Beri Layanan Kesehatan bagi Masyarakat Terdampak Karhutla, Kemenkes Siagakan 848 Tenaga Medis

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:13 WIB
Kemenkes Siagakan 848 Tenaga Medis untuk Layanan Kesehatan bagi Masyarakat Terdampak Karhutla
Kemenkes Siagakan 848 Tenaga Medis untuk Layanan Kesehatan bagi Masyarakat Terdampak Karhutla (Foto: kemkes.go.id)

RIWARA.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Indonesia. Upaya itu untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan kesehatan serta perlindungan dari risiko akibat paparan asap karhutla.

Hingga 27 Agustus 2026, Kemenkes telah menyiagakan 848 tenaga kesehatan di tujuh provinsi yang terdampak Karhutla. Tenaga kesehatan tersebut terdiri dari dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, analis, tenaga farmasi, epidemiolog, sanitarian, serta tenaga pendukung lainnya.

Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono, mengatakan berdasarkan Situation Report Kemenkes, karhutla berdampak pada tujuh provinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Total jumlah penduduk yang terdampak mencapai 10.674.201 orang. Dari jumlah tersebut, 123 orang luka berat atau menjalani rawat inap, 2 orang luka ringan atau menjalani rawat jalan, dan tercatat tidak ada korban meninggal maupun pengungsi.

“Karhutla tidak hanya berdampak terhadap rusaknya lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan terutama akibat paparan asap. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dengan pelayanan kesehatan yang optimal,” ujar Prof. Dante dikutip Riwara.id dari laman kemkes.go.id, Sabtu 29 Agustus 2026.

Dampak kesehatan yang paling banyak ditemukan akibat karhutla adalah gangguan saluran pernapasan. Data Kemenkes menunjukkan terdapat temuan 4.082 kasus ISPA pada 27 Agustus 2026, dengan total kumulatif mencapai 13.449 kasus.

Asap Karhutla dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, di antaranya ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik), serta iritasi mata dan kulit. Paparan asap tersebut juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan.

“Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta para pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” ungkap Prof. Dante.

Selain tenaga kesehatan, dukungan logistik kesehatan juga terus diperkuat. Pemerintah daerah telah menyalurkan 394.385 masker, 56 unit oksigen konsentrator, 1.000 pasang handscoon, 103 tabung Oxycan, 40 dus PMT, 36 face shield, dan 8 APD.

Sementara, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes telah mendistribusikan 432.000 masker, 169 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang handscoon, 4.900 APD, serta tiga unit air purifier ke sejumlah wilayah yang terdampak.

Kemenkes juga memastikan kesiapan pelayanan kesehatan melalui 1.691 Puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 Labkesmas, serta kesiapsiagaan Public Safety Center (PSC) 119, dan Tenaga Cadangan Kesehatan di kabupaten/kota.

Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak Karhutla untuk terus memantau kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Bagi yang terpaksa harus bekerja di luar ruangan, dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata. Masyarakat juga diminta untuk cukup minum serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Bagi masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan seperti batuk, sesak napas, atau iritasi mata, diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Kemenkes terus memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak karhutla di sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satunya dengan menyiagakan ratusan tenaga medis.

Foto Editor
Ayu Abriyani -

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 Stories