Riwara.id – Ketidakstabilan ekonomi global dengan ditutupnya selat Hormuz bukan hanya dirasakan berbagai negara di dunia, Indonesia juga mulai turut merasakan dampaknya. Salah satunya adalah industri makanan dan minuman di Indonesia.
Tekanan ke industri mamin bukan datang dari konsumsi energi, melainkan dari biaya logistik dan kenaikan harga kemasan plastik yang berbahan dasar minyak.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika mengatakan, industri mamin pada dasarnya bukan kelompok industri padat energi seperti kimia, logam, semen, maupun sektor manufaktur berat lainnya.
"Untuk sisi energinya nggak begitu terasa, sehingga dampak energinya nggak begitu banyak. Mungkin nanti di logistiknya, karena logistik ini berpengaruh pada semuanya," terang Putu seperti dilansir Riwara.id dari laman Kementerian Perindustrian, Minggu, 15 Maret 2026.
Tekanan yang lebih besar datang dari sisi kemasan. Putu mengatakan banyak produk mamin menggunakan kemasan plastik yang berbasis petroleum atau turunan minyak bumi. Ketika harga minyak dan bahan baku petrokimia naik akibat konflik, biaya kemasan untuk mamin ikut naik.
"Nah sebenarnya yang banyak ada dampaknya di industri kami di makanan dan minuman itu adalah kemasannya. Jadi kemasannya, itu biasanya dari plastik. Plastik ini adalah petroleum based plastic," tuturnya.
Dampak kenaikan biaya kemasan ini tidak bisa dianggap kecil karena pada sejumlah produk, porsi biaya kemasan justru lebih besar dalam struktur harga. Ia mencontohkan air minum dalam kemasan (AMDK), di mana nilai kemasannya lebih dominan dibanding isi produknya.
Kondisi ini turut mempengaruhi ongkos produksi industri makanan dan minuman kemasan. Terkait potensi kenaikan harga, Putu menegaskan dampaknya belum langsung terasa saat ini karena produk yang beredar di pasar masih berasal dari stok yang sebelumnya sudah ada.
Putu menambahkan, akan berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, mengingat industri plastik sebagai bahan baku kemasan berada di bawah sektor tersebut. Koordinasi juga dilakukan dengan GAPMMI serta pelaku industri kemasan untuk mencari langkah mitigasi terkait kondisi ekonomi global yang masih belum stabil.***






Penutupan selat Hormuz dampak perang Iran dan Amerika sangat berdampak bagi industri makanan dan minuman di Indonesia