RIWARA.ID, JAKARTA - Kabar wafatnya Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, pada Senin, 2 Maret 2026 di RSPAD Gatot Soebroto, menyisakan duka mendalam. Namun di balik kepergiannya, tersimpan pesan kebangsaan yang kini terasa seperti wasiat terakhirnya untuk republik.
Sebagaimana dikutip Riwara.id pada hari ini dari laman resmi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (bpip.go.id), Try Sutrisno pernah menegaskan bahwa Pancasila harus menjadi basis sekaligus orientasi dalam penyusunan arah kebijakan Pembinaan Ideologi Pancasila.
“Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup perlu menjadi basis sekaligus orientasi dalam menyusun arah kebijakan Pembinaan Ideologi Pancasila,” tegasnya dalam sebuah Forum Group Discussion di Tangerang Selatan.
Kini, setelah ia berpulang, pernyataan itu terasa lebih dari sekadar pandangan seorang negarawan senior. Ia seperti meninggalkan pesan moral untuk bangsa yang tengah bergerak di era penuh turbulensi.
Mengingat Akar Sejarah BPUPKI dan Soekarno
Dalam forum tersebut, Try merujuk kembali pada sejarah sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Ind onesia (BPUPKI), tempat dasar negara dirumuskan. Ia menekankan bahwa Soekarno adalah tokoh yang mengulas dasar negara secara komprehensif dalam sidang tersebut.
Bagi Try, memahami sejarah bukan nostalgia, melainkan cara menjaga arah bangsa agar tidak tercerabut dari fondasi ideologinya.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak hidup dalam ruang kosong. Dunia bergerak cepat. Globalisasi nasional dan internasional menghadirkan perubahan besar yang mengandung peluang sekaligus tantangan.
Karena itu, Pancasila yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 harus menjadi pondasi dan benteng pertahanan bangsa.
Pancasila Bukan Milik Pemerintah Semata
Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Benny Susetyo, menegaskan bahwa Pancasila bukan milik pemerintah, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia secara individu.
Pandangan ini sejalan dengan sikap Try Sutrisno: ideologi negara harus hidup dalam kesadaran rakyat, termasuk dalam menghadapi era digitalisasi dan tantangan etika di ruang publik virtual.
Relevansi Setelah Kepergian
Perjalanan hidup Try Sutrisno membentang dari kurir perang di masa revolusi, Panglima ABRI, hingga mendampingi Soeharto sebagai Wakil Presiden periode 1993–1998.
Namun di penghujung pengabdiannya, ia kembali pada fondasi: ideol ogi bangsa.
Di tengah polarisasi politik, arus informasi yang liar di media sosial, dan perubahan geopolitik global, pesan tentang Pancasila sebagai jangkar dan benteng bangsa terasa semakin relevan.
Kini, seorang prajurit telah berpulang.
Tetapi gagasan yang ia suarakan tentang Pancasila sebagai dasar dan arah kebijakan negara tetap menjadi refleksi bagi generasi penerus republik.
Bangsa Indonesia berduka.
Dan di tengah duka itu, pesan terakhirnya tentang Pancasila menggema lebih kuat dari sebelumnya.*
Inung R Sulistyo






Wafatnya Wakil Presiden ke-6 RI Try Sutrisno menyisakan pesan kebangsaan tentang Pancasila sebagai benteng bangsa. Dikutip dari BPIP, ini wasiat ideologinya sebelum berpulang.