Usia Berapa Anak Aman Puasa Penuh? Dokter Anak Ungkap Tanda Bahaya, Risiko Dehidrasi, dan Cara Melatih Tanpa Trauma

  • Windy Anggraina
  • Selasa, 17 Februari 2026 | 19:54 WIB
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina

Riwara.id - Setiap Ramadan, pertanyaan klasik kembali muncul di kalangan orang tua: sebenarnya usia berapa anak sudah aman menjalani puasa penuh? Apakah puasa bisa mengganggu tumbuh kembang? Dan bagaimana jika anak terlihat lemas atau sulit konsentrasi saat sekolah?

Dokter Spesialis Anak, dr. Oktora Wahyu Wijayanto, Sp.A, M.Kes, menjelaskan bahwa secara medis tidak ada batasan usia tegas yang menyatakan kapan anak benar-benar “aman” berpuasa satu hari penuh.

“Kalau dikatakan aman dalam arti puasa full satu hari, sebenarnya tidak ada batasan usia yang tegas. Secara teori anak bahkan bisa bertahan tanpa makan minum 24–48 jam, meski tentu akan muncul gejala seperti lemas dan gelisah. Bahkan ada sumber yang menyebut 3–5 hari. Tapi itu bukan konteks puasa yang sehat,” jelas dr. Oktora kepada Riwara.id, Selasa, 17 Februari 2026.

Baca juga: Cek 5 Tips Cara Jaga Kesehatan di Bulan Ramadhan Agar Puasa Berjalan Lancar dan Tubuh Bugar

Usia Ideal Anak Mulai Puasa Penuh

Menurutnya, dalam perspektif pendidikan agama, anak mulai dibiasakan sholat pada usia 10 tahun. Di usia inilah, menurut pendapatnya, anak sudah mulai bisa diarahkan untuk mencoba puasa penuh.

Namun, proses menuju puasa penuh tidak bisa instan.

“Anak sebaiknya dikenalkan puasa sejak dini, saat sudah bisa komunikasi dua arah dengan orang tua. Diajak sahur, diajak be rbuka, lalu mulai puasa sekuatnya. Bisa dimulai puasa bedug, puasa sampai dhuhur, lalu bertahap hingga akhirnya mampu puasa penuh,” ujarnya.

Pendekatan bertahap ini penting agar anak tidak merasa terpaksa atau trauma.

Tanda Anak Belum Kuat Puasa

Orang tua juga perlu memahami tanda-tanda klinis bahwa anak belum kuat berpuasa dan sebaiknya segera membatalkan.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai:

Kelemahan berlebihan

Gelisah ekstrem

Pusing berat

Pingsan

Meski demikian, pada anak yang aktif, kondisi berat jarang terjadi karena perhatian mereka biasanya teralihkan oleh aktivitas.

“Kalau muncul gejala seperti pingsan atau sangat lemas, tentu puasa harus dibatalkan,” tegasnya.

Apakah Puasa Mengganggu Tumbuh Kembang?

Banyak orang tua khawatir puasa akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Namun dr. Oktora menegaskan bahwa secara umum puasa tidak berdampak negatif jika dilakukan dengan benar dan terkontrol.

“Karena ada sahur dan berbuka, kecukupan energi dan protein tetap bisa terpenuhi untuk mendukung metabolisme dan pertumbuhan mereka,” jelasnya.

Bahkan, jika proses pendidikan puasa dilakukan dengan baik, justru dapat memberi nilai tambah dalam pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kontrol diri anak.

Kenapa Anak Jadi Lemas dan Sulit Konsentrasi?

Menurut dr. Oktora, anak yang tampak le bih lemas saat puasa biasanya kurang memiliki aktivitas yang mengalihkan perhatian. Terlalu banyak bermain game atau hanya berdiam diri di rumah bisa membuat rasa lapar lebih terasa.

Baca juga: Pendaftaran SMA Unggul Garuda Tahun Ajaran 2026 2027 Resmi Dibuka, Cek Syaratnya di Sini!

Sementara itu, sulit konsentrasi di sekolah sering kali terjadi karena anak tidak sahur.

“Kalau tidak ada asupan makanan pagi hari, tentu konsentrasi menurun. Karena itu sahur sangat penting,” tegasnya.

Peran orang tua dalam membiasakan anak bangun sahur dan memberi contoh sangat besar dalam keberhasilan puasa anak.

Menu Sahur Terbaik Agar Anak Kuat Seharian

Terkait menu sahur, dr. Oktora menyarankan prinsip gizi seimbang.

“Menu sahur yang baik adalah 4 sehat 5 sempurna, cukup kalori dan protein. Protein terutama akan menahan lapar lebih lama, seperti daging, tahu, tempe. Dan tentu cukup minum,” jelasnya.

Untuk mencegah dehidrasi, kebutuhan cairan anak selama malam hari harus tercukupi, minimal 1,5 hingga 2 liter antara waktu berbuka hingga sahur. Cairan bisa berupa air putih, susu, atau teh.

Bolehkah Anak Puasa Saat Batuk Pilek?

Untuk kondisi batuk pilek ringan tanpa demam tinggi, puasa bukanlah halangan.

Namun, jika anak mengalami:

Demam tinggi

Muntah

Diare

Lemas berat

Maka puasa sebaiknya tidak dipaksakan karena bisa memperburuk kondisi.

Kesalahan Orang Tua Saat Melatih Anak Puasa

Menurut dr. Oktora, kesalahan paling sering dilakukan orang tua adalah tidak sabar dan tidak menghormati proses.

“Sering kali orang tua membandingkan anaknya dengan anak lain. Ini yang berbahaya. Jangan pernah membandingkan. Berikan pujian atas apa pun yang sudah dicapai anak,” tegasnya.

Memaksa anak di luar kemampuannya justru bisa menimbulkan trauma dan membuat anak enggan berpuasa di kemudian hari.

Pesan Dokter: Buat Ramadan Jadi Momen Spesial

Agar anak semangat berpuasa tanpa merasa tertekan, orang tua perlu menciptakan suasana Ramadan yang menyenangkan.

“Orang tua harus memberi contoh yang baik, menceritakan keberkahan Ramadan sejak sebelum bulan itu datang. Saat Ramadan, usahakan sahur dan berbuka bersama, ajak tarawih. Buat Ramadan menjadi bulan yang spesial di keluarga,” pesannya.

Menurut dr. Oktora, keberhasilan anak berpuasa sebulan penuh adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan penghargaan dari orang tua.

“Yang paling penting, hargai apa pun yang sudah dicapai anak kita. Itu akan berdampak sangat besar bagi tumbuh kembang mereka,” pungkasnya.***

Dokter anak dr. Oktora Wahyu jelaskan usia aman anak puasa, tanda bahaya, menu sahur terbaik, dan tips agar tumbuh kembang tetap optimal

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News