Tragedi Hercules Kolombia: 69 Tewas, Presiden Petro Semprot Birokrasi Alutsista 'Rongsokan'

  • Ari Kristyono
  • Rabu, 25 Maret 2026 | 15:46 WIB
  • Default Publisher Publish by: Ari Kristyono
Ilustrasi pesawat C-130 Hercules militer Columbia yang jatuh, dibuat dengan bantuan AI
Ilustrasi pesawat C-130 Hercules militer Columbia yang jatuh, dibuat dengan bantuan AI (Foto: Ari Kristyono)

 

RIWARA.ID – Sebanyak 69 orang dilaporkan tewas dalam kecelakaan tragis jatuhnya pesawat angkut militer Lockheed Martin C-130 Hercules milik Angkatan Udara Kolombia di wilayah selatan negara tersebut, Senin (23/3/2026). Pesawat yang mengangkut 126 orang tersebut jatuh dan terbakar hebat hanya sekitar 1,5 kilometer setelah lepas landas dari Puerto Leguizamo, wilayah yang berbatasan dengan Ekuador dan Peru.

Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sanchez, melaporkan bahwa benturan keras saat jatuh memicu ledakan amunisi yang berada di dalam kargo pesawat. Kobaran api langsung melalap badan pesawat tak lama setelah menghantam tanah. Hingga Rabu (25/3/2026), otoritas setempat mengonfirmasi jumlah korban jiwa mencapai 69 personel militer, sementara empat lainnya dinyatakan masih hilang.

Kecelakaan Pesawat Hercules Kolombia ini memicu kemarahan Presiden Gustavo Petro. Melalui media sosialnya, Petro meluapkan rasa frustrasi terhadap kondisi peralatan militer yang dinilai sudah tidak layak. Ia bahkan menjuluki pesawat yang jatuh tersebut sebagai "potongan logam rongsokan".

"Potongan logam rongsokan ini dibeli pada tahun 2020 dan jatuh, mari kita tanyakan me ngapa," tulis Petro dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip The Guardian Rabu (25/3).

Presiden Salahkan Lambannya Birokrasi Peningkatan Alutsista sebagai faktor utama di balik rentetan tragedi udara yang menimpa tentaranya. Menurut Petro, masalah birokrasi yang berbelit telah menghambat upaya pemerintah dalam memperbarui perangkat keras dan pesawat militer yang sudah uzur.

"Saya tidak akan membiarkan penundaan lebih lanjut, nyawa kaum muda kita dipertaruhkan," tegasnya.

Kepala Angkatan Bersenjata Kolombia, Jenderal Hugo Alejandro Lopez Barreto, menyatakan hingga saat ini tidak ada indikasi pesawat jatuh karena serangan kelompok bersenjata ilegal. Kementerian Pertahanan juga menegaskan bahwa insiden murni merupakan kecelakaan teknis, bukan akibat sabotase aktor ilegal.

Peristiwa memilukan ini menambah catatan kelam bagi operator Hercules di Amerika Latin. Sebelumnya, pada 27 Februari 2024, pesawat C-130 Hercules milik Angkatan Darat Bolivia juga jatuh di El Alto dan menewaskan 24 orang setelah melampaui landasan pacu.

Kolombia sendiri telah mengoperasikan varian C-130 sejak akhir 1960-an. Meski sempat menerima unit "model baru" dari Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pembaruan armada tersebut belum cukup untuk menjamin keselamatan personel militer dalam menjalankan misi taktis. (*)

Kecelakaan Pesawat Hercules Kolombia tewaskan 69 orang. Presiden Gustavo Petro salahkan lambannya birokrasi peningkatan alutsista uzur.

Foto Editor
Author : Ari Kristyono

Wartawan sejak era mesin ketik dan sedang terus belajar untuk menjadi jurnalis era digital.

Topic News