Tak Seindah yang Dibayangkan, Pengusaha Ritel Justru Berpikir Keras Soal Nasib Penjualan Pasca Puasa dan Lebaran 2026

  • Windy Anggraina
  • Sabtu, 14 Februari 2026 | 13:07 WIB
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina
Ilustrasi UMKM
Ilustrasi Ritel (Foto: freepik)

 

Rieara.id Momentum puasa dan leebaran jadi momentum yang paling dinanti nanti para pengusaha ritel. Momen ini banyak konsumen mencari pakaian lebaran dan kebutuhan lainnya. Namun, dibalik euforia itu ternyata para pengusaha ritel juga menyimpan banyak kekhawatiran setelah puasa dan lebaran usai.

Bagi banyak peritel, masa inilah yang dianggap sebagai fase paling menantang dalam satu tahun kalender bisnis.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo),Solihin menggambarkan periode pasca-Lebaran sebagai fase penurunan konsumsi yang tidak sebentar. Ia menyebut jarak menuju musim belanja berikutnya, yakni Natal dan Tahun Baru (Nataru), terasa panjang dan berisiko bagi arus kas usaha.

Baca juga: Pendaftaran SMA Unggul Garuda Tahun Ajaran 2026 2027 Resmi Dibuka, Cek Syaratnya di Sini!

"Nah tinggal para peritel mikirin, sehabis Ramadan, sehabis Idulfitri, ya, masa pasifnya agak jauh. Kita menyebutnya panjang dan dalam karena ketemu lagi nanti di Nataru. Nah itulah ujian yang sebenarnya sebetulnya. Nah mudah-mudahan nanti teman-teman peritel sudah mempunyai strategi tertentu untuk menghadapi masa yang panjang dan dalam nantinya, mudah-mudahan," ujarnya, seperti dikutip Riwara.id dari laman apindo.or.id , Sabtu, 14 Februari 2026.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Setelah lonjakan penjualan saat Ramadan dan Lebaran, pola konsumsi masyarakat umumnya kembali normal bahkan cenderung melambat. Kondisi ini membuat pengelolaan stok, promosi, hingga perencanaan keuangan menjadi penentu apakah bisnis ritel bisa tetap stabil atau justru terpukul.

Di sisi lain, Solihin menegaskan bahwa persiapan menghadapi Ramadan sebenarnya telah dilakukan jauh hari oleh para pelaku usaha. Menurutnya, momen tahunan tersebut bukan kejutan sehingga antisipasi pasokan barang dan distribusi logistik telah disusun sejak awal.

"Ada yang menanyakan bagaimana persiapan para peritel dalam menghadapi Ramadan dan Lebaran? Saya pastikan karena Ramadan dan Lebaran datangnya enggak mendadak. Jarang orang bilang 'Eh besok Ramadan' gitu. Artinya sudah sekian lama sebelumnya sudah tahu dan antisipasi soal stok, dan Menteri Perdagangan juga sudah mengundang kita dalam hal ini untuk memastikan persediaan stok Lebaran itu bisa cukup. Insyaallah dengan kondisi yang saat ini logistik lancar khususnya ya, walaupun di beberapa tempat masih ada kendala," tuturnya.

Baca juga: ALHAMDULILAH! Pemerintah Akan Tambah Jumlah KPM Bansos Pangan Jadi 33,2 Juta Orang Periode Februari sampai Maret 2026

Koordinasi antara pemerintah, pusat perbelanjaan, pasar rakyat, dan pelaku usaha disebut menjadi kunci menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan barang tersedia merata di berbagai daerah. Gerakan bersama ini bukan hanya untuk mengamankan suplai, tetapi juga menjaga daya beli agar tidak tergerus tekanan ekonomi global.< /span>

Optimisme pelaku usaha terhadap kuartal pertama setiap tahun juga didorong oleh faktor musiman yang hampir selalu menciptakan permintaan tinggi. Konsumsi rumah tangga menjadi mesin utama pergerakan ekonomi nasional, terutama ketika Ramadan dan Idulfitri berdekatan dengan periode awal tahun anggaran.***

Momentum puasa dan leebaran jadi momentum yang paling dinanti nanti para pengusaha ritel. Momen ini banyak konsumen mencari pakaian lebaran dan kebutuhan lainnya. Namun, dibalik euforia itu ternyata para pengusaha ritel juga menyimpan banyak kekhawatiran setelah puasa dan lebaran usai

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News