Hari Tari Dunia 2026: Gusti Moeng Tegaskan Keraton Surakarta Bukan Sekadar Warisan, tapi Laboratorium Budaya

Kamis, 30 April 2026 | 09:09 WIB

SURAKARTA, RIWARA.id — Peringatan Hari Tari Dunia yang digelar pada 29 April 2026 di Bangsal Smorokoto, Keraton Surakarta Hadiningrat, tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga ruang refleksi mendalam tentang masa depan kebudayaan Jawa.

Dalam kesempatan tersebut, Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Koes Moertiyah Wandansari yang kerap disapa Gusti Moeng menyampaikan pesan penting yang menggugah banyak pihak.

Di hadapan para seniman, abdi dalem, dan tamu undangan, Gusti Moeng menegaskan bahwa Keraton Surakarta tidak bisa diposisikan sekadar sebagai simbol sejarah atau destinasi budaya. Lebih dari itu, Keraton adalah pusat hidup kebudayaan yang memiliki peran strategis sejak masa lalu hingga kini.

Ia mengingatkan bahwa dalam proses berdirinya Republik Indonesia, Keraton telah memberikan kontribusi besar. Tidak hanya dalam bentuk legitimasi politik, tetapi juga melalui sumber daya manusia, pemikiran, dan peran aktif para intelektualnya. “Semua diberikan kepada negara, termasuk para ilmuwan dan tenaga pendukung negara,” ungkapnya.

Namun, di balik kontribusi tersebut, terselip kegelisahan. Gusti Moeng menyoroti bahwa hingga saat ini, peran Keraton dalam ekosistem kebudayaan nasional belum sepenuhnya mendapat perhatian yang layak. Ia menilai ada kecenderungan Keraton hanya dilihat dari sisi fisik bangunan dan seremoni tanpa memperhatikan kekuatan utama yang dimilikinya, yakni manusia dan pengetahuan budaya.

Dalam konteks itulah, ia memperkenalkan gagasan Keraton sebagai “laboratorium budaya”. Konsep ini menempatkan Keraton sebagai ruang hidup untuk proses belajar, praktik, dan regenerasi kebudayaan. “Mumpung para Gusti dan pelaku budaya masih ada, maka yang harus dijaga bukan hanya bangunannya, tetapi juga sumber daya manusianya,” tegasnya.

Gagasan ini menjadi relevan di tengah tantangan modernisasi yang kerap menggeser nilai-nilai tradisi. Menurutnya, tanpa upaya konkret dalam menjaga dan mentransmisikan pengetahuan budaya, generasi mendatang berisiko kehilangan akar identitasnya.

Salah satu upaya nyata yang telah berjalan adalah kerja sama Keraton dengan SMK Negeri 8 Surakarta. Setiap tahun, para siswa menjalani program magang di lingkungan Keraton selama kurang lebih tiga bulan. Mereka belajar langsung tentang pedalangan, tari, dan karawitan dengan pendekatan berbasis pakem Keraton.

Program ini dinilai penting sebagai jalur regenerasi. Namun, Gusti Moeng juga mengingatkan bahwa pakem Keraton kini mulai terpinggirkan. Banyak pelaku seni yang tidak lagi menjadikannya sebagai rujukan utama. Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa penguatan melalui pendidikan formal maupun nonformal, maka keaslian budaya berpotensi memudar.

“Kalau dalam pembelajaran tidak ada dan tidak diakui, ini menjadi memalukan,” ujarnya dengan nada tegas.

Selain menyoroti aspek pendidikan dan pelestarian, ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Dukungan dari pihak swasta, menurutnya, menjadi salah satu harapan dalam menjaga keberlangsungan kegiatan budaya. Ia mengapresiasi peran sejumlah pihak yang telah memberikan dukungan, baik dalam bentuk pendanaan maupun fasilitas.

Momentum Hari Tari Dunia ini pun menjadi pengingat bahwa seni pertunjukan bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk merawat nilai, etika, dan filosofi hidup. Dari gerak tari, irama gamelan, hingga lakon pedalangan, semua mengandung pesan yang relevan lintas zaman.

Di akhir pernyataannya, Gusti Moeng mengajak generasi muda, khususnya keluarga besar Keraton, untuk kembali terlibat aktif dalam proses belajar budaya. Ia berharap kesadaran kolektif dapat tumbuh, sehingga Keraton tidak kehilangan perannya sebagai pusat kebudayaan yang dinamis.

Peringatan Hari Tari Dunia di Bangsal Smorokoto tahun ini pun terasa berbeda. Di balik gemerlap pertunjukan, tersimpan pesan kuat tentang pentingnya menjaga warisan budaya bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai fondasi masa depan.*

 

Peringatan Hari Tari Dunia di Keraton Surakarta menjadi momentum refleksi. GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng menegaskan peran Keraton sebagai laboratorium budaya dan menyoroti pentingnya pelestarian berbasis SDM.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories