Sasana Handrawina: Pernah Menjadi Tempat Soekarno Bertemu PB XII, Luluh oleh Api 1985, Lalu Dibangun Kembali

Selasa, 11 Agustus 2026 | 05:18 WIB
Sasana Handrawina Keraton Surakarta, bangunan bersejarah yang pernah menjadi tempat pertemuan Susuhunan Pakubuwana XII dengan Presiden Soekarno dan pejabat Republik Indonesia sekitar awal 1946, sebelum terbakar pada 1985 dan dibangun kembali
Sasana Handrawina Keraton Surakarta, bangunan bersejarah yang pernah menjadi tempat pertemuan Susuhunan Pakubuwana XII dengan Presiden Soekarno dan pejabat Republik Indonesia sekitar awal 1946, sebelum terbakar pada 1985 dan dibangun kembali (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

 

SURAKARTA, RIWARA.id — Di Sasana Handrawina, Keraton Surakarta Hadiningrat, sejarah Indonesia pernah berlangsung dalam sebuah ruang yang kini masih berdiri.

Sekitar awal 1946, ketika Republik Indonesia masih berusia sangat muda, Presiden Soekarno bersama sejumlah pejabat pemerintah Republik Indonesia berkunjung ke Sasana Handrawina. Dalam dokumentasi sejarah yang dihimpun Riwara.id, tampak Susuhunan Pakubuwana XII menerima kunjungan tersebut. Di sebelah Susuhunan terlihat Adipati Mangkunegara VIII dan R.P. Soeroso.

Puluhan tahun kemudian, bangunan yang pernah menjadi ruang pertemuan tokoh-tokoh penting itu menghadapi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah modern Keraton Surakarta.

 

Baca juga: Hasil Judol di Surabaya Rp4,9 Miliar Disetor ke Kas Negara, Rekening Terhubung Terpidana Sutikno

 

 

Pada Jumat Wage, 31 Januari 1985 sekitar pukul 21.15 WIB, kebakaran besar melanda kompleks Keraton. Sasana Handrawina menjadi salah satu bangunan utama yang luluh terbakar.

Namun, kisahnya tidak berakhir di sana.

Sasana Handrawina kemudian dibangun kembali dengan konstruksi tradisional kayu jati, melalui proses panjang yang memadukan penelusuran sejarah, foto lama , Kawruh Kalang, sisa struktur bangunan dan keahlian konstruksi tradisional Jawa.

Empat dekade kemudian, bangunan yang pernah hancur tersebut kembali menjadi saksi sejarah Keraton Surakarta.

Pada 13 November 2025, Sasana Handrawina menjadi lokasi deklarasi KGPH Hangabehi, putra tertua Sri Susuhunan Paku Buwono XIII, sebagai Susuhunan Pakubuwono XIV oleh pihak keluarga dan Lembaga Dewan Adat yang mendukungnya.

Dari pertemuan Soekarno, kebakaran besar, rekonstruksi kayu jati hingga dinamika suksesi, Sasana Handrawina menyimpan perjalanan sejarah yang jauh lebih panjang daripada sekadar sebuah bangunan tua di dalam Keraton.

Dari Ruang Jamuan Kerajaan hingga Tempat Pertemuan dengan Presiden Soekarno

Susuhunan Pakubuwana XII menerima kunjungan Presiden Soekarno dan para pejabat pemerintah Republik Indonesia di Sasana Handrawina Keraton Surakarta sekitar awal tahun 1946 Tampak duduk di sebelah susuhunan adalah Adipati Mangkunegara VIII dan RP Soeroso
Susuhunan Pakubuwana XII menerima kunjungan Presiden Soekarno d an para pejabat pemerintah Republik Indonesia di Sasana Handrawina Keraton Surakarta sekitar awal tahun 1946 Tampak duduk di sebelah susuhunan adalah Adipati Mangkunegara VIII dan RP Soeroso (Foto: John Florea / The LIFE Picture Collection)

 

Sasana Handrawina sejak lama memiliki kedudukan penting dalam kehidupan Keraton Surakarta.

Bangunan dengan dominasi ukiran gebyok tersebut digunakan sebagai tempat perjamuan makan dan penerimaan tamu kehormatan, termasuk pejabat pemerintahan, tamu asing dan keluarga kerajaan.

Fungsinya juga berkaitan dengan berbagai kegiatan adat Keraton, termasuk ngabekten atau prosesi sungkeman keluarga kepada raja saat Idulfitri serta berbagai kegiatan wilujengan.

