Grebeg Perdana Pakubuwono XIV, Ribuan Warga Padati Karaton Surakarta dan Berebut Berkah Gunungan

Sabtu, 30 Mei 2026 | 04:05 WIB
Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi memimpin Grebeg Besar Iduladha 2026 dari Bangsal Maligi Karaton Surakarta Hadiningrat Prosesi kirab Gunungan Jaler dan Gunungan Estri menuju Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta
Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi memimpin Grebeg Besar Iduladha 2026 dari Bangsal Maligi Karaton Surakarta Hadiningrat Prosesi kirab Gunungan Jaler dan Gunungan Estri menuju Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Momen Bersejarah Setelah Penobatan Raja, Tradisi Sakral Grebeg Besar Iduladha 2026 Satukan Karaton dan Masyarakat

SOLO, Riwara.id – Ribuan warga memadati kawasan Karaton Surakarta Hadiningrat, Alun-alun Utara hingga Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta pada Kamis (28/5/2026) untuk menyaksikan momen bersejarah Grebeg Besar Iduladha 2026.

Perhelatan budaya tahunan ini memiliki makna yang jauh lebih istimewa dibanding tahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya sejak dinobatkan sebagai Raja Karaton Surakarta Hadiningrat pada 13 November 2025, Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi memimpin langsung Hajad Dalem Grebeg Besar sebagai penguasa adat Kasunanan Surakarta.

Momen tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan Karaton Surakarta sekaligus simbol berlanjutnya tradisi budaya Jawa yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai daerah tampak memadati kawasan Karaton. Tidak hanya warga Solo Raya, tetapi juga masyarakat dari Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Sragen hingga Yogyakarta datang untuk menyaksikan prosesi yang hanya digelar setahun sekali tersebut.

Dipimpin Langsung dari Bangsal Maligi

Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi memimpin Grebeg Besar Iduladha 2026 dari Bangsal Maligi Karaton Surakarta Hadiningrat Prosesi kirab Gunungan Jaler dan Gunungan Estri menuju Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta
Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi memimpin Grebeg Besar Iduladha 2026 dari Bangsal Maligi Karaton Surakarta Hadiningrat Prosesi kirab Gunungan Jaler dan Gunungan Estri menuju Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Prosesi Grebeg Besar dimulai dari Bangsal Maligi Karaton Surakarta, tempat Pakubuwono XIV Hangabehi memberikan dawuh dalem kepada para sentana dalem, abdi dalem dan prajurit Karaton yang telah berbaris rapi di pelataran.

Suasana berlangsung khidmat dan penuh wibawa.

Setelah menerima dawuh dalem, para abdi dalem dan pembawa gunungan mulai bergerak keluar dari kawasan inti Karaton menuju Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta.

Kirab berlangsung melalui Sitihinggil Lor, Pagelaran, Alun-alun Utara, kemudian menuju Masjid Agung yang dahulu dikenal sebagai Masjid Gede Surakarta.

Sepanjang perjalanan, masyarakat memadati sisi kanan dan kiri jalur kirab untuk menyaksikan langsung prosesi sakral tersebut.

Kehadiran ribuan warga menunjukkan bahwa Grebeg Besar bukan hanya milik Karaton, melainkan telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Surakarta.

Gunungan Jaler dan Estri Jadi Pusat Perhatian

Gunungan Jaler
Gunungan Jaler (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Seperti tradisi Grebeg Besar pada umumnya, perhatian masyarakat tertuju pada dua gunungan utama, yakni Gunungan Jaler dan Gunungan Estri.

Gunungan Jaler berbentuk meruncing dan berisi berbagai hasil bumi seperti cabai, kacang panjang, terong, serta aneka sayuran. Dalam filosofi Jawa, gunungan ini melambangkan unsur laki-laki, kekuatan, kesuburan dan sumber kehidupan.

Sementara Gunungan Estri berbentuk lebih membulat dan berisi rengginan serta berbagai olahan ketan matang yang melambangkan unsur perempuan, kemakmuran, kesejahteraan dan keharmonisan kehidupan.

Abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat mengawal prosesi sakral Grebeg Besar Iduladha 2026 yang dipimpin langsung Pakubuwono XIV
Abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat mengawal prosesi sakral Grebeg Besar Iduladha 2026 yang dipimpin langsung Pakubuwono XIV (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Kedua gunungan dibungkus menggunakan kain guloklopo merah putih yang memiliki filosofi keseimbangan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan.

Menurut tradisi Karaton, seluruh isi gunungan merupakan simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil bumi yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Rengginan Warisan Turun-Temurun

Gunungan Estri
Gunungan Estri (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Salah satu bagian yang paling unik dalam Gunungan Estri adalah rengginan yang menjadi isi utamanya.

Tidak banyak masyarakat mengetahui bahwa proses pembuatan rengginan gunungan membutuhkan keterampilan khusus yang diwariskan secara turun-temurun.

Prosesnya dimulai dari pengolahan beras ketan menggunakan metode tradisional. Setelah dimasak, ketan dicetak, dijemur selama empat hingga lima hari, kemudian digoreng dan dironce hingga membentuk susunan yang menjadi bagian dari gunungan.

Jika cuaca kurang mendukung, proses penjemuran dapat berlangsung lebih lama.

Karena itu, tidak semua orang memiliki kemampuan membuat rengginan khusus untuk kebutuhan Grebeg Besar Karaton Surakarta.

Tradisi tersebut hingga kini masih dijaga sebagai bagian dari warisan budaya Jawa yang terus lestari.

