RIWARA.ID – Peringatan pemerintah mengenai dampak penggunaan media sosial secara berlebihan pada anak mendapat perhatian dari para praktisi parenting. Salah satunya disampaikan oleh trainer parenting Fuzna Maszuqoh dari Lembaga Pelatihan Prima Kurnia Mandiri Magelang.
Menurut Fuzna, pandangan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid tentang risiko penggunaan media sosial pada anak patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan generasi muda.
“Pendapat Menteri Komunikasi dan Digital mengenai dampak penggunaan media sosial secara berlebihan pada anak patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan generasi muda,” kata Fuzna Maszuqoh kepada Riwara.id, Sabtu (7/3/2026).
Ia menilai peringatan tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini, ketika anak-anak semakin akrab dengan gawai sejak usia dini.
Teknologi Netral, Cara Menggunakan yang Menentukan
Fuzna menjelaskan bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral. Namun dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
Menurutnya, penggunaan gawai tanpa pengawasan pada anak dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap proses tumbuh kembang.
“Sebagai orang tua dan pendidik, kita perlu memahami bahwa teknologi pada dasarnya adalah alat yang netral. Namun ketika penggunaannya tidak terkontrol, terutama pada anak yang masih dalam tahap perkembangan, dampaknya bisa cukup signifikan,” ujarnya.
Salah satu dampak yang paling terlihat adalah berkurangnya interaksi sosial anak di dunia nyata.
Ketika anak terlalu lama menatap layar gawai, mereka cenderung kehilangan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Padahal, aktivitas seperti bermain bersama teman, berkomunikasi dengan keluarga, hingga eksplorasi lingkungan merupakan bagian penting dalam perkembangan anak.
“Waktu layar yang terlalu lama dapat membuat anak kurang berinteraksi secara langsung dengan lingkungan sekitar. Padahal interaksi sosial, bermain aktif, dan eksplorasi dunia nyata merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Ancaman Adiksi Digital
Selain paparan konten negatif, Fuzna juga menyoroti risiko yang sering tidak disadari oleh banyak orang tua, yakni kecanduan digital.
Ia menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap gawai dapat terjadi bahkan ketika anak mengakses konten yang tergolong aman atau edukatif.
“Bahkan ketika konten yang diakses anak tergolong aman atau edukatif, penggunaan yang berlebihan tetap dapat memicu ketergantungan,” katanya.
Adi ksi digital pada anak biasanya ditandai dengan beberapa perilaku tertentu.
Misalnya anak menjadi mudah gelisah ketika tidak memegang gawai, sulit berkonsentrasi saat belajar, atau kehilangan minat terhadap aktivitas lain.
“Anak bisa menjadi lebih mudah gelisah ketika jauh dari gawai, sulit berkonsentrasi, dan kurang tertarik pada aktivitas lain seperti membaca, bermain di luar, atau berkomunikasi dengan keluarga,” ujarnya.
Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya dapat memengaruhi berbagai aspek perkembangan anak.
Mulai dari kemampuan belajar, perkembangan emosi, hingga keterampilan sosial.
Sejalan dengan Penelitian Parenting Modern
Fuzna menilai pandangan yang disampaikan Menteri Komdigi juga selaras dengan berbagai penelitian tentang perkembangan anak di era digital.
Banyak studi menunjukkan bahwa keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas di dunia nyata sangat penting bagi kesehatan mental anak.
“Pandangan tersebut sejalan dengan banyak penelitian dan pengalaman para praktisi parenting yang menekankan pentingnya keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata bagi anak,” katanya.
Menurutnya, anak tetap membutuhkan aktivitas fisik, permainan kreatif, serta interaksi sosial langsung untuk berkembang secara optimal.
Tanpa keseimbangan tersebut, perkembangan emosional dan sosial anak dapat terhambat.
Peran Orang Tua Menjadi Kunci
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, Fuzna menekankan bahwa peran orang tua menjadi faktor yang paling menentukan.
Pendekatan yang tepat bukan dengan melarang anak menggunakan teknologi sepenuhnya.
Sebaliknya, orang tua perlu mendampingi anak saat menggunakan teknologi dan menetapkan batasan waktu yang sehat.
“Justru di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Bukan dengan melarang teknologi sepenuhnya, tetapi dengan mendampingi, membuat batasan waktu yang sehat, serta memberikan alternatif aktivitas yang merangsang kreativitas dan interaksi sosial,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa teknologi tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar jika digunakan dengan pendekatan yang tepat.
Dengan pengawasan yang baik, anak tetap bisa memperoleh manfaat dari dunia digital tanpa mengorbankan kesehatan mental maupun perkembangan sosial mereka.
Tantangan Baru Pengasuhan di Era Digital
Menurut Fuzna, pernyataan Menteri Meutya Hafid seharusnya menjadi pengingat penting bagi masyarakat bahwa pola pengasuhan anak di era digital membutuhkan kesadaran baru.
Orang tua tidak hanya perlu memastikan anak memiliki kemampuan teknologi.
Lebih dari itu, mereka juga harus memastikan anak berkembang secara mental, sosial, dan emosional.
“Pengasuhan di era digital memerlukan kesadaran baru, yaitu memastikan anak tid ak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga sehat secara mental, sosial, dan emosional,” kata Fuzna.
Ia berharap semakin banyak orang tua yang menyadari pentingnya keseimbangan tersebut, sehingga anak-anak dapat tumbuh sebagai generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki karakter dan kesehatan mental yang kuat.*
Inung R Sulistyo





.jpg)
Peringatan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid soal bahaya penggunaan media sosial berlebihan pada anak mendapat dukungan dari praktisi parenting Fuzna Maszuqoh. Kebijakan penundaan akses platform digital hingga usia 16 tahun dinilai penting untuk mencegah adiksi gadget dan melindungi kesehatan mental anak.