Namun, salah satu jejak paling penting dalam sejarahnya terdapat pada periode awal Republik Indonesia.

Dokumentasi yang dihimpun Riwara.id memperlihatkan Susuhunan Pakubuwana XII menerima kunjungan Presiden Soekarno bersama sejumlah pejabat pemerintah Republik Indonesia di Sasana Handrawina sekitar awal 1946.

Dalam foto tersebut tampak Adipati Mangkunegara VIII dan R.P. Soeroso duduk di sebelah Susuhunan.

Dokumentasi itu memperlihatkan bahwa Sasana Handrawina tidak hanya menjadi ruang internal Keraton.

Bangunan tersebut juga pernah menjadi tempat berlangsungnya pertemuan yang mempertemukan lingkungan kerajaan dengan tokoh-tokoh Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Peristiwa tersebut menjadikan Sasana Handrawina memiliki lapisan sejarah yang lebih luas: bukan hanya sejarah Keraton, tetapi juga bagian dari sejarah Indonesia setelah Proklamasi.

Jumat Wage 31 Januari 1985, Malam Ketika Api Meluluhlantakkan Keraton

Malam 31 Januari 1985 Api Melanda Keraton Surakarta
Malam 31 Januari 1985 Api Melanda Keraton Surakarta (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

Kenangan paling memilukan dalam sejarah Sasana Handrawina terjadi pada Jumat Wage, 31 Januari 1985.

Sekitar pukul 21.15 WIB, api berkobar dan melanda sejumlah bangunan utama Keraton Surakarta Hadiningrat.

Dalam catatan sejarah yang dihimpun Riwara.id dari Jejak Sejarah Mataram, bangunan yang terbakar antara lain Ndalem Ageng Prabasuyasa, Paringgitan, Sasana Parasdya, Sasana Sewaka, Bangsal Paningrat, Bangsal Malige, Sasana Handrawina, Ndalem Paku Buwanan dan Sanggar Singan.

Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api.

Salah satunya melalui penabuhan Kempul Pusaka Kanjeng Kyai Becak.

Namun kobaran api terus membesar.

Dalam keadaan tersebut, Susuhunan Paku Buwono XII, yang menjadi penguasa Keraton Surakarta saat itu, mengambil tindakan berani.

PB XII menerobos kobaran api dan memasuki Ndalem Ageng Prabasuyasa bersama sejumlah putra, sentana dan abdi dalem untuk menyelamatkan pusaka-pusaka Keraton serta benda-benda berharga lainnya.

Malam tersebut mengubah wajah kompleks Keraton Surakarta.

Sasana Handrawina yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan kerajaan ikut luluh oleh api.

Soeharto Turun Tangan, Pembangunan Kembali Dibahas di Bina Graha

Musibah kebakaran tersebut segera mendapat perhatian pemerintah Republik Indonesia.

Pada 5 Februari 1985, Presiden Soeharto memimpin rapat mengenai pembangunan kembali Keraton Surakarta di Bina Graha.

Dalam catatan sejarah yang dihimpun Riwara.id, Soeharto memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian dan pembangunan kembali Keraton.

Ia juga disebut menyumbangkan 50 persen gajinya selama lima bulan untuk membantu mempercepat pembangunan kembali.

Soeharto kemudian menugaskan Jenderal Surono untuk menangani pembangunan kembali bangunan Keraton yang terbakar.

Surono selanjutnya membentuk Panitia Swasta Pembangunan Kembali Karaton Surakarta.

Panitia tersebut terdiri atas unsur Markas Besar TNI AD, Departemen Pekerjaan Umum, pihak Keraton Surakarta dan pihak swasta.

Persoalan berikutnya jauh lebih rumit.

Bangunan telah hancur. Bagaimana cara mengembalikannya?

Beton dan Baja Sempat Menjadi Pilihan

Pembangunan kembali Sasana Hondrowino Nopember 1986 - Desember 1987
Pembangunan kembali Sasana Hondrowino Nopember 1986 - Desember 1987 (Foto: Ir Sri Adhyaksa)

 

Menurut catatan Ir. Sri Adhyaksa, panitia pembangunan kembali menghadapi pilihan antara menggunakan konstruksi modern berbahan beton dan baja atau mengembalikannya menggunakan konstruksi tradisional kayu jati seperti bentuk aslinya.

Konstruksi modern dianggap lebih cepat.

Namun, Keraton bukan bangunan biasa.

