RIWARA.id – Semakin meningkatnya polusi udara di bumi, kini menjadi perhatian khusus bagi dunia. Salah satunya di Indonesia terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Kualitas udara di Jakarta tergolong tidak sehat dan menduduki peringkat pertama terburuk di dunia dengan AQI 174.
Sebagai informasi, AQI 174 adalah Indeks Kualitas Udara yang masuk dalam kategori tidak sehat. Untuk itu, warga Jakarta disarankan menghindari aktivitas di luar ruangan dan memakai masker.
Dari indeks kualitas udara tersebut dapat berdampak pada kesehatan seperti menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan menurunkan daya tahan tubuh. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan akan lebih berisiko terkena dampaknya.
Untuk menjaga bumi lebih sehat, salah satu transportasi publik yang bisa menjadi pilihan adalah Commuter Line atau Kereta Rel Listrik (KRL) yang rendah emisi. Dalam penelitian menyebutkan bahwa peningkatan jumlah penumpang tidak terlalu mempengaruhi konsumsi energi kereta.
Meskipun KRL mengangkut lebih banyak penumpang, penggunaan energinya tetap relatif efisien. Maka, transportasi massal seperti Commuter Line menjadi solusi mobilitas perkotaan yang lebih berkelanjutan.
Dilansir Riwara.id dari akun Instagram @commuterline, Selasa 4 Agustus 2026, hasil penelitian menunjukkan jika operasional KRL Jabodetabek menghasilkan jejak karbon sebesar 34,03 gram CO2-eq per penumpang/km.
Angka tersebut lebih rendah dibanding transportasi berbasis bahan bakar fosil seperti kendaraan pribadi. Sebagai perbandingannya, penggunaan mobil pribadi dapat menghasilkan 150 – 250 gram CO2-eq per penumpang/km.
Sesuai data dari PT KAI, sepanjang tahun 2023 pemakaian energi KRL Jabodetabek mencapai 307.318.120 kWh. Hal itu menunjukkan transportasi massal mampu mengangkut lebih banyak pengguna dalam satu perjalanan secara lebih efisien.
Masyarakat yang memilih menggunakan Commuter Line dalam perjalanannya, akan ikut membantu mengurangi emisi karbon, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, mendukung transportasi ramah lingkungan, serta mewujudkan kota yang lebih nyaman dan berkelanjutan.
Teknologi Nanoe X
Selain menjaga lingkungan, PT KAI juga tengah melakukan uji coba teknologi Nanoe X di salah satu rangkaian Commuter Line sebagai upaya men ingkatkan kualitas udara selama perjalanan. Teknologi baru ini membantu menjaga kualitas udara di dalam kereta dengan menghambat bakteri, virus, jamur, serta partikel udara yang tidak terlihat.
Selain itu, Nanoe X juga membantu mengurangi bau tidak sedap di dalam kereta dan menjaga kelembapan kulit serta rambut selama perjalanan. Partikel Nanoe X dapat bertahan sekitar 600 detik, atau sekitar 6 kali lebih lama dibandingkan ion udara biasa, sehingga mampu membantu penyebaran udara menjadi lebih merata di dalam kereta.
Saat ini teknologi Nanoe X masih dalam tahap uji coba dan baru dipasang pada 1 rangkaian KRL JR205 (SF12) lintas Bogor. Hasil uji coba ini akan menjadi bahan evaluasi sebelum dilakukan pemasangan secara bertahap pada rangkaian Commuter Line lainnya.
Commuter Line atau Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan transportasi umum yang rendah emisi, sehingga ikut menjaga bumi agar lebih sehat.