
RIWARA.id - Kemenangan Vladimir Putin dalam pemilihan presiden Rusia pada Maret 2024 bukanlah kejutan. Dengan perolehan suara yang mendekati 87 persen, hasil itu lebih menyerupai konfirmasi daripada kompetisi.
Di banyak negara demokrasi, angka sebesar itu akan memicu kecurigaan. Namun di Rusia, hasil tersebut justru memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar angka elektoral. Ia mencerminkan bagaimana kekuasaan dibangun, dijaga, dan diperpanjang secara sistematis selama lebih dari dua dekade.
Lebih dari itu, kemenangan ini membuka jalan bagi Putin untuk tetap berkuasa hingga tahun 2036. Jika skenario ini terwujud, maka masa kekuasaannya akan melampaui hampir seluruh pemimpin Rusia modern, mendekati bahkan menyaingi durasi kepemimpinan Joseph Stalin.
Namun pertanyaan yang lebih penting bukanlah berapa lama Putin akan berkuasa. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana ia bisa bertahan selama itu.
Akar Psikologis Kekuasaan Putin
Untuk memahami Putin, perlu kembali ke masa yang membentuk cara pandangnya. Ia bukan sekadar produk sistem politik Rusia modern, melainkan hasil dari pengalaman historis yang penuh gejolak.
Putin lahir pada 1952 di Leningrad, kota yang kini dikenal sebagai Saint Petersburg. Ia tumbuh di lingkungan pasca-Perang Dunia II yang keras, di mana negara dan keamanan menjadi prioritas utama.
Kariernya di KGB bukan hanya pekerjaan. Itu adalah sekolah ideologis.
Sebagai agen intelijen, Putin dilatih untuk melihat dunia dalam kerangka ancaman dan kontrol. Ia belajar bahwa stabilitas harus dijaga dengan ketat, dan kekacauan adalah musuh utama negara.
Pengalaman paling menentukan terjadi saat ia ditempatkan di Dresden, Jerman Timur, pada akhir 1980-an. Ketika Tembok Berlin 1989 runtuh, Putin menyaksikan bagaimana sistem besar bisa ambruk dalam waktu singkat.
Dalam berbagai wawancara, ia mengakui bahwa saat itu ia mencoba meminta instruksi dari Moskow, tetapi tidak ada jawaban. Negara yang seharusnya kuat ternyata lumpuh.
Bagi Putin, itu bukan sekadar peristiwa sejarah. Itu adalah trauma politik.
Ketika Pembubaran Uni Soviet terjadi pada 1991, trauma itu semakin dalam. Ia menyebut runtuhnya Uni Soviet sebagai “bencana geopolitik terbesar abad ke-20.”
Pandangan ini menjadi fondasi dari seluruh kebijakan politiknya di masa depan.
Naik dari Bayangan ke Pusat Kekuasaan
Setelah kembali ke Rusia, Putin tidak langsung menjadi tokoh besar. Ia memulai dari lingkaran birokrasi lokal di Saint Petersburg, bekerja di bawah wali kota Anatoly Sobchak.
Di sini, ia belajar satu hal penting, kekuasaan tidak hanya soal ideologi, tetapi juga jaringan.
Dari kota pelabuhan ini, Putin membangun relasi dengan elit bisnis dan politik. Ia dikenal sebagai birokrat yang efisien, loyal, dan tidak banyak bicara.
Kariernya melesat ketika ia dipanggil ke Moskow dan masuk ke dalam struktur kekuasaan federal. Pada akhir 1990-an, ia sudah berada di lingkaran dalam Kremlin.
Pu ncakn ya terjad i pada 1999.
Boris Yeltsin yang saat itu menghadapi tekanan politik dan kesehatan, menunjuk Putin sebagai perdana menteri. Keputusan ini awalnya dianggap sebagai langkah sementara.
Namun sejarah bergerak cepat.
Pada 31 Desember 1999, Yeltsin mengundurkan diri secara mendadak. Putin naik sebagai presiden sementara.
Dalam hitungan bulan, ia bukan lagi figur bayangan.
Ia menjadi pusat kekuasaan.
Perang sebagai Legitimasi
Momentum terbesar Putin datang dari konflik Perang Chechnya Kedua.
Konflik ini memberinya panggung untuk menunjukkan ketegasan. Ia tampil sebagai pemimpin yang tidak ragu menggunakan kekuatan militer untuk menjaga keutuhan negara.
Retorikanya sederhana tetapi efektif.
Rusia harus kuat.
Negara tidak boleh dipermalukan.
Musuh harus dihancurkan.
Pesan ini menemukan resonansi luas di masyarakat Rusia yang saat itu masih trauma dengan kekacauan era 1990-an.
Popularitas Putin melonjak.
Dalam pemilu 2000, ia menang dan resmi menjadi presiden.
Namun yang lebih penting, ia mendapatkan legitimasi.
Media sebagai Alat Kekuasaan
Setelah berkuasa, Putin memahami bahwa kekuatan tidak cukup dijaga dengan militer atau ekonomi.
Ia harus menguasa i narasi.
Langkah pertama adalah mengendalikan media.
Televisi, yang menjadi sumber utama informasi publik di Rusia, perlahan diambil alih oleh negara atau oleh pihak yang loyal kepada Kremlin.
Media independen tidak sepenuhnya hilang, tetapi ruang geraknya semakin sempit.
Narasi yang dibangun konsisten.