Ia merupakan warisan sejarah dan kebudayaan yang juga memiliki nilai penting bagi studi arsitektur tradisional Jawa.

Akhirnya diputuskan untuk tetap menggunakan konstruksi tradisional kayu jati.

Keputusan itu membuat pembangunan kembali membutuhkan proses yang jauh lebih panjang dan rumit.

Sebab, bangunan telah hampir seluruhnya rata dengan tanah.

Membangun Kembali seperti Melakukan Forensik

Dalam catatan Ir. Sri Adhyaksa, proses perencanaan rekonstruksi bahkan digambarkan tidak ubahnya seperti kerja forensik.

Tim harus mencari petunjuk dari apa yang masih tersisa.

Di antaranya:

  • umpak batu yang masih berada di tempatnya;
  • Kawruh Kalang;
  • material dan bentuk bangunan pembanding;
  • foto-foto lama;
  • serta berbagai petunjuk lain yang masih dapat ditemukan.

Salah satu sumber penting adalah Serat Kawruh Kalang dan Kawruh Kalang, yang memuat pengetahuan mengenai tata cara membangun bangunan Jawa.

Pada saat itu, Sasana Pustaka Keraton Surakarta baru menyelesaikan alih aksara karya tersebut dari aksara Jawa ke huruf Latin, sementara bahasanya tetap menggunakan bahasa Jawa kuno.

Alih aksara dilakukan oleh Dra. Sri Sulistyawati atau Lies Andis dan Dra. Endang Tri Winarni.

Pengetahuan tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses perencanaan rekonstruksi.

Kayu Jati, Sambungan Tradisional dan Saka Guru

KPH Eddy Wirabhumi menantu Paku Buwono XII bersama Paku Buwono XIII ketika melakukan pengecekan terhadap kayu yang akan digunakan sebagai bagian dari konstruksi Sasana Hondrowino
KPH Eddy Wirabhumi menantu Paku Buwono XII bersama Paku Buwono XIII ketika melakukan pengecekan terhadap kayu yang akan digunakan sebagai bagian dari konstruksi Sasana Hondrowino (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

Pembangunan kembali Sasana Handrawina bukan sekadar membuat bangunan yang tampak menyerupai bentuk lama.

Tim juga harus menghidupkan kembali cara konstruksi tradisionalnya.

Mulai dari pemilihan material, teknik sambungan kayu hingga teknik mendirikan rangkaian portal kayu.

Menurut catatan Ir. Sri Adhyaksa, teknik tersebut sudah sangat langka dalam dunia konstruksi.

Dalam dokumentasi yang dihimpun Riwara.id, terdapat pula momen KPH Eddy Wirabhumi bersama PB XIII mengecek kayu yang akan digunakan sebagai saka guru Sasana Handrawina.

Dokumentasi lainnya memperlihatkan GKR Koes Moertiyah Wandansari menebang kayu di Alas Krendowahono yang digunakan untuk pembangunan Sasana Handrawina.

GKR Koes Moertiyah Wandansari dalam proses penebangan kayu di kawasan Alas Krendowahono yang digunakan untuk pembangunan Sasana Hondrowino.
GKR Koes Moertiyah Wandansari dalam proses penebangan kayu di kawasan Alas Krendowahono yang digunakan untuk pembangunan Sasana Hondrowino. (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

Dalam konstruksi tradisional Jawa, saka guru merupakan empat tiang utama yang menjadi bagian penting dari struktur bangunan.

Karena itu, proses penyediaan kayu tersebut menjadi bagian dari rangkaian panjang pembangunan kembali Sasana Handrawina.

Bukan Hanya Konstruksi, Tata Cara Keraton Juga Diperhatikan

Rekonstruksi Sasana Handrawina juga tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis.

Kompleks Keraton memiliki dimensi budaya dan spiritual yang kuat.

Menurut catatan Ir. Sri Adhyaksa, selama proses pembangunan, pelaksanaan konstruksi juga mengikuti tata cara dan tahapan sebagaimana petunjuk dalam tulisan tangan Jenderal Soedjono Hoemardani, Mulyakaké-ngluhuraké budaya leluhur bangsa.

Dengan demikian, proses pembangunan kembali mempertemukan berbagai disiplin dan pengetahuan: sejarah, arsitektur, konstruksi, budaya serta tata cara tradisional Keraton.

November 1986 hingga Desember 1987

Setelah tahap penelitian dan perencanaan, pembangunan kembali memasuki masa konstruksi.

