RIWARA.id – Seniman tari Indonesia, Mugiyono Kasido, bersiap menerbangkan warisan budaya leluhur ke kancah internasional. Maestro tari asal Klaten ini dijadwalkan tampil dalam Aarhus Festuge di Denmark, membawa misi khusus mengenalkan khazanah topeng Panji dan wayang kulit ke publik Eropa.
Kunjungan Mugi—sapaan akrabnya—ke Denmark bukanlah yang pertama kali. Namun, kali ini ia mengusung konsep kolaborasi unik yang mempertemukan akar tradisi Jawa dengan instrumen musik dunia. Program kolaborasi budaya Indonesia-Denmark ini akan berlangsung selama tiga pekan, mulai awal September hingga pekan ketiga.
"Mas Mugi sudah berangkat kemarin, malam ini sekitar pukul 19 akan tiba di Denmark. Di sana nanti akan membawa wayang kulit dan topeng Panji dalam pentas di Aarhus nanti," ujar Nuri Aryati, istri sekaligus manager Mugi Dance, Rabu (2/9/2026).
Dalam pertunjukan tersebut, narasi topeng Panji dan visual wayang kulit akan berkelindan dengan harmoni sitar. Alat musik klasik Pakistan tersebut dimainkan oleh Jonas, seorang seniman asal Denmark yang memiliki ketertarikan mendalam pada seni Indonesia.
Jalinan kolaborasi ini bukanlah proses instan. Benih kerja sama telah ditanam sejak 2023 silam, saat Jonas mengunjungi Indonesia. Ia menghabiskan waktu untuk berlatih dan mengeksplorasi gerak di Studio Mugidance, tempat di mana kreativitas Mugi diasah.
Jonas mengaku sangat terpikat oleh kemampuan artistik Mugi yang luar biasa. Baginya, Mugi adalah sosok seniman yang mampu merespons bunyi sitar secara dinamis, namun tetap konsisten memegang teguh akar tradisi dalam setiap gerakannya.
Mugi sebelumnya mengonfirmasi bahwa pementasan di Denmark ini adalah momen nostalgia sekaligus penegasan dedikasinya. Pada tahun 2003, ia pernah menggelar tur keliling ke delapan kota di Denmark, termasuk Aarhus.
Saat itu, Mugi mementaskan karya Bagaspati, sebuah tarian topeng Panji kontemporer. Karya tersebut mendapat sambutan hangat saat ditampilkan di Kopenhagen dalam ajang Images of Asia Festival.
Untuk pementasan tahun ini, Mugi menyiapkan pertunjukan yang matang. Ia akan menampilkan tokoh-tokoh wayang kulit ikonik seperti Semar, Bagong, dan Sekartaji, yang sarat akan nilai filosofi kehidupan.
"Tokoh Panjinya sudah diwujudkan di topeng yang saya pakai dalam tarian," imbuh Mugiyono Kasido, yang baru saja menerima Anugerah Kebudayaan Jawa Tengah 2026.
Misi utama membawa kisah Panji adalah untuk mengenalkan sosok pahlawan budaya asli Jawa ini ke dunia luar. Mugi ingin menunjukkan bahwa Panji bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan simbol identitas yang masih relevan dan hidup dalam masyarakat modern.
Lahir di Klaten, Jawa Tengah, dari keluarga dalang, Mugiyono Kasido telah bergaul akrab dengan dunia pertunjukan sejak kecil. Ia mulai menari pada usia 8 tahun, dengan dasar tari Jawa klasik. Pendidikan formalnya di SMKI Surakarta dan STSI (sekarang ISI Surakarta) memperkuat teknik dan wawasan seni tarinya.
Perjalanan karier Mugi sebagai koreografer dimulai pada 1992 dengan karya tari Mati Suri yang meraih Tropi Mangkunegara IX sebagai Penyaji Terbaik Tari Kontemporer. Hingga kini, ia terus aktif melahirkan karya dan berkolaborasi dengan seniman dari berbagai negara, menjadikannya salah satu ikon seni tari kontemporer Indonesia yang diakui dunia. (*)
Mugiyono Kasido, maestro tari Klaten, terbang ke Denmark bawa misi kenalkan topeng Panji dan wayang kulit di Aarhus Festuge dalam kolaborasi unik dengan sitar Pakistan.