Puasa Bikin Tenggorokan Kering dan Mimisan? Dokter THT RSUD Dr. Moewardi Ungkap Fakta Medisnya

  • Windy Anggraina
  • Selasa, 17 Februari 2026 | 19:46 WIB
  • Default Publisher Publish by: Windy Anggraina

Riwara.id , Surakarta, Selasa 17 Februari 2026 – Keluhan tenggorokan kering, suara serak, hingga mimisan kerap muncul saat menjalani ibadah puasa. Tak sedikit masyarakat mengaitkannya langsung dengan puasa. Namun benarkah puasa menjadi penyebab utama gangguan Telinga Hidung Tenggorok (THT)?

Dokter spesialis THT-KL Konsultan Onkologi di RSUD Dr. Moewardi Surakarta, dr. Ahmad Nurdiansyah, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp. Onko (K), FICS, menegaskan bahwa puasa pada dasarnya tidak secara langsung menyebabkan radang tenggorokan maupun mimisan.

“Puasa tidak menyebabkan radang tenggorokan. Yang sering terjadi adalah penurunan asupan cairan dalam waktu cukup panjang sehingga mukosa tenggorokan menjadi lebih kering,” jelas dr. Ahmad kepada Riwara.id, Selasa, 17 Februari 2026.

Baca juga: INFO PENTING! Pemerintah Resmi Tetapkan Libur Awal Ramadan 2026, Anak Sekolah Libur 1 Minggu

Menurutnya, mukosa yang kering akan lebih sensitif terhadap berbagai iritasi seperti udara ber-AC, polusi, kebiasaan berbicara lama, hingga refluks asam lambung. Pada individu dengan riwayat faringitis kronis atau GERD, keluhan bisa terasa lebih berat saat puasa.

“Jadi yang memperparah bukan puasanya, melainkan kondisi dehidrasi relatif dan faktor predisposisi yang sudah ada sebelumnya,” tegasnya.

Pita Suara Rentan Saat Tubuh Kurang Cairan

Bagi pekerja yang banyak berbicara seperti guru, dosen, tenaga medis, hingga pembawa acara, kondisi dehidrasi saat puasa dapat berdampak pada kualitas suara. Pita suara sangat bergantung pada hidrasi optimal agar dapat bergetar dengan baik.

Saat tubuh kekurangan cairan, lapisan mukosa pita suara menjadi lebih kental dan kurang elastis. Akibatnya, suara lebih cepat lelah, timbul rasa serak, tenggorokan terasa mengganjal, bahkan risiko mikrotrauma pada pita suara meningkat.

Untuk mencegah hal tersebut, dr. Ahmad menyarankan agar masyarakat mengoptimalkan hidrasi saat sahur dan berbuka, menghindari konsumsi kafein berlebihan, mengurangi kebiasaan clearing throat, serta memperhatikan teknik vokal yang baik.

Benarkah Puasa Memicu Mimisan?

Mimisan atau epistaksis ringan memang dapat lebih mudah terjadi jika mukosa hidung dalam kondisi kering, terutama di area pleksus Kiesselbach. Namun, puasa bukan penyebab langsung mimisan.

Faktor yang lebih dominan antara lain paparan udara kering atau AC, kebiasaan mengorek hidung, alergi, serta hipertensi yang tidak terkontrol.

“Pada individu dengan mukosa sensitif, kurangnya hidrasi bisa memperburuk kekeringan hidung dan meningkatkan risiko mimisan ringan,” ujar dr. Ahmad.

Tips Aman Puasa bagi Penderita Sinusitis

Bagi pasien dengan sinusitis kronis, menjaga ventilasi sinus tetap baik menjadi kunci kenyamanan saat puasa. Beberapa langkah yang disarankan antara lain melakukan irigasi hidung dengan larutan saline setelah berbuka dan sebelum sahur, menghindari paparan debu serta alergen, mencukupi cairan saat tidak berpuasa, dan menghindari makanan pemicu refluks.

Jika sedang mengalami fase eksaserbasi akut seperti nyeri wajah hebat, demam, atau produksi sekret purulen berlebihan, pasien sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memaksakan diri berpuasa.

Baca juga: SIAP-SIAP! Pemerintah Atur Penyaluran LPG 3 Kilogram Tahun 2026, Benarkah Pembeli Gas LPG 3 Kilogram Harus Menunjukkan KTP?

Penggunaan Nasal Spray Saat Puasa

Terkait penggunaan obat semprot hidung, dr. Ahmad menjelaskan bahwa secara medis nasal spray bekerja lokal pada mukosa hidung dan sangat minimal masuk ke sistem pencernaan bila digunakan dengan teknik yang benar.

Secara klinis, penggunaan steroid intranasal, saline spray, maupun dekongestan dengan pengawasan dokter umumnya aman dan tidak memberikan dampak sistemik signifikan. Namun dari sisi fikih terdapat perbedaan pendapat ulama, sehingga pasien disarankan mengikuti panduan otoritas keagamaan yang diyakini.

Bedakan Tenggorokan Kering dan Infeksi

Tenggorokan kering akibat puasa biasanya tidak disertai demam, tidak ada nyeri menelan berat, tidak terdapat pembesaran kelenjar leher signifikan, dan tidak muncul bercak putih pada tonsil.

Sebaliknya, infeksi umumnya disertai demam, nyeri menelan progresif, badan lemas, batuk atau pilek, serta pada kasus tonsilitis dapat ditemukan eksudat.

“Jika keluhan menetap lebih dari tiga hari atau memburuk, sebaiknya dilakukan evaluasi medis,” tegasnya.

Kapan Sebaiknya Tidak Memaksakan Puasa?

Dr. Ahmad menekankan bahwa ada kondisi tertentu yang sebaiknya mempertimbangkan untuk tidak berpuasa, seperti demam tinggi, infeksi bakteri akut yang memerlukan antibiotik terjadwal, dehidrasi signifikan, nyeri berat yang membutuhkan analgesik rutin, hingga vertigo akut berat.

“Dalam prinsip medis, keselamatan dan pemulihan pasien adalah prioritas. Kesehatan adalah amanah yang harus dijaga,” ujarnya.

Pola Sahur dan Berbuka untuk Kesehatan THT

Untuk menjaga kesehatan tenggorokan dan saluran napas atas selama Ramadan, masyarakat dianjurkan mencukupi cairan sekitar 1,5–2 liter yang dibagi antara waktu berbuka dan sahur. Selain itu, hindari gorengan berlebihan, batasi makanan terlalu pedas dan asam, kurangi kafein, konsumsi buah tinggi air seperti semangka, melon, dan pir, serta tidak langsung tidur setelah makan besar guna mencegah refluks.

Menurut dr. Ahmad, puasa pada dasarnya aman bagi saluran napas atas jika dilakukan secara bijak dan disertai manajemen kesehatan yang baik.

“Hidrasi optimal, kontrol penyakit kronis seperti alergi, sinusitis, dan GERD, serta tidak menunda konsultasi bila gejala berat muncul adalah kunci agar Ramadan tetap sehat,” pungkasnya.***

Dokter THT RSUD Dr. Moewardi ungkap fakta puasa, radang tenggorokan, mimisan, dan tips aman Ramadan

Foto Default
Author : Windy Anggraina

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News