Timur Tengah Memanas, Rupiah Tertahan di Rp16.798/US$ Sinyal Tekanan Lebih Besar?

  • Inung R Sulistyo
  • Senin, 02 Maret 2026 | 07:50 WIB
  • Default Publisher Publish by: Inung R Sulistyo
Rupiah offshore hanya menguat tipis di pasar NDF saat dolar AS dan harga minyak melonjak, risiko inflasi global kembali menghantui.
Rupiah offshore hanya menguat tipis di pasar NDF saat dolar AS dan harga minyak melonjak, risiko inflasi global kembali menghantui. (Foto: Riwara.id)

RIWARA.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) sempat menguat pada awal perdagangan Senin (2/3/2026). Namun penguatan itu cepat terkikis.

Rupiah offshore dibuka naik 0,14%, tetapi hanya menyisakan kenaikan 0,03% ke level Rp16.798/US$. Pergerakan ini mencerminkan sentimen global yang masih rapuh di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

Pasar NDF sendiri kerap menjadi barometer awal persepsi investor global terhadap aset Indonesia, terutama saat pasar domestik belum aktif sepenuhnya.

Baca juga: Perang Timur Tengah Guncang Pasar! Minyak Melonjak 13%, Saham AS dan Asia Tersungkur

Dolar AS Menguat, Mata Uang Asia Tertekan

Lonjakan ketegangan geopolitik mendorong investor kembali memburu dolar AS sebagai aset safe haven.

Indeks dolar AS tercatat menguat 0,31% ke level 97,9 pagi ini. Dampaknya, hampir seluruh mata uang Asia berada di zona merah:

Dolar Singapura -0,28%

Yen Jepang -0,26%

Yuan offshore -0,18%

Penguatan dolar ini menambah tekanan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Ba ca juga: Starmer Izinkan AS Gunakan Pangkalan Inggris untuk Hancurkan Gudang Rudal Iran, Dunia dalam Siaga

Ancaman Minyak US$80–108 per Barel

Kekhawatiran pasar kini tertuju pada Selat Hormuz — jalur strategis yang dilalui sekitar 20% aliran minyak global.

Jika konflik berkepanjangan dan jalur tersebut benar-benar terganggu, harga minyak mentah berpotensi menembus US$80 per barel. Bahkan dalam skenario ekstrem, proyeksi harga bisa melonjak hingga US$108 per barel.

Lonjakan minyak bukan hanya soal energi, tetapi juga ancaman inflasi global yang sempat mereda dalam beberapa bulan terakhir.

Baca juga: 3 Tentara AS Tewas, Operasi Serangan ke Iran Terus Berlanjut

Risiko Berlapis bagi Indonesia

Jika harga minyak bertahan tinggi, dampaknya bagi Indonesia bisa signifikan:

1. Tekanan Eksternal

Impor migas berpotensi meningkat, memperlebar defisit transaksi berjalan.

2. Tekanan Inflasi

Harga energi yang tinggi bisa memicu imported inflation, terutama jika rupiah melemah lebih lanjut.

3. Ruang Kebijakan Terbatas

Ekspektasi suku bunga global bisa kembali naik, mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter domestik.

Obligasi & Arus Modal Ikut Terancam

Dalam fase risk-off global, investor asing cenderung mengurangi eksposur pada surat utang negara berkembang.

Jika imbal hasil US Treasury naik akibat tekanan infla s i global, selisih yield (spread) dengan Surat Utang Negara (SUN) Indonesia bisa menyempit. Kondisi ini berpotensi memicu arus keluar modal dan mendorong kenaikan yield domestik.

Baca juga: Trump Tegaskan Serangan ke Iran Terus Berlanjut, Akui Korban Jiwa dan Peringatkan Eskalasi

Pekan Penentuan untuk Rupiah

Dengan kombinasi dolar yang menguat, harga minyak melonjak, serta investor global yang berburu aset safe haven, rupiah berisiko berada dalam pusaran tekanan eksternal sepanjang pekan ini.

Penguatan tipis di pasar offshore menjadi sinyal bahwa sentimen global masih mendominasi arah pergerakan rupiah.

Jika ketegangan geopolitik tidak mereda dalam waktu dekat, volatilitas di pasar valas dan obligasi domestik berpotensi meningkat.*

 

Rupiah di NDF menguat tipis ke Rp16.798/US$. Dolar AS naik, minyak terancam tembus US$80–108 akibat konflik Timur Tengah.

Foto Editor
Author : Inung R Sulistyo

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

Topic News