Putin adalah simbol stabilitas.
Barat adalah ancaman.
Rusia adalah korban sekaligus kekuatan besar yang harus bangkit kembali.
Dalam sistem ini, informasi bukan sekadar fakta.
Ia adalah instrumen kekuasaan.
Oligarki Dijinakkan, Negara Dikuatkan
Selain media, Putin juga menata ulang hubungan dengan oligarki.
Pada era Yeltsin, para oligarki memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan negara. Mereka bukan hanya pengusaha, tetapi juga pemain politik.
Putin mengubah aturan main.
Ia tidak menghancurkan oligarki, tetapi mengendalikan mereka.
Pesannya jelas.
Silakan kaya, tetapi jangan menantang negara.
Kasus seperti penahanan Mikhail Khodorkovsky menjadi simbol dari pendekatan ini. Oligarki yang mencoba masuk ke wilayah politik akan berhadapan langsung dengan negara.
Sebaliknya, mereka yang patuh mendapatkan perlindungan.
Dari sini, Putin membangun model kapitalisme yang unik.
Kapitalisme yang dikendalikan negara.
Demokrasi yang Dikelola
Secara formal, Rusia tetap menjalankan sistem demokrasi. Pemilu tetap digelar. Partai politik tetap ada.
Namun dalam praktiknya, sistem ini sering disebut sebagai “managed democracy” atau demokrasi yang dikelola.
Oposisi tetap ada, tetapi ruangnya terbatas.
Tokoh seperti Alexei Navalny menjadi simbol perlawanan, tetapi juga menunjukkan batas-batas yang ada.
Dalam banyak kasus, oposisi menghadapi tekanan hukum, administratif, dan politik.
Demonstrasi terjadi, tetapi jarang berkembang menjadi gerakan besar.
Dalam sistem seperti ini, kompetisi tetap ada.
Tetapi hasilnya hampir selalu dapat diprediksi.
Nasionalisme sebagai Perekat
Salah satu kekuatan terbesar Putin adalah kemampuannya membangun narasi nasionalisme.
Ia memposisikan Rusia sebagai negara besar yang diperlakukan tidak adil oleh Barat.
Konflik di berbagai wilayah digunakan untuk memperkuat narasi ini.
Dari Georgia hingga Ukraina, setiap langkah militer dibingkai sebagai upaya mempertahankan kedaulatan.
Bagi sebagian masyarakat Rusia, narasi ini masuk akal.
Ia memberikan rasa bangga sekaligus rasa tujuan.
Dalam konteks ini, Putin bukan hanya pemimpin politik.
Ia menjadi simbol identitas nasional.
Jalan Panjang ke 2036
Langkah paling strategis terjadi pada 2020.
Melalui amendemen konstitusi, Putin membuka jalan untuk mengatur ulang masa jabatannya.
Secara teknis, perubahan ini membuatnya bisa kembali mencalonkan di ri tanpa terikat batas sebelumnya.
Langkah ini menuai kritik internasional.
Namun di dalam negeri, resistensi relatif terbatas.
Kombinasi antara kontrol politik, media, dan legitimasi nasionalisme membuat perubahan ini berjalan mulus.
Pemilu 2024 menjadi bukti konkret.
Putin tidak hanya kembali.
Ia kembali dengan dominasi penuh.
Sistem Tanpa Penerus
Salah satu paradoks terbesar dari kekuasaan Putin adalah tidak adanya penerus yang jelas.
Dalam banyak sistem politik, suksesi menjadi bagian penting dari stabilitas.
Namun dalam sistem yang sangat terpusat, suksesi justru menjadi titik rawan.
Hingga kini, belum ada figur yang memiliki kombinasi kekuatan politik, militer, dan simbolik seperti Putin.
Ini menciptakan ketergantungan.
Sistem menjadi stabil selama Putin ada.
Namun menjadi tidak pasti ketika ia tidak lagi memimpin.
Antara Stabilitas dan Risiko
Pendukung Putin melihat stabilitas sebagai pencapaian utama.
Setelah kekacauan era 1990-an, Rusia kini dianggap lebih kuat, lebih teratur, dan lebih dihormati di panggung global.
Namun kritikus melihat sisi lain.
Stabilitas yang terlalu bergantung pada satu figur membawa risiko jangka panjang.
Ketika kekuasaan tidak tersebar, adaptasi menjadi sulit.
Ketika kritik dibatasi, kesalahan menjadi sulit diperbaiki.
Dalam jangka pendek, sistem ini efektif.
Namun dalam jangka panjang, pertanyaan besar tetap ada.
Apa yang terjadi setelah Putin.
Akhir yang Tak Bisa Dihindari
Seperti semua pemimpin dalam sejarah, kekuasaan memiliki batas.
Bukan selalu karena tekanan politik, tetapi karena faktor yang lebih sederhana.
Waktu.
Putin mungkin berhasil membangun sistem yang kuat.
Namun sistem itu tetap bergantung pada satu hal.
Dirinya sendiri.
Dan ketika waktu itu tiba, Rusia akan memasuki babak baru.
Babak yang belum tentu stabil.
Babak yang akan menentukan apakah sistem yang dibangun selama dua dekade mampu bertahan tanpa figur utamanya.*
Inung R Sulistyo





Bagaimana Vladimir Putin membangun kekuasaan selama lebih dari dua dekade dan berpotensi memimpin hingga 2036.