RIWARA.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin (16/3/2026) dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia.
Di pasar spot, rupiah ditutup melemah 0,27% ke level Rp16.990 per dolar AS, seiring penguatan indeks dolar Amerika Serikat yang naik ke posisi 100,38.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang relatif beragam. Sejumlah mata uang utama di kawasan masih mampu menguat terhadap dolar AS.
Beberapa mata uang yang tercatat menguat antara lain Yen Jepang, Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, Rupee India, Won Korea Selatan, serta Yuan China.
Sebaliknya, sejumlah mata uang lain ikut melemah bersama rupiah, seperti Baht Thailand, Peso Filipina, Dolar Taiwan, dan Dolar Hong Kong.
Lonjakan Harga Minyak Tekan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari penguatan dolar AS, tetapi juga dari lonjakan harga energi global.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak mentah dunia bergerak naik tajam. Pada pertengahan Februari, harga minyak masih berada di kisaran US$67 hingga US$75 per barel.
Namun menjelang akhir Februari, harga mulai merangkak naik ke kisaran US$75 hingga US$80 per barel.
Lonjakan tajam kemudian terjadi pada awal Maret. Pada 9 Maret, harga minyak dunia bahkan sempat melonjak hingga US$116,78 per barel, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik global dan kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Meski kemudian mengalami koreksi, harga minyak masih bertahan tinggi di sekitar US$100 per barel.
Bagi Indonesia yang masih menjadi net importer energi, kondisi ini memunculkan risiko tambahan terhadap neraca perdagangan energi dan stabilitas nilai tukar.
Risiko Tekanan Fiskal
Kenaikan harga minyak juga meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah.
Pemerintah sebelumnya menegaskan tetap berkomitmen menjaga disiplin anggaran. Prabowo Subianto menyatakan pemerintah hanya akan mempertimbangkan melampaui batas defisit anggaran secara sementara dan dalam kondisi darurat.
Namun tantangan untuk menjaga defisit tetap berada di bawah batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tidaklah mudah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya mengingatkan bahwa mempertahankan batas defisit tersebut berpotensi memerlukan penyesuaian belanja negara yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Situasi menjadi semakin kompleks karena lonjakan harga minyak dunia membuat harga energi jauh melampaui asumsi awal dalam APBN.
Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, jika harga minyak bertahan di atas US$90 per barel dalam jan gka waktu lama, maka defisit anggaran berpotensi melebar hingga 3,6% dari PDB.
Dilema Kebijakan
Di tengah kondisi tersebut, pasar melihat adanya dilema kebijakan bagi pemerintah.
Di satu sisi, pemerintah perlu menjaga disiplin fiskal agar kredibilitas ekonomi tetap terjaga. Namun di sisi lain, pengetatan belanja negara berisiko menekan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Kombinasi antara tekanan eksternal, lonjakan harga energi global, serta ketidakpastian kebijakan fiskal membuat volatilitas rupiah diperkirakan masih akan tetap tinggi dalam waktu dekat.*
Inung R Sulistyo






Nilai tukar rupiah melemah ke Rp16.990 per dolar AS dan menjadi salah satu mata uang terlemah di Asia. Lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar memicu tekanan baru bagi ekonomi Indonesia.