RIWARA.id - Keraton Surakarta kedatangan tamu`agung, yang membuat suasana Rabu (29/4/2026) lebih semarak dari biasanya.
Ada dua sosok yang hadir sekaligus, keduanya memiliki persamaan yakni pernah punya relasi dengan Keraton di masa lalu.
“Tamu kita malam ini Duta Besar Chile untuk Indonesia, serta Profesor Sardono W Kusumo,” terang Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta, GKR Koes Moertiyah Wandansari.
Chile, meski terletak jauh di Amerika Latin, tercatat pernah menjalin hubungan dagang dengan Surakarta yang masih berbentuk kerajaan sejak tahun 1836.
Ketika itu, dari Jawa mengalir rempah-rempah seperti lada dan kemungkinan juga kopi. Sedangkan dari Chile mungkin mengirimkan tembaga, yang di Jawa dibutuhkan untuk bahan membuat gamelan dan sebagainya.
Dubes Mario Ignacio Artaza, semalam bersama istrinya dijamu di Sasana Handrawina. Bertemu dengan SISKS Paku Buwono XIV Hangabehi dan keraba t Keraton lainnya, diplomat senior itu tampak menikmati sajian nasi gurih dan es degan yang disajikan.
Saat pertukaran cindera mata, Mario khusus mem bawakan sebotol wine yang juga merupakan hasil utama pertanian Chile, sebaliknya dia menerima plakat dan buku tentang Keraton Surakarta.
“Saya sangat senang bisa kemari, karena antara Keraton Surakarta dan negara Chile sudah terjalin hubungan baik sejak ratusan tahun lalu. Saat ini, saya rasa ada banyak yang bisa dikerjakan bersama,” ujarnya.
Koes Moertiyah menambahkan, Sinuhun PB XIV telah menerima undangan dari Dubes Chile untuk hadir di kantornya di Jakarta.
“Waktunya belum dipastikan, tapi segera. Saya kira ini bisa menjadi awal mula terjalinnya kerja sama yang baik. Tadi sempat sedikit disinggung, Chile saat ini berkonsentrasi tentang energy terbarukan dan ketahanan pangan,” tandasnya.
Makan malam ditutup dengan menyaksikan pentas tari di Bangsal Smarakata, yang menjadi bagian event Keraton Art Festival yang diadakan untuk merayakan Hari Tari Dunia.
Salah satu tari yang disajikan adalah Bedaya Suko Mulyo kreasi Gusti Moeng, nama panggilan publik untuk Koes Moertiyah.
Putri PB XII itu menyebut, tarian itu disajikan khusus saat ayahandanya berulang tahun tumbuk yuswa (hitungan 8 windu) atau 64 tahun.
“Saat itu Sinuhun berpesan kepada saya, untuk terus melestarikan budaya Jawa melalui tari-tarian, termasuk tarian Keraton yang paling sakral Bedaya Ketawang, serta menyebarkannya ke seluruh dunia,” tuturnya.
Peran Krusial Keraton di Mata Sardono W Kusumo
Tamu kedua, hadir menjelang pentas di Bangsal Smarakata, adalah Sardono W Kusumo, maestro tari yang lahir di Kemlayan, kampung tempat tinggal para abdi dalem seniman Keraton di masa lalu.
Sardono melakukan orasi kebudayaan yang intinya mengisahkan kekuatan peran kebudayaan untuk mendorong kemerdekaan Indonesia.
“Saya lahir di Solo tahun 1945 sebelum republik ini ada, karena saya lahir bulan Maret dan Indonesia merdeka bulan Agustus. Saya SD di Taman Siswa, SMP di Kasatriyan yang ada di lingkup Keraton. Gara-gara itu saya belajar mengenal kebudayaan, belajar menari,” tutur Sardono.
Mantan Rektor IKJ itu menyebut, para budayawan dan Keraton memiliki peran perjuangan yang penting.
Dia menyebut salah satu contoh, 100 pemuda dari berbagai wilayah Nusantara, menjadi siswa Sekolah Budaya Timur di kawasan Mesen, Solo.
“Dua tahun kemudian mereka mengaku bukan lagi Jong Java, Jong Celebes, Jong Molluca, tapi Jong Indonesia. Lahirlah Sumpah Pemuda yang itu menjadi modal besar untuk kemerdekaan,” urainya.
Dan, ma sih banyak peran dan sumbangsih Keraton untuk negara Republik Indonesia yang baru lahir.
Tapi yang saat ini krusial, menurut Sardono, adalah peran Keraton saat ini yang tetap harus mampu menjadi sumber inspirasi, pengetahuan dan kebudayaan sebagaimana di masa lalu.
Tanpa kekuatan kebudayaan, sebuah bangsa akan hilang terl indas zaman. Sardono menyebut saat muda dia mengena l baik putra-putri almarhum PB XII dan sentana Keraton seperti Gusti Moeng, Gusti Benowo, Kanjeng Lintang, Gusti Puger, juga Panembahan Agung Tedjowulan.
“Saat ini, peran Keraton sangat krusial. Karena itu, kepada yang hadir di sini, Kanjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan, saya titip,” tutup Sardono dengan suara lirih. (*)
Dua Tamu di Keraton Surakarta, Dubes Chile dan Budayawan Sardono W Kusumo ingatkan peran Keraton Surakarta tetap relevan di semua zaman.