khusus yang diwariskan turun-temurun.
Prosesnya dimulai dari memasak beras ketan menggunakan dandang tradisional, kemudian dicetak, dijemur selama empat hingga lima hari, digoreng, dan dironce hingga membentuk susunan gunungan.
Tahap penjemuran menjadi proses paling menentukan.
Jika cuaca tidak mendukung, proses tersebut dapat berlangsung lebih lama.
Karena itu, rengginan gunungan tidak hanya bernilai kuliner, tetapi juga merupakan bagian dari warisan budaya yang masih terjaga hingga hari ini.
Prajurit dan Abdi Dalem, Penjaga Tradisi Sesungguhnya
Di balik kemegahan Grebeg Besar terdapat para prajurit dan abdi dalem yang selama puluhan tahun menjaga keberlangsungan tradisi.
Prajurit Karaton tampil dengan busana adat lengkap, membawa tombak dan atribut tradisional yang menjadi simbol kewibawaan Kasunanan Surakarta.
Sementara para abdi dalem memastikan seluruh prosesi berjalan sesuai tata cara yang diwariskan leluhur.
Mereka menjadi penjaga memori budaya yang memungkinkan tradisi Grebeg Besar tetap hidup hingga sekarang.
Empat Sapi Kurban dan Kepedulian Sosial
Pada Grebeg Besar 2026, Karaton Surakarta juga membagikan empat ekor sapi kurban kepada abdi dalem, sentana dalem, dan masyarakat.
Pembagian kurban menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus pengingat bahwa Grebeg Besar tidak hanya memiliki dimensi budaya dan spiritual, tetapi juga nilai kemanusiaan.
Nilai berbagi tersebut menjadi bagian penting dari filosofi Iduladha yang terus dijaga Karaton Surakarta.
Ketika Raja Duduk Bersama Rakyat
Momen yang paling menyentuh terjadi setelah seluruh rangkaian Grebeg Besar selesai.
Para abdi dalem kembali menuju Pagelaran Karaton Surakarta untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Dinas Kesehatan Kota Surakarta bekerja sama dengan Puskesmas Gajahan dan Puskesmas Jayengan.
Di tengah kegiatan tersebut, Pakubuwono XIV Hangabehi tampak duduk dan berbaur bersama abdi dalem serta masyarakat yang mengikuti pemeriksaan kesehatan.
Tidak ada jarak yang mencolok.
Tidak ada sekat yang membatasi.
Pemandangan itu memperlihatkan kedekatan seorang raja dengan rakyatnya sekaligus menjadi simbol bahwa Karaton tetap hadir dalam kehidupan masyarakat modern.
Bukti Karaton Surakarta Tetap Hidup
Banyak kerajaan di dunia kini hanya menjadi bagian dari buku sejarah atau destinasi wisata.
Namun Karaton Surakarta menunjukkan sesuatu yang berbeda.
Melalui Grebeg Besar, Karaton tetap menjalankan fungsi budaya, sosial, spiritual, dan kemasyarakatan.
Ribuan warga yang hadir menjadi bukti bahwa tradisi masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan modern.
Generasi muda datang untuk mengenal budaya leluhur.
Wisatawan datang untuk menyaksikan kekayaan tradisi Jawa.
Masyarakat datang untuk mencari berkah dan menjaga hubungan emosional dengan warisan budaya mereka.
Semuanya bertemu dalam satu ruang yang sama: Grebeg Besar.
Lebih dari lima abad setelah pertama kali diperkenalkan oleh para Wali Songo pada era Kesultanan Demak, Grebeg Besar tetap bertahan hingga hari ini.
Dari Sultan Fattah, para raja Mataram, Pakubuwono XII, hingga kini dipimpin Pakubuwono XIV Hangabehi, tradisi tersebut terus menjadi jembatan antara agama, budaya, dan masyarakat.
Di tengah dunia yang terus berubah, Grebeg Besar kembali membuktikan bahwa warisan budaya yang hidup bukan hanya dikenang, tetapi terus dijalankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lebih dari 500 tahun bertahan, Grebeg Besar Karaton Surakarta menjadi bukti hidupnya tradisi Jawa-Islam dari era Sultan Fattah hingga Pakubuwono XIV.