8 Provinsi Ini Masih Rawan Karhutla, BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Meluasnya Sebaran Asap

Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:29 WIB
Ilustrasi - BMKG Mengimbau Masyarakat untuk Mewaspadai Meluasnya Sebaran Asap akibat Karhutla
Ilustrasi - BMKG Mengimbau Masyarakat untuk Mewaspadai Meluasnya Sebaran Asap akibat Karhutla (Foto: Pixabay.com)

RIWARA.id – Memasuki akhir bulan Agustus 2026, sekitar 80% wilayah Indonesia masih mengalami puncak musim kemarau. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.

Suhu udara yang tinggi saat puncak musim kemarau juga perlu menjadi perhatian masyarakat. Tutupan awan yang relatif minim, terutama pada pagi hinga siang hari, membuat pemanasan permukaan bumi lebih intens sehingga suhu udara semakin meningkat.

Suhu udara yang tinggi dapat mengurangi kenyamanan termal, meningkatkan kebutuhan air, serta berdampak pada kesehatan, produktivitas, dan aktivitas masyarakat terutama pada siang hingga sore hari.

Selain itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Indonesia juga perlu diwaspadai. Dilansir Riwara.id dari akun Instagram @infobmkg, Jumat 28 Agustus 2026, pada periode 25 Agustus hingga 27 Agustus tercatat sedikitnya ada 15 kejadian yang tersebar di 8 provinsi, yaitu:

1. Aceh (Kabupaten Aceh Besar).

2. Jawa Barat (Kabupaten Subang).

3. Jawa Tengah (Kabupaten Banyumas, Sragen, Klaten, dan Sukoharjo).

4. Kepulauan Bangka Belitung (Belitung Timur).

5. Kalimantan Timur (Kutai Barat).

6. Sulawesi Tengah (Toli-Toli dan Tojo Una-Una).

7. Sulawesi Selatan (Pinrang, Enrekang, dan Sidenreng Rappang).

8. Papua Barat Daya (Kota Sorong).

Berdasarkan pantauan citra satelit Himawari-9 pada 25 Agustus 2026, jumlah titik panas yang semakin tinggi berada di Kalimantan Barat (92 titik menjadi 140 titik), Kalimantan Tengah (113 titik menjadi 352 titik), dan Kalimantan Timur (30 titik menjadi 63 titik).

Sementara, penurunan jumlah titik panas terjadi di Riau (9 titik menjadi 0 titik), Jambi (15 titik menjadi 1 titik), Sumatera Selatan (298 titik menjadi 63 titik), dan Kalimantan Selatan (89 titik menjadi 60 titik).

Dari kejadian tersebut, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah yang meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Sebagian asap itu terbawa pola angin dan meluas ke wilayah di sekitarnya.

Dari kondisi di puncak musim kemarau ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya agar mengurangi paparan langsung sinar matahari dan menjaga kecukupan cairan tubuh. Bagi masyarakat yang terdampak asap karhutla, diimbau untuk memakai masker saat keluar rumah.

Seiring menguatnya kondisi kering karena musim kemarau, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaraman kekeringan dan karhutla. Apabila masyarakat menemukan indikasi titik api, diimbau untuk segera melapor pemerintah setempat.

Sejumlah wilayah Indonesia masih rawan karhutla. BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai meluasnya sebaran asap.

Foto Editor
Ayu Abriyani -

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 Stories