Catatan Ir. Sri Adhyaksa menyebut pembangunan berlangsung pada periode November 1986 hingga Desember 1987.

Sejumlah nama tercatat dalam proses tersebut, antara lain Kol. CZI Soemarno, Ir. Soewito, Lettu CZI Ir. Argunadi, Ir. Sri Adhyaksa, Lettu CZI Ir. Imam Sardjono, Lettu CZI Ir. Bambang Irawan, dan Ir. Ali Syaifullah.

Pekerjaan juga melibatkan tim teknis dari PT Pembangunan Perumahan (PP).

Hasil pembangunan kembali kemudian mendapat apresiasi dari budayawan dan sastrawan KRT Hardjonagoro atau Go Tik Swan.

Dalam catatan yang dihimpun Riwara.id, hasil tersebut dinilai sebagai replika yang “cèples”, atau persis, dan “nunggak semi” sebagai pengganti dari bangunan yang telah hilang.

Sasana Handrawina Kembali Menjadi Ruang Hidup Keraton

Bagunan Sasana Hondrowino di dalam komplek Keraton Surakarta Hadiningrat
Bagunan Sasana Hondrowino di dalam komplek Keraton Surakarta Hadiningrat (Foto: Dok. KRT. Sulistyo Wartonagoro)

 

Setelah selesai dibangun kembali, Sasana Handrawina kembali menjalankan fungsinya.

Bangunan ini digunakan sebagai ruang jamuan dan penerimaan tamu.

Sejumlah kegiatan adat juga berlangsung di dalamnya.

Sasana Handrawina dikenal sebagai tempat pelaksanaan ngabekten, yakni prosesi sungkeman keluarga Keraton kepada raja pada momentum Idulfitri.

Selain itu, bangunan ini digunakan dalam berbagai kegiatan wilujengan serta acara resmi lainnya.

Artinya, rekonstruksi tersebut berhasil mengembalikan Sasana Handrawina bukan hanya secara fisik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan Keraton.

Jejak Joop Ave dalam Sejarah yang Lebi h Luas

Joop Ave
Joop Ave (Foto: wikimedia commons)

 

Nama Joop Ave juga muncul dalam penelusuran sejarah yang dihimpun Riwara.id mengenai hubungan Keraton, pemerintah dan pelestarian kebudayaan pada masa Orde Baru.

Joop Ave merupakan diplomat dan birokrat yang pernah menjadi Kepala Rumah Tangga Istana Kepresidenan, Direktur Jenderal Pariwisata dan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi.

Ia dikenal dekat dengan Presiden Soeharto dan memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pariwisata serta kebudayaan Indonesia.

Keterangan sejarah mengenai Joop Ave dan kaitannya dengan lingkungan Keraton juga diperoleh Riwara.id dari KPH Eddy Wirabhumi dan GKR Koes Moertiyah Wandansari, putri Paku Buwono XII.

Rangkaian keterangan tersebut memperlihatkan bagaimana sejarah Sasana Handrawina tidak dapat dilepaskan dari hubungan yang lebih luas antara Keraton, pemerintah dan upaya pelestarian budaya.

2025: Sasana Handrawina Kembali Menjadi Saksi Suksesi

KGPH Hangabehi yang sebelumnya dikenal sebagai KGP H Mangkubumi dan merupakan putra tertua PB XIII mendeklarasikan diri sebagai Sahandap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono XIV
KGPH Hangabehi yang sebelumnya dikenal sebagai KGPH Mangkubumi dan merupakan putra tertua PB XIII mendeklarasikan diri sebagai Sahandap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono XIV (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Sejarah Sasana Handrawina kembali memasuki babak baru pada 2025.

Sri Susuhunan Paku Buwono XIII wafat pada Minggu, 2 November 2025, dalam usia 77 tahun.

Jenazah PB XIII kemudian dimakamkan pada Rabu, 5 November 2025, di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Delapan hari kemudian, 13 November 2025, berlangsung peristiwa penting mengenai suksesi Keraton Surakarta.

KGPH Hangabehi, yang sebelumnya dikenal sebagai KGPH Mangkubumi dan merupakan putra tertua PB XIII, mendeklarasikan diri sebagai Sahandap Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono XIV.

Kolonel Inf KGPH Panembahan Agung Tedjowulan menandatangani sebuah dokumen pasca KGPH Hangabehi merupakan putra tertua PB XIII mendeklarasikan diri sebagai Susuhunan Pakoe Boewono XIV pada 13 November 2025
Kolonel Inf KGPH Panembahan Agung Tedjowulan menandatangani sebuah dokumen pasca KGPH Hangabehi merupakan putra tertua PB XIII mendeklarasikan diri sebagai Susuhunan Pakoe Boewono XIV pada 13 November 2025 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Peristiwa tersebut berlangsung di Sasana Handrawina.

Dengan demikian, bangunan yang pernah luluh dalam kebakaran 1985 kembali menjadi saksi salah satu babak penting sejarah Keraton Surakarta.

Dari Soekarno hingga Suksesi PB XIV

Jika perjalanan Sasana Handrawina ditarik dalam satu garis waktu, bangunan ini menyimpan rangkaian sejarah yang luar biasa panjang.

Sekitar awal 1946, Presiden Soekarno bersama pejabat Republik Indonesia tercatat mengunjungi Sasana Handrawina dan diterima Susuhunan Pakubuwana XII.

31 Januari 1985, kebakaran besar menghancurkan Sasana Handrawina bersama sejumlah bangunan utama Keraton.

5 Februari 1985, Presiden Soeharto memimpin rapat pembangunan kembali Keraton di Bina Graha.

November 1986–Desember 1987, proses pembangunan kembali berlangsung dengan mempertahankan konstruksi tradisional kayu jati.

Dan 13 November 2025, Sasana Handrawina kembali menjadi saksi deklarasi KGPH Hangabehi sebagai Pakubuwono XIV oleh pihak yang mendukungnya.

Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa Sasana Handrawina bukan sekadar bangunan.

Ia menjadi ruang yang menyimpan perubahan zaman.

Bangunan Bisa Terbakar, Pengetahuan Tidak Harus Hilang

Kisah Sasana Handrawina menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya bukan hanya tentang mempertahankan bentuk fisik.

Ketika bangunan terbakar, yang terancam hilang bukan hanya kayu, dinding dan atap.

Pengetahuan mengenai bagaimana bangunan itu di buat juga berada dalam bahaya.

Karena itu, keputusan menggunakan kembali kayu jati dan konstruksi tradisional memiliki arti penting.

Para pelaksana harus mempelajari kembali jejak bangunan melalui Kawruh Kalang, foto lama, umpak yang tersisa, material pembanding serta berbagai sumber sejarah.

Mereka tidak sekadar membangun sebuah bangunan.

Mereka berusaha menghidupkan kembali pengetahuan yang melahirkan bangunan tersebut.

Sasana Handrawina, Saksi yang Terus Hidup

Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng membacakan petisi dukungan keluarga besar Dinasti Mataram kepada SISKS Paku Buwono XIV Jumat 12 Juni 2026
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng membacakan petisi dukungan keluarga besar Dinasti Mataram kepada SISKS Paku Buwono XIV Jumat 12 Juni 2026 (Foto: Inung R Sulistyo, Riwara.id)

 

Hari ini, Sasana Handrawina berdiri kembali di lingkungan Keraton Surakarta.

Kemegahan ukiran gebyoknya mungkin membuat orang lupa bahwa bangunan tersebut pernah rata akibat kebakaran.

Namun, di balik setiap bagian bangunannya tersimpan perjalanan panjang.

Ia pernah menjadi ruang jamuan kerajaan.

Ia menjadi tempat pertemuan Susuhunan Pakubuwana XII dengan Presiden Soekarno dan pejabat Republik Indonesia pada awal masa kemerdekaan.

Ia pernah menjadi salah satu korban kebakaran besar Keraton Surakarta.

Ia dibangun kembali dengan kayu jati melalui proses rekonstruksi yang panjang.

Dan puluhan tahun kemudian, ia kembali menjadi saksi perubahan sejarah Keraton.

Sasana Handrawina adalah bukti bahwa bangunan dapat hancur oleh api, tetapi sejarah, pengetahuan dan ingatan yang melekat padanya masih dapat diwariskan.

Dari Soekarno pada awal Republik, kebakaran 1985, rekonstruksi kayu jati pada 1986–1987, hingga peristiwa suksesi 2025, Sasana Handrawina telah melewati berbagai babak sejarah Indonesia dan Keraton Surakarta.

Ia bukan hanya bangunan yang dibangun kembali. Ia adalah sejarah yang terus hidup.*

 

Sasana Handrawina menyimpan sejarah panjang Keraton Surakarta, dari kunjungan Soekarno pada awal 1946, kebakaran 1985, rekonstruksi kayu jati hingga menjadi saksi sejarah 2025.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories