SURAKARTA, RIWARA.id – Keraton Surakarta Hadiningrat kembali menegaskan posisinya sebagai pusat kebudayaan Jawa melalui penyelenggaraan Kraton Art Festival 2026 yang digelar pada Rabu, 29 April 2026 di Bangsal Smarakata.
Festival ini menjadi bagian dari peringatan Hari Tari Dunia sekaligus momentum penting revitalisasi budaya yang didorong langsung oleh Sinuhun Paku Buwana XIV Hangabehi bersama jajaran Keraton Surakarta.
Acara yang dimulai pukul 18.30 WIB ini terbuka untuk umum secara gratis melalui sistem reservasi, serta disiarkan langsung melalui kanal YouTube Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta.
Suguhan Seni Adiluhung Keraton
Kraton Art Festival tahun ini menghadirkan pertunjukan seni klasik yang sarat makna filosofis, di antaranya:
Bedhaya Sukamulya, tarian sakral khas Keraton
Fragmen Topeng Sekarta ji, yang mengangkat kisah klasik Jawa
Kedua pertunjukan tersebut merepresentasikan kekayaan estetika sekaligus kedalaman nilai spiritual budaya Keraton Surakarta.
Dari visual yang dirilis, tampak para penari mengenakan busana tradisional lengkap dengan riasan khas, memperkuat nuansa sakral dan elegan yang menjadi ciri khas pertunjukan keraton.
Diplomasi Budaya hingga Mancanegara
Sebelum festival berlangsung, rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan budaya di Handrawina bersama delegasi seni dari Chile.
Pertemuan ini menjadi bagian dari diplomasi budaya Keraton Surakarta untuk memperluas jejaring internasional. Melalui interaksi informal dan pertukaran cenderamata, hubungan lintas budaya semakin diperkuat.
Langkah ini menunjukkan bahwa budaya Jawa terus bergerak melampaui batas geografis.
Orasi Kebudayaan dan Sejarah Gamelan
Dalam rangkaian festival, budayawan, penari dan koreografer Indonesia Sardono. W Kusumo turut menyampaikan orasi kebudayaan yang menyoroti fase penting dalam sejarah Keraton Surakarta.
Ia mengangkat momentum ketika gamelan Surakarta menyebar ke berbagai penjuru dunia, sebuah bukti bahwa budaya Jawa pernah memiliki pengaruh global yang kuat.
Gamelan tidak hanya dipandang sebagai alat musik, tetapi sebagai simbol peradaban dan diplomasi budaya.
Revitalisasi Keraton
Sinuhun Paku Buwana XIV menegaskan bahwa revitalisasi Keraton harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup:
aspek fisik (tangible)
nilai budaya (intangible)
Upaya ini juga didukung oleh berbagai tokoh internal Keraton, termasuk peran GKR Koes Moertiyah Wandansari, dalam membangun komunikasi strategis lintas sektor.
Sementara itu, Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua LDA, GKR Koes Moertiyah Wandansari, menegaskan pentingnya menghidupkan kembali warisan budaya.
“Warisan adiluhung ini harus dipahami dan diwariskan, bukan hanya disimpan,” ujarnya, Rabu, 29 April 2026.
Kolaborasi UNS Jadi Pilar Masa Depan
Salah satu langkah strategis yang tengah dikembangkan adalah kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui pembentukan Lembaga Studi Kebudayaan.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menjadikan Keraton sebagai pusat:
pendidikan budaya
riset ilmiah berbasis tradisi
praktik seni dan kebudayaan
Langkah ini menjadi jembatan antara dunia akademik dan warisan leluhur.
Budaya sebagai Jawaban Zaman
Di tengah arus globalisasi yang kerap memicu krisis identitas dan dehumanisasi, kebudayaan lokal justru menjadi fondasi penting.
Keraton Surakarta kini mengambil pera n strategis dalam menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut agar tetap relevan di era modern.
Melalui Kraton Art Festival 2026, pesan yang ingin disampaikan jelas: budaya bukan sekadar masa lalu, tetapi juga masa depan.*
Kraton Art Festival 2026 di Surakarta hadirkan Bedhaya Sukamulya dan Topeng Sekartaji, dorong revitalisasi budaya Jawa ke tingkat global.