RIWARA.id – Sentot Alibasya Prawirodirdjo bukan sekadar nama jalan di sudut kota Bengkulu. Sosok yang pernah dijuluki Belanda sebagai "Napoleon Jawa" ini adalah panglima perang brilian yang nasibnya berakhir tragis—terasing di tanah rantau dan nyaris hilang dari ingatan kolektif bangsa akibat narasi sejarah yang timpang.
Bagi para pengamat sejarah, ia adalah sosok yang 'dibunuh dua kali': pertama oleh taktik Belanda yang memaksanya menyerah dan mengasingkannya ke Bengkulu, dan kedua oleh sejarawan yang menghapus peran besarnya dari halaman utama sejarah Indonesia.
Lahir dari rahim perlawanan, Sentot adalah putra Raden Ronggo Prawirodirdjo III, tokoh yang menentang monopoli kolonial hingga gugur sebagai martir. Darah pejuang itu mengalir deras dalam diri Sentot.
Dalam Perang Jawa (1825–1830), Sentot muncul bukan sebagai pengikut biasa. Ia adalah taktik hidup. Gelarnya, "Ali Basah" (panglima tinggi), diberikan langsung oleh Pangeran Diponegoro sebagai pengakuan atas kecemerlangan taktisnya dalam hit-and-run warfare yang membuat militer Belanda frustrasi.
Namun, arkeolog M. Basyir Zubair menyoroti satu ironi besar yang terpendam di Desa Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Bengkulu. Makam Sentot Alibasya hingga kini minim sentuhan penelitian arkeologis sistematis.
Sementara situs-situs pra-Islam kerap mendapat perhatian konservasi ketat, situs yang berkaitan dengan perlawanan antikolonial abad ke-19 justru seolah dibiarkan dalam ketidakpastian stratigrafi.
"Makam adalah dokumen paling jujur yang pernah ada. Tidak ada propaganda di sana, tidak ada narasi yang diputarbalikkan penguasa," tulis Basyir dalam catatan arkeologisnya.
Perdebatan mengenai apakah Sentot seorang pengkhianat karena menyerahkan diri, atau patriot karena melakukan subversi diam-diam di tanah Paderi, dinilai sebagai perdebatan yang salah kaprah sejak akar metodenya.
Sejarawan dan pemerhati sejarah menilai, melabeli Sentot dengan kategori nation-state abad ke-20 untuk menjustifikasi tindakan manusia abad ke-19 adalah kesalahan fatal.
Ketika di Sumatera Barat, Sentot justru menunjukkan perlawanan "halus" dengan menolak memanggil pejabat Belanda sebagai "bapak" dan menggantinya dengan "saudara"—sebuah tindakan subversi simbolis yang sangat berani di tengah hegemoni kolonial.
Sudah saatnya ingatan kolektif kita memulihkan martabat sosok ini. Sentot Alibasya layak mendapatkan kajian ulang yang lebih proporsional, melampaui dikotomi hitam-putih yang melelahkan. Ia bukan sekadar catatan kaki dalam buku sejarah, melainkan manusia luar biasa yang menolak patah meski dipatahkan berulang kali oleh sistem yang kejam pada zamannya. (*)
Mengenal Sentot Alibasya Prawirodirdjo, "Napoleon Jawa" yang terlupakan sejarah. Simak analisis arkeologis tentang sosok panglima perang ini.