PAMEKASAN, RIWARA.id – Rombongan resmi utusan Raja Pakubuwono XIV Hangabehi dari Karaton Surakarta Hadiningrat melakukan kirab napak tilas sejarah ke Pamekasan, Madura pada Senin 16 Februari 2026.
Acara itu merupakan sebuah perjalanan yang sarat makna dinasti, budaya, dan legitimasi sejarah.
Rombongan tersebut dipimpin oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari, yang dikenal sebagai Gusti Moeng, selaku Pengageng Sasana Wilapa Karaton Surakarta Hadiningrat sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), dan bertindak sebagai utusan resmi Raja PB XIV Hangabehi.
Rombongan utusan karaton ini terdiri dari berbagai unsur penting internal karaton, antara lain:
Sentono Dalem dari berbagai perwakilan trah raja, mulai dari garis keturunan PB XIII hingga PB XIV
Abdi dalem garap sebagai pelaksana operasional adat dan budaya karaton
Abdi dalem prajurit sebagai simbol penjaga kehormatan dan tradisi militer karaton
Ulama Karaton Surakarta sebagai penjaga nilai spiritual dan tradisi keagamaan dinasti
Kehadiran lengk ap unsur dinasti, adat, militer tradisional, dan ulama karaton menegaskan bahwa kirab napak tilas ini merupakan misi resmi dan sakral Karaton Surakarta Hadiningrat.
“Ini bukan sekadar perjalanan budaya, tetapi penyambung sejarah dan penguat identitas antara Karaton Surakarta dan Madura,” tegas Gusti Moeng.
Pernikahan Dinasti Abad ke-18, Awal Masuknya Darah Madura ke Tahta Surakarta
Hubungan antara Karaton Surakarta dan Madura berakar pada masa pemerintahan Paku Buwono IV pada akhir abad ke-18.
Saat masih menjadi Putra Mahkota, beliau dinikahkan dengan putri Adipati Cakra Adi Ningrat dari Pamekasan. Pernikahan ini menjadi titik penting dalam sejarah suksesi Karaton Surakarta.
Setelah permaisuri pertama wafat, Paku Buwono IV kembali mempersunting adik sang permaisuri yang juga berasal dari trah Cakra Adi Ningrat Madura.
Dari garis keturunan permaisuri berdarah Madura inilah lahir raja-raja penting Surakarta, yakn i :
Paku Buwono V
Paku Buwono VI
Paku Buwono IX
Fakta sejarah ini menegaskan bahwa darah Madura bukan sekadar bagian simbolik, tetapi menjadi bagian langsung dari garis suksesi tahta Karaton Surakarta Hadiningrat.
Sejarah juga mencatat pengasingan Paku Buwono VI oleh pemerintah kolonial Belanda ke Ambon, yang semakin mempertegas pentingnya garis keturunan dari permaisuri berdarah Madura dalam kesinambungan dinasti.
Warisan Budaya Keraton: Serimpi Ludiro Madhu
Penghormatan Paku Buwono IV terhadap permaisuri berdarah Madura tidak hanya tercermin dalam garis keturunan, tetapi juga dalam karya budaya karaton.
Beliau menciptakan tarian sakral Serimpi Ludiro Madhu, yang menjadi simbol penghormatan terhadap darah Madura dan bagian dari identitas budaya Karaton Surakarta.
Karya budaya ini menjadi bukti bahwa hubungan Surakarta dan Madura tidak hanya bersifat genealogis dan politik, tetapi juga tertanam dalam tradisi seni dan spiritual karaton.
Misi Resmi Utusan Raja PB XIV: Menyambung Memori Dinasti
Kirab napak tilas ini melibatkan sekitar 65 orang, terdiri dari satu bus utama dan empat kendaraan pendukung.
Perjal an an dimulai dari Rumah Wakil Bupa ti Pamekasan dan merupakan kelanjutan dari napak tilas yang telah dilakukan sejak enam tahun terakhir.
Menurut Gusti Moeng, perjalanan ini membawa misi penting Karaton Surakarta, yakni:
Menyambung kembali hubungan sejarah dinasti
Menghormati leluhur dan garis keturunan karaton
Menguatkan identitas budaya dan sejarah lintas wilayah
Menjaga kesinambungan tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat
Sebagai bagian dari misi sejarah tersebut, Gusti Moeng juga menyerahkan hasil alih aksara dan alih bahasa naskah kuno perjalanan utusan Karaton Surakarta ke Pamekasan kepada Pemerintah Kabupaten Pamekasan.
Dokumen tersebut kini menjadi referensi resmi sejarah hubungan Surakarta dan Madura.
Menuju Pengakuan sebagai Agenda Budaya Resmi
Pemerintah Kabupaten Pamekasan menyatakan keinginan untuk menjadikan kirab napak tilas utusan Raja PB XIV Hangabehi sebagai bagian dari kalender event resmi daerah.
Jika ditetapkan secara resmi, kegiatan ini akan menjadi tonggak penting dalam pengakuan hubungan historis antara Karaton Surakarta dan Madura.
Bagi Karaton Surakarta, momentum ini merupakan bagian dar i u paya menjaga kesinamb ungan sejara h dinasti dan identitas budaya.
“Ini adalah penyambung sejarah, bukan hanya bagi Karaton Surakarta, tetapi bagi sejarah Nusantara,” ujar Gusti Moeng.
Simbol Kesinambungan Otoritas dan Identitas Karaton Surakarta
Kirab napak tilas utusan Raja PB XIV Hangabehi ke Pamekasan menjadi simbol nyata kesinambungan sejarah Karaton Surakarta Hadiningrat yang telah berlangsung lebih dari dua abad.
Kehadiran sentono dalem, abdi dalem, prajurit karaton, dan ulama dalam rombongan tersebut menegaskan bahwa perjalanan ini bukan sekadar kegiatan budaya, melainkan bagian dari misi dinasti untuk menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali sejarah karaton.
Utusan resmi Raja PB XIV Hangabehi dipimpin Gusti Moeng melakukan napak tilas ke Pamekasan, melibatkan sentono dalem, abdi dalem, prajurit, dan ulama Karaton Surakarta.