Australia Kerahkan Pesawat Mata-Mata ke Teluk Persia, Ketegangan Iran–Israel Kian Memanas

  • Inung R Sulistyo
  • Rabu, 11 Maret 2026 | 02:36 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Pesawat Mata -mata E-7A Wedgetail
Pesawat Mata -mata E-7A Wedgetail (Foto: Royal Australian Air Force)

 

RIWARA.id - Pemerintah Australia memutuskan mengerahkan pesawat peringatan dini udara E-7A Wedgetail ke kawasan Teluk Persia di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah.

Langkah ini diumumkan oleh Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, sebagaimana dilaporkan oleh ABC News.

Pesawat pengintai tersebut akan dikerahkan bersama personel pendukung untuk misi awal selama empat pekan guna membantu operasi pemantauan udara di kawasan yang tengah memanas akibat konflik antara Iran dan Israel.

Informasi ini dikutip Riwara.id pada hari ini, Rabu, 11 Maret 2026 dari kantor berita Rusia, Sputnik.

Mulai Beroperasi Akhir Pekan

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan pesawat E-7A Wedgetail diperkirakan tiba di kawasan Timur Tengah pada pertengahan pekan.

Setelah proses persiapan, pesawat tersebut dijadwalkan mulai menjalankan operasi pemantauan udara pada akhir pekan.

E-7A Wedgetail dikenal sebagai salah satu pesawat peringatan dini dan kendali udara paling canggih yang dimiliki Australia. Pesawat ini mampu mendeteksi pesawat tempur, rudal, serta aktivitas militer dalam radius ratusan kilometer.

Keberadaan pesawat tersebut m emungkinkan koordinasi operasi udara secara real-time di wilayah konflik.

Australia Kirim Rudal ke UEA

Selain mengirim pesawat pengintai, Australia juga mengumumkan rencana memasok rudal udara-ke-udara jarak menengah kepada Uni Emirat Arab.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari dukungan keamanan bagi sekutu di kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, Albanese menegaskan pemerintah Australia tidak memiliki rencana mengirim pasukan tempur ke Iran.

Keputusan tersebut menunjukkan Canberra berupaya menyeimbangkan dukungan militer kepada sekutu tanpa terlibat langsung dalam konflik bersenjata.

Awal Eskalasi Konflik

Ketegangan di kawasan meningkat tajam sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran.

Serangan tersebut dilaporkan menghantam berbagai lokasi strategis, termasuk di ibu kota Iran, Teheran.

Serangan itu menyebabkan kerusakan fasilitas serta menimbulkan korban sipil.

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan balasan ke wilayah Israel dan juga menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Sejak saat itu, ketegangan militer di kawasan terus meningkat.

Khamenei Dilaporkan Gugur

Situasi s emakin dramatis setelah laporan menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei gugur pada hari pertama serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Kematian Khamenei, jika dikonfirmasi secara luas oleh komunitas internasional, berpotensi menjadi titik balik besar dalam politik Iran dan dinamika kekuasaan di Timur Tengah.

Rusia Mengecam Serangan

Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam keras operasi militer tersebut.

Putin menggambarkan pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyerukan deeskalasi segera dan penghentian pertempuran di kawasan Timur Tengah.

Moskow memperingatkan bahwa konflik yang terus meningkat berpotensi memicu ketidakstabilan regional yang lebih luas.

Dunia Waspada

Dengan semakin banyak negara yang mulai terlibat dalam dinamika keamanan kawasan, para analis memperingatkan bahwa konflik Iran–Israel berpotensi berubah menjadi krisis geopolitik yang lebih besar.

Kehadiran pesawat pengintai Australia di Teluk Persia menjadi salah satu indikator bahwa komunitas internasional kini semakin w aspada terhadap kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah.*

 

Australia mengerahkan pesawat mata-mata E-7A Wedgetail ke Teluk Persia di tengah memanasnya konflik Iran–Israel setelah serangan AS dan Israel ke Teheran.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News