Profil Yayoi Kusama, Maestro Seni Kontemporer Dunia yang Meninggal di Usia 97 Tahun, Simak Warisan Karyanya

Kamis, 27 Agustus 2026 | 22:48 WIB
Yayoi Kusama semasa hidup
Yayoi Kusama semasa hidup (Foto: Instagram @attnwomen)

PR SURABAYA- Kabar duka datang dari dunia seni rupa internasional. Yayoi Kusama yang dikenal sebagai maestro seni kontemporer dunia, menghembuskan nafas terakhirnya di usia 97 tahun. 

Seniman yang mahir lewat permainan ilusi warna dan cermin ini meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Tokyo pada 14 Agustus 2026. Namun kepergian sang legenda baru baru diumumkan secara resmi kepada publik pada Kamis, 27 Agustus 2026. 

"Dengan penuh duka cita, kami mengumumkan meninggalnya Yayoi Kusama," bunyi pernyataan resmi yang diunggah pihak perwakilan sang seniman.

Perjalanan Hidup Yayoi Kusama

Selama lebih dari tujuh dekade berkarya, perempuan yang identik dengan wig merah menyala dan busana polkadot ini berhasil mengubah cara pandang dunia terhadap realitas visual. 

Lewat mahakaryanya yang paling ikonis, Infinity Mirror Rooms, Kusama membawa setiap pengunjung larut dalam pantulan warna serta cahaya tanpa batas yang magis.

Lahir di Matsumoto pada tahun 1929, perjalanan hidup Kusama jauh dari kata tenang. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang disfungsional. Memasuki era Perpaduan Dunia II, masa kecilnya dihabiskan di pabrik militer untuk menjahit parasut tentara kekaisaran Jepang.

Di tengah tekanan hidup dan halusinasi visual—berupa kilatan cahaya serta bara api yang menghampirinya sejak kecil—Kusama justru menjadikan kanvas dan patung sebagai wadah pelarian. Seni baginya bukan sekadar hobi, melainkan jembatan untuk menyampaikan cara pandangnya terhadap dunia.

Langkah menuju puncak karier tidak berjalan mulus. Saat mengadu nasib ke New York pada dekade 1960-an, ia harus berhadapan dengan penolakan keluarga serta dominasi seniman pria. Namun, Kusama tak lantas surut. Ia terus mendobrak lewat patung-patung eksperimental, instalasi kain, hingga aksi seni provokatif yang kerap mencuri perhatian media.

Salah satu aksi nekatnya terjadi di Venice Biennale 1993 lewat karya Narcissus Garden. Di luar agenda resmi pameran, Kusama menggelar 1.500 bola reflektif dan menjualnya langsung kepada pengunjung sebelum akhirnya dihentikan oleh penyelenggara.

Jauh dari Dunia Gemerlap

Takdir berputar manis bertahun-tahun kemudian. Pada 1993, Kusama kembali ke ajang Venice Biennale—bukan sebagai penyusup, melainkan sebagai seniman wanita tunggal pertama yang secara resmi mewakili delegasi Jepang. Momen ini menjadi titik balik emas yang melambungkan namanya ke jajaran maestro seni kelas dunia.

Di balik gemerlap reputasinya, Kusama mengambil keputusan unik dalam menjalani hidup. Sejak kembali ke Jepang pada 1973, ia memilih tinggal secara sukarela di sebuah rumah sakit jiwa di Tokyo.

Fasilitas medis tersebut tak pernah memadamkan api kreatitivitasnya. Setiap hari, ia berjalan kaki menuju studionya yang terletak tak jauh dari rumah sakit untuk melukis dan membuat patung outdoor berskala besar. Motif labu polkadot yang menjadi ciri khasnya lahir dari ruang perenungan ini sebagai simbol kedamaian jiwa.

Mahakarya Sang Ratu Polkadot

Kedigdayaan seni Kusama tak hanya memikat museum-museum ternama di seluruh dunia, tetapi juga merambah ranah mode papan atas melalui kolaborasi prestisius bersama rumah mode global, Louis Vuitton.

Dedikasi kerja yang ia tunjukkan di usia senja sungguh luar biasa. Sepanjang periode 2009 hingga 2021, ia menyelesaikan seri lukisan My Eternal Soul yang mencapai hampir 900 karya, sebelum dilanjutkan dengan seri EVERY DAY I PRAY FOR LOVE. 

Pengakuan atas kiprahnya berpuncak pada peresmian Yayoi Kusama Museum di Tokyo pada tahun 2017. ***

Yayoi Kusama, maestro seni kontemporer dunia asal Jepang meninggal dunia di usia 97 tahun. Siapa dia? Simak ulasan profil seniman yang memiliki warisan mahakarya yang mendunia ini

Editor
Ali Mahfud -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman.

 Stories