Gunungan Ludes dalam Hitungan Menit

Warga dan abdi dalem Keraton Surakarta berebut gunungan saat Grebeg Besar Tahun Dal di pelataran Masjid Agung
Warga dan abdi dalem Keraton Surakarta berebut gunungan saat Grebeg Besar Tahun Dal di pelataran Masjid Agung (Foto: Ari Kristyono)

 

Setibanya di halaman Masjid Agung Kagungan Dalem Karaton Surakarta, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama sebelum gunungan dibagikan kepada masyarakat.

Begitu prosesi selesai, ribuan warga langsung bergerak mendekati gunungan.

Dalam hitungan menit, Gunungan Jaler maupun Gunungan Estri habis diperebutkan masyarakat.

Tradisi ini dikenal dengan istilah ngalap berkah.

Masyarakat percaya bahwa hasil bumi maupun rengginan yang berasal dari gunungan membawa keberkahan, keselamatan dan harapan akan rezeki yang lebih baik.

Sebagian warga membawa pulang hasil gunungan untuk disimpan di rumah, sementara yang lain menanam kembali hasil bumi tersebut di sawah atau pekarangan.

Empat Ekor Sapi Kurban Dibagikan

Selain pelaksanaan Grebeg Besar, Karaton Surakarta juga menyalurkan empat ekor sapi kurban kepada abdi dalem, sentana dalem dan masyarakat.

Pembagian hewan kurban tersebut menjadi bagian dari peringatan Iduladha sekaligus bentuk kepedulian sosial Karaton kepada masyarakat.

Nilai berbagi dan gotong royong menjadi salah satu pesan utama yang terus dijaga dalam setiap pelaksanaan Grebeg Besar.

Pakubuwono XIV Berbaur dengan Rakyat

Pakubuwono XIV Hangabehi duduk berbaur bersama abdi dalem dan masyarakat saat mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di Pagelaran Karaton Surakarta usai Grebeg Besar Iduladha 2026
Pakubuwono XIV Hangabehi duduk berbaur bersama abdi dalem dan masyarakat saat mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis di Pagelaran Karaton Surakarta usai Grebeg Besar Iduladha 2026 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Momen menarik lainnya terjadi setelah seluruh rangkaian Grebeg Besar selesai dilaksanakan.

Para abdi dalem kembali menuju kawasan Pagelaran Karaton Surakarta untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Dinas Kesehatan Kota Surakarta bekerja sama dengan Puskesmas Gajahan Kecamatan Pasar Kliwon dan Puskesmas Jayengan Kecamatan Serengan.

Di tengah kegiatan tersebut, Pakubuwono XIV Hangabehi tampak duduk dan berbaur bersama abdi dalem serta masyarakat yang mengikuti pemeriksaan kesehatan.

Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat sepanjang kegiatan berlangsung.

Kehadiran Sinuhun menjadi simbol keteladanan sekaligus pesan penting mengenai pentingnya menjaga kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Momen itu juga memperlihatkan kedekatan seorang Raja dengan rakyat yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya Jawa.

Gusti Moeng: Wujud Syukur dan Pengabdian

Pakubuwono XIV Pimpin Kirab Sakral Grebeg Besar 2026
Pakubuwono XIV Pimpin Kirab Sakral Grebeg Besar 2026 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd. atau yang akrab disapa Gusti Moeng, menjelaskan bahwa Grebeg Besar bukan sekadar tradisi budaya, melainkan wujud rasa syukur dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Maka dari itu, melalui kurban ini kita harus mengikhlaskan apa yang kita miliki. Apa yang dilakukan Karaton hari ini juga menjadi bagian dari wujud pengabdian dan rasa syukur," ujarnya.

Menurut Gusti Moeng, kegiatan tersebut juga melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk layanan kesehatan bagi abdi dalem dan warga yang hadir.

Tercatat sekitar 22 kabupaten turut hadir atau sowan dalam rangkaian Grebeg Besar tahun ini.

Ia berharap seluruh masyarakat terus memberikan dukungan dan doa agar Karaton Surakarta tetap lestari dan dapat menjalankan perannya sebagai pusat kebudayaan Jawa.

"Yang paling penting kami memohon doa restu seluruh masyarakat agar Karaton Surakarta tetap lestari dan dapat kembali kepada wibawanya," katanya.

Simbol Era Baru Karaton Surakarta

Pakubuwono XIV Hangabehi memimpin langsung prosesi Grebeg Besar Iduladha 2026 Karaton Surakarta Hadiningrat yang dipadati ribuan masyarakat
Pakubuwono XIV Hangabehi memimpin langsung prosesi Grebeg Besar Iduladha 2026 Karaton Surakarta Hadiningrat yang dipadati ribuan masyarakat (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Grebeg Besar Iduladha 2026 menjadi simbol dimulainya era baru Karaton Surakarta di bawah kepemimpinan Pakubuwono XIV Hangabehi.

Kehadiran ribuan masyarakat, keterlibatan sentana dalem, abdi dalem, prajurit Karaton hingga kolaborasi dengan pemerintah daerah menunjukkan bahwa Karaton Surakarta masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Jawa.

Di tengah arus modernisasi, Grebeg Besar membuktikan bahwa nilai-nilai tradisi, gotong royong, rasa syukur dan penghormatan terhadap warisan leluhur tetap hidup dan relevan.

Melalui Grebeg Besar perdana yang dipimpinnya sebagai Raja, Pakubuwono XIV tidak hanya melanjutkan tradisi yang diwariskan para leluhur Kasunanan Surakarta, tetapi juga mengirimkan pesan bahwa Karaton Surakarta Hadiningrat akan terus hadir sebagai penjaga budaya Jawa untuk generasi mendatang.*

 

Pakubuwono XIV Hangabehi memimpin Grebeg Besar perdana sejak dinobatkan sebagai Raja Karaton Surakarta. Ribuan warga memadati Solo dan berebut berkah Gunungan Jaler dan Estri.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories