Indonesia Bakal Miliki Vaksin DBD mRNA Pertama di Dunia, Seberapa Efektifkah Melawan Virus Demam Berdarah?

Kamis, 06 Agustus 2026 | 16:30 WIB
Ilustrasi - Indonesia Bersama Tiongkok Tengah Mengembangkan Vaksin DBD dengan Teknologi mRNA
Ilustrasi - Indonesia Bersama Tiongkok Tengah Mengembangkan Vaksin DBD dengan Teknologi mRNA (Foto: Pixabay.com)

RIWARA.id – Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University (Tiongkok), dan PT Etana Biotechnologies Indonesia tengah mengembangkan hasil riset berupa vaksin demam berdarah dengue (DBD) dengan Teknologi mRNA. Sebelumnya, teknologi ini digunakan untuk melawan virus COVID-19.

Kini, Teknologi mRNA dikembangkan pertama kalinya dalam sejarah dunia kedokteran untuk menghadang virus demam berdarah dengue (DBD). Terobosan ini ditandai dengan peluncuran secara resmi prototype Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada bulan Juli lalu. Vaksin ini memanfaatkan materi genetik (gen preM-E) virus dengue strain asli Indonesia.

Peluncuran prototype ini dihadiri Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Rektor UI Heri Hermansyah, Vice President Tsinghua University Prof. Wu Huaqiang, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Prof. Stella Christie, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, serta Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar.

Hal ini menjadi momentum penting bagi kemandirian industri vaksin nasional. Apabila berhasil, produk ini akan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk virus demam berdarah, sekaligus menjadi antigen ke 6 yang mampu diproduksi di Indonesia.

"Jika ini berhasil, maka akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita wajib berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang mampu setara dengan peneliti dunia," kata Menkes Budi yang dikutip Riwara.id dari laman kemkes.go.id, Kamis 6 Agustus 2026.

Menkes Budi mengungkapkan sejak periode tahun 2020-2022, pemerintah bertekad membangun fasilitas riset secara mandiri. Dari semula hanya ada satu perusahaan vaksin, kini Indonesia memiliki empat perusahaan vaksin yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio.

Dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan dalam program imunisasi rutin nasional, saat ini baru 11 antigen yang sudah mampu diproduksi lokal. Dari 11 antigen tersebut, 5 antigen diproduksi secara mandiri di Indonesia, sementara 6 antigen lainnya masih sebatas proses perakitan atau formulasi akhir karena bahan bakunya diimpor dari Tiongkok dan India.

"Target saya sebelum tahun 2030, antigen yang masih proses perakitan harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir," jelas Menkes Budi.

Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyatakan bahwa dirinya masih berstatus profesor saat ada pertemuan tim peneliti UI dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University, salah satu ahli vaksin terkemuka di dunia.

"Hampir semua vaksin manjur di dunia tercipta dari riset di universitas. Model kerja sama seperti ini penting, kita mulai bekerja bersama terlebih dahulu, baru MOU menyusul. Analisis kebutuhan, dukungan anggaran, serta komitmen kementerian semuanya harus berjalan bersama," tutur Wamen Stella.

Pemilihan DBD sebagai salah satu prioritas didasarkan pada tingginya jumlah kasus di Indonesia. Data Kemenkes mencatat setiap tahunnya ada sekitar 151 ribu kasus DBD dengan 650 kematian. Jumlah ini menempatkan DBD di antara penyakit dengan angka beban tinggi, bersama penyakit TBC (1 juta kasus dengan 125 ribu kematian), HIV (570 ribu kasus dengan 25 ribu kematian), dan malaria (520 ribu kasus dengan 132 kematian).

"Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian yang tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita memilih mana yang menjadi prioritas," imbuh Menkes Budi.

Indonesia dan Tiongkok tengah mengembangkan Vaksin DBD dengan teknologi mRNA pertama di dunia.

Foto Editor
Ayu Abriyani -

Jurnalis dari Kota Solo yang fokus pada isu pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.

